HeadlineRiwayat

Amir Tosina, Anak Pesisir yang Konsisten Memperjuangkan Nelayan Bontang

Amir Tosina (Yusuf Arafah akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Mental kuat, finansial memadai, dan komitmen. Ketiga syarat itulah yang mengantarkan Amir Tosina sebagai anggota DPRD untuk kali kedua. Sebelum siap bersaing, menurut Amir, pertama calon legislatif (caleg) harus memiliki mental kuat dan siap menghadapi kekalahan atau kemenangan. Kedua, kebutuhan finansial harus memadai untuk kebutuhan operasional. Terakhir, memiliki komitmen yang konsisten.

“Jika tidak punya ketiga syarat itu, jangan coba-coba, karena sakit,” akunya kepada Akurasi.id.

Sebelum menjadi anggota DPRD, Amir merupakan pengusaha kontraktor. Sebagai direktur PT Prima Ayu Mandiri yang bertempatkan di Jalan Sultan Hasanuddin, Kelurahan Berebas Tengah, Kecamatan Bontang Selatan, dia memulai perusahaan di bidang kontruksi dan pengadaan barang sejak 1998 hingga saat ini. Seperti besi dan pengadaan kontainer ke perusahaan tambang.

Awal mula merintis karir sendiri, sebelumnya Amir pernah menjadi karyawan sebagai welder kala 1995-1999 saat pembangunan pabrik PT Badak NGL dan PT Pupuk Kaltim. Pengalaman kerja itu menambah pengetahuannya dan berani membuka usahanya sendiri.

Rupanya sejak 1999, Amir mulai tertarik pada dunia politik. Kemudian suami dari Retno Dwi Astuti ini memutuskan untuk bergabung dalam Partai Persatuan Daerah (PPD) medio 2001. Dorongan untuk berkecimpung dengan politik karena hasratnya ingin memajukan nelayan di Kota Taman –sebutan Bontang.

Amir terlahir sebagai anak ke 6 dari 12 bersaudara oleh pasangan Tosina dan Halijah yang berprofesi sebagai nelayan. Kedua orangtuanya transmigrasi dari Mamuju ke Bontang pada 1954. Putra daerah Bontang kelahiran 2 Juli 1971 silam ini mengaku pernah merasakan sulitnya mengarungi lautan demi mencari sesuap nasi dari hasil melaut bersama sang ayah saat tinggal di Tihi-Tihi. Bahkan dia pernah menjadi saksi terjadinya peristiwa berdarah perebutan kekuasaan antar suku medio 1975–1978 ketika dia berusia 5 tahun.

“Saya sedih sekali kalau ingat orang ribut kejar-kejaran, Tahun 1978 dulu, perkembangan Bontang belum pesat seperti saat ini. Dahulu para orang tua yang merintis di sini mata pencahariannya nelayan dan petani,” kenangnya.

Mengingat akan masa lalu itulah yang membuat dia ingin menyejahterakan para kelompok nelayan di Bontang. Amir berkisah, pada 2013 lalu saat pemilihan ketua DPD Federasi Nelayan Indonesia (Fenelindo) Bontang, dia menjadi salah satu kandidatnya. Kemampuan Amir akan ilmu kelautan dan pengetahuan perkembangan serta kesejahteraan kondisi nelayan di Bontang pun diuji dari pusat. Akhirnya Amir dipercaya menakhodai Fenelindo di Kota Taman.

“Saya utarakan bagaimana keadaannya, akhirnya saya dipercayakan menjadi ketua. Saya tidