Hard NewsHeadlineHukum

2 Anak di Bawah Umur Jadi PSK Online dengan Dibantu 4 Temannya di Samarinda Lewat MiChat

2 Anak di Bawah Umur Jadi PSK Online dengan Dibantu 4 Temannya di Samarinda Lewat MiChat
Empat remaja diamankan di Polres Samarinda lantaran kedapatan memperdagangkan anak di bawah umur. (Istimewa)

2 anak di bawah umur jadi PSK online dengan dibantu 4 temannya di Samarinda lewat MiChat Para pelaku menjajalkan para korban yang tak lain adalah teman mereka sendiri kepada para peria hidung belang dengan secara online lewat aplikasi MiChat.

Akurasi.id, Samarinda – Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Samarinda, berhasil mengungkap kasus Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yakni seorang gadis remaja di bawah umur di Samarinda.

Sebanyak empat tersangka diciduk polisi di dua lokasi berbeda dalam perkara itu pada Minggu (25/10/2020) lalu. Para tersangka ini merupakan warga Kota Tepian – sebutan Samarinda, masing-masing berinisial GN, RH, AC dan FB. Seluruhnya diketahui masih berusia 18 tahun.

Baca Juga  Rilis Hasil Survei Pilkada Kutim, Lembaga SDI Tidak Punya Izin KPU, Dianggap Melanggar dan Ilegal

Keempat ABG itu diamankan petugas kepolisian lantaran terbukti bertindak sebagai mucikari dengan menjajakan dua gadis remaja di bawah umur dengan usia 15 dan 16 tahun, sebagai pekerja seks komersial (PSK) kepada pria hidung belang lewat media sosial (medsos).

Kepala Unit (Kanit) PPA Satreskrim Polres Samarinda, Iptu Teguh Wibowo mengatakan, seluruh tersangka berhasil diringkus di dua lokasi berbeda, yakni di Samarinda dan Balikpapan.

“Kami menangkap keempat pelaku karena diduga melakukan tindak pidana perdagangan orang yakni dua gadis remaja untuk dijajakan kepada pria hidung belang,” sebut Iptu Teguh saat dikonfirmasi Jumat siang (30/10/2020).

Teguh membeberkan, motif eksploitasi yang dilakukan keempat mucikari ini ialah dengan cara menawarkan kedua korbannya kepada para penikmat seks usia dini melalui aplikasi pesan MiChat.

“Perannya mereka menghubungkan dengan penikmatnya menggunakan jasa prostitusi online, melalui aplikasi Michat, ditawarkan apabila ada yang berminat kemudian dia menawar,” ungkapnya.

Dia menerangkan, para tersangka biasa mematok harga sebesar Rp400-800 ribu dalam sekali menjajahkan korbannya. Dan dari hasil itu, mereka biasanya mendapatkan fee sebesar Rp100-300 ribu.

“Motif pelaku karena kebutuhan ekonomi, sehingga memanfaatkan anak-anak di bawah umur ini,” lanjutnya.

Untuk lokasi eksekusi esek-esek tergantung keinginan si pelanggan. Namun kebanyakan dilakukan di hotel kelas melati. Praktik prositusi ini sudah berlangsung sejak awal Oktober lalu. Dengan kedua korban yang masih di bawah umur usia 14 dan 16 tahun.

“Satu masih sekolah dan satu sudah putus sekolah. Tersangka dan korban hubungannya pertemanan saja. Semuanya ini sama-sama, idenya mereka berbarengan. Jadi masing-masing tersangka ini saling memasarkan. Siapa yang duluan laku itulah yang mengambil keuntungannya,” terangnya.

Polisi berpangkat dua balok emas itu, mengungkapkan kronologis pengungkapan kasus tersebut. Berawal dari laporan seorang pria berinisial RN, mencari anaknya AM yang kabur dari rumah selama dua minggu.

“Anak ini (AM) memang ada riwayat broken home. Keluarga kepikiran karena tidak pulang, kemudian dicariin. Ditanyakan kepada temannya AM, dan ditemukanlah dia ada di Balikpapan,” kata Teguh.

Dibantu beberapa rekannya, RN pun berhasil menemukan keberadaan anaknya disebuah lobi hotel di Balikpapan. Di sana AM sedang bersama ketiga tersangka yakni GN, RH dan AC berjenis kelamin laki-laki. Di antara mereka ada satu korban yang baru saja melakukan transaksi bersama pria langganannya.

“Jadi mereka di hotel itu sedang menunggu salah satu korban, tidak kami sebut namanya, jadi intinya korban itu baru saja melayani tamunya. Ini hasil transaksi ketiga tersangka,” kata Teguh.

Mengetahui perihal itu, RN kemudian berinisiatif membawa AM beserta tiga tersangka dan satu korban ke Mapolres Samarinda. Setelah dilakukan pelaporan, Satreskrim Polres Samarinda melalui unit PPA segera melakukan penyelidikan.

“Ketiganya akhirnya mengaku setelah kami intrograsi, si GN ini mengatakan sebenarnya ada dua korban yang biasa mereka jual. Kalau si AM itu belum sempat (didagangkan), jadi baru mau. Memang ada niatnya ke sana. Dalam kasus ini AM hanya berstatus saksi,” ucapnya.

Para tersangka dikenakan Pasal 2 ayat 1 UU RI nomor 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang. Sedangkan khusus untuk satu tersangka atas nama GN dikenakan pasal tambahan terkait persetubuhan terhadap anak di bawah umur.

“Kami kenakan Pasal 81 ayat 3 Undang-Undang RI nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Jadi korban sebelum ditawarkan dengan konsumen, terlebih dahulu disetubuhi oleh GN. Hukuman maksimal 15 tahun penjara,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks