IndepthPolitik

Adu Strategi Memperebutkan Kursi Karang Paci 2019

Adu Strategi Memperebutkan Kursi Karang Paci 2019
Baliho menjadi salah satu media kampanye yang digunakan para calon anggota legislatif untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Akurasi.id, SamarindaRibuan baliho dan spanduk calon anggota legislatif (caleg) di pasang berdekatan dengan pusat-pusat keramaian di Kalimantan Timur (Kaltim). Umumnya, alat sosialisasi berupa peraga kampanye itu memuat gambar, nama caleg, daerah pemilihan (dapil), nomor urut, visi, dan tagline.

Nama-nama caleg yang sudah familiar di publik bertengger di baliho dan spanduk itu. Tak sedikit pula pendatang baru yang tingkat popularitasnya masih sangat minim di masyarakat.

Di media sosial seperti Facebook, WhatsApp, Instagram, dan Twitter, bermunculan gambar caleg yang disertai catatan singkat tentang profil, visi, program, dan prestasi-prestasi yang pernah ditorehkan selama mengabdi di pemerintahan dan masyarakat.

Ardiansyah, calon anggota DPRD Kaltim dari dapil Samarinda, adalah salah satu pendatang baru dalam pertarungan politisi memperebutkan kursi anggota dewan di Gedung Karang Paci. Meski akan menghadapi para caleg yang telah malang melintang dalam jagat politik, penyandang disabilitas itu tetap optimis akan mendapatkan satu kursi di DPRD Kaltim.

Sebagai penyandang disabilitas, dia yakin, ribuan pemilih yang memiliki nasib serupa dengannya akan memilihnya pada 17 April mendatang. Keyakinan itu bukan tanpa alasan. Dia tergolong dekat dengan penyandang disabilitas yang lain Benua Etam.

“Saya yakin dua ribu orang penyandang disabilitas akan memilih saya. Saya sudah banyak mengenal mereka. Sebagian besar dekat dengan saya,” ungkapnya pada medio 2018 lalu.

Sebagai salah satu anggota Partai Demokrat, Ardiansyah didukung oleh Wali Kota Samarinda, Syaharie Jaang. Salah satu pengurus yayasan disabilitas di Kota Tepian itu juga mendapat dukungan dari istri, keluarga terdekat, teman, dan jejaringnya selama mengabdi di masyarakat.

Jika terpilih, dia ingin memperjuangkan kesetaraan bagi penyandang disabilitas. Katanya, selama ini kelompok tersebut masih mendapatkan diskriminasi dalam pelayanan publik dan hak-hak sosial.

“Saya kira menyuarakan tuntutan dan harapan penyandang disabilitas adalah spirit utama saya. Walaupun mereka tidak semuanya memilih saya, tetapi saya yakin banyak yang akan mendukung (saya),” ucapnya.

Jauh sebelum ditetapkan sebagai caleg, dia sudah mendekati pemilih, memperkenalkan diri di masyarakat, silaturahmi dengan para tokoh lokal, serta menyampaikan visi dan agenda perjuangannya di kalangan terbatas jika nanti terpilih sebagai anggota DPRD Kaltim.

Adu Strategi Memperebutkan Kursi Karang Paci 2019
Parade baliho para caleg di sudut-sudut jalan protokol di Kota Samarinda banyak bertebaran dan menjadi tontonan para pengendara. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Pertarungan Pendatang Baru dengan Petahana

Ardiansyah adalah satu di antara puluhan caleg pendatang baru yang akan bertarung dengan sejumlah petahana yang telah memiliki penguasaan terhadap ekspektasi pemilih, medan politik, persaingan, hingga kemapanan finansial.

Selain dia, sejumlah caleg pendatang baru seperti Jawad Sirajuddin, Mila Wardani, Arafat Zulkarnaen, Amir P Alie, Ananda Emir Moeis, dan Puji Setyowati, ikut meramaikan kontestasi pemilu 2019.

Puluhan caleg itu akan bertarung di dapil Samarinda menghadapi petahana seperti Agus Suwandy, Saefuddin Zuhri, Masykur Sarmian, Sapto Setyo Pramono, dan Edi Kurniawan. Tentu saja, sejumlah inkamben itu tak lagi asing di mata publik ibu kota Provinsi Kaltim.

Ada pula Jafar Haruna, Jahidin, Rita Artaty Barito, Rusman Yaqub, Abdurrahman Alhasni, dan Herwan Susanto, yang kembali bertarung di dapil Samarinda.

Berdasarkan data yang dirilis Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kaltim, terdapat 11 caleg inkamben di dapil Samarinda yang mencalonkan diri di pemilu 2019. Secara keseluruhan, ada 12 kursi yang akan diperebutkan oleh caleg di dapil yang disebut-sebut paling “bergengsi” dibanding lima dapil lainnya.

