Hard News

41 Kasus Kebakaran Terjadi dalam Tujuh Bulan

41 Kasus Kebakaran Terjadi dalam Tujuh Bulan
Kebarakan kerap melanda Bontang. Tahun ini, terjadi puluhan kebakaran di Kota Taman. (Tribun Kaltim)

Akurasi.id, Bontang – Kasus kebakaran di Kota Taman tahun ini lebih banyak dibanding tahun 2018. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkartan) Bontang mencatat, sejak Januari hingga Juli 2019, terdapat 41 kasus kebakaran.

Sedangkan tahun lalu hanya terjadi 29 kasus. Pada 2019, kebakaran di bulan Januari sebanyak delapan kasus, Februari tujuh kasus, Maret 14 kali, dan empat kasus di bulan April. Di bulan Mei dan Juli masing-masing terdapat tiga kasus kebakaran.

Dari segi lokasi, kebakaran lahan berjumlah 23 kasus, rumah tempat tinggal sembilan kasus, tiga kasus rumah toko (ruko) dan gedung, tiga kasus kebakaran kabel listrik milik Perusahaan Listrik Negara (PLN), dua kasus kebakaran regulator tabung gas atau gas kompor, serta masing-masing satu kali kebakaran saluran jaringan gas dan lainnya.

Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian Operasional Disdamkartan Bontang, Akhmad Rivani, mengatakan, kebakaran lahan paling banyak menimpa wilayah Bontang Lestari. Dia menduga, kebakaran tersebut disengaja oleh seseorang yang mengklaim lahan miliknya.

“Kan ada yang namanya APL [area penggunaan lain]. Misalnya ada hutan lindung yang diakui milik pribadi. Sehingga dipetak. Kemudian dibersihkan (dibakar),” jelasnya belum lama ini kepada Akurasi.id.

Rivani menyebut, tim pemadam kebakaran menghadapi masalah saat mengatasi kebakaran di malam hari. Dalam keadaan gelap, petugas harus menempuh medan terjal di hutan. Selain itu, tim mewaspadai kebakaran di sekitar pipa gas.

“Yang berbahaya ketika kebakaran lahan dekat dengan pipa gas milik PT Badak,” paparnya.

Sementara kebakaran rumah, kata Rivani, disebabkan korsleting listrik dan ledakan kompor gas. Dia menyebut, rata-rata kebakaran disebabkan listrik karena pemilik rumah jarang memelihara kabel serta sakelar dan stop kontak yang longgar.

“Kebanyakan karena kabel lama yang sudah rusak. Bisa jadi karena kabel rusak digigit tikus,” jelasnya.

Rivani menjelaskan, kebakaran akibat gas disebabkan pemiliknya lalai meninggalkan rumah. Sementara kompornya masih menyala. Dia mengingatkan masyarakat mewaspadai dan mengecek dapur untuk memastikan keadaan kompor.

“Selain itu perlu juga untuk mencabut colokan listrik dan mematikan lampu yang tidak perlu,” bebernya.

Kendala di Lapangan

41 Kasus Kebakaran Terjadi dalam Tujuh Bulan
Akhmad Rivani. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Umumnya, warga berbondong-bondong menonton kebakaran. Jalan sempit menuju tempat kejadian perkara (TKP) kerap dipadati massa. Hal ini justru mempersulit tim Disdamkartan memadamkan api.

“[Mereka] tidak bisa dihalau petugas. Karena mereka datang duluan,” keluh Rivani.

Tak sedikit pula warga yang ikut membantu tim pemadam. Selang petugas digunakan warga tanpa mengindahkan prosedur. Sesekali pemilik rumah yang terbakar berselisih paham dengan petugas.

“Bahkan kami juga diancam. Padahal untuk memadamkan api tidak sembarangan. Dilihat kondisinya. Jika tidak memungkinkan, kami siram bagian lain untuk memblok supaya tidak merembet,” tutupnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (1 Review)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close