Sementara itu, di dapil yang berbeda, ada nama Muhammad Syahrun, Muhammad Samsun, Syafruddin, Baharuddin Demmu, Sarkowi V Zahry, Zain Taufik Nurrohman, Mursidi Muslim, dan sebagian besar anggota DPRD Kaltim lainnya yang berikhtiar meraih kembali kursi dewan di Gedung Karang Paci.

Merujuk pada daftar calon tetap (DCT) yang dirilis KPU Kaltim, dari 55 kursi di DPRD Kaltim yang diprebutkan para caleg, terdapat 708 orang caleg dari 16 partai politik yang bertarung di enam dapil di Benua Etam.

Adapun dapil yang dimaksud yakni Samarinda (12 kursi), Balikpapan (10 kursi), Penajam Paser Utara dan Paser (7 kursi), Kutai Kartanegara (11 kursi), Kutai Barat dan Mahakam Ulu (3 kursi), serta Kutai Timur, Berau, dan Bontang (12 kursi).

Dari enam dapil itu, terdapat partai politik yang menempatkan caleg secara penuh. Ada pula kolom caleg yang tidak terisi. Hal itu kemungkinan terjadi karena partai politik tidak memiliki kader atau peminat yang ingin mencalonkan diri dari partai tersebut.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan, Partai Golongan Karya (Golkar), Partai Persatuan Indonesia (Perindo), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Demokrat, masing-masing menempatkan 55 orang caleg di enam dapil tersebut.

Sementara Partai Nasional Demokrat (NasDem) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mencalonkan 54 caleg. Kemudian Partai Garuda 11 caleg, Partai Berkarya 37 caleg, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) 46 caleg, Partai Persatuan Indonesia (PSI) 23 caleg, Partai Bulan Bintang (PBB) 33 caleg, serta Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) 10 caleg.

Adu Strategi Memperebutkan Kursi Karang Paci 2019Syarat Menjadi Pemenang Pileg

Status sebagai caleg pendatang baru dan petahana dalam pertarungan memperebutkan kursi anggota legislatif di Kaltim, tidak sepenuhnya menjadi tolak ukur tingkat keterpilihan di masyarakat.

Hanya saja di satu sisi, inkamben akan dirugikan jika kinerjanya tidak memuaskan rakyat. Sebaliknya, apabila caleg petahana selama menjabat sebagai wakil rakyat bekerja dengan maksimal, maka akan menguntungkannya secara elektoral. Dalam posisi demikian, pendatang baru akan kesulitan melawan inkamben.

Pengamat politik dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Budiman menyebut, ketokohan menjadi bagian terpenting dalam merebut hati pemilih. Karena yang bersangkutan akan dengan mudah menjual prestasinya di masyarakat.

“Mau di partai mana saja, ketika mereka sudah dikenal di masyarakat, itu sangat membantu (caleg) mendapatkan suara pemilih). Syaratnya dikenal dan pernah memberikan kontribusi di masyarakat,” jelas dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik itu, Rabu (13/2/19).

Kata dia, caleg yang tergabung di partai politik yang identik dengan calon presiden (capres), juga diuntungkan di pemilu 2019. Menurutnya, PDI Perjuangan, Partai Golkar, PPP, dan PKB memiliki keterkaitan erat dengan Presiden Joko Widodo. Kemudian Partai Gerindra, PKS, dan PAN identik dengan Prabowo Subianto.

“Itu juga menjadi faktor penarik (bagi pemilih). Kenapa? Karena pemilih itu terfokus dengan dua calon presiden ini. Masyarakat Indonesia ini tidak mau repot. Dia akan mencari caleg yang dekat dengan capres yang dipilihnya. Apalagi sekarang banyak lembaran surat suara. Jarang yang mau coblos orangnya. Mereka akan mencoblos partainya,” kata dia.

Menurutnya, faktor finansial akan berpengaruh signifikan jika money politic tidak terjangkau “radar” Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Di tengah meningkatnya peran dan otoritas Bawaslu, tentu saja para caleg akan berhati-hati memainkan politik uang di pemilu 2019.

Dia mencontohkan di skala nasional, terdapat sejumlah caleg yang disidang di Bawaslu karena terbukti memberikan barang atau uang kepada pemilih. Namun, hal itu akan ditentukan oleh peran maksimal pengawas dalam mengawasi gerak-gerik caleg beserta timnya.

“Kalau calegnya lihai dan memiliki banyak cara, bisa saja money politic itu tetap terjadi. Jadi faktor finansial itu berpengaruh bagi caleg. Tetapi kalau Bawaslu bekerja dengan baik dan mampu mencermati pergerakan caleg, maka kemampuan finansial itu akan menjadi faktor kesekian,” jelasnya. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (2 Reviews)
Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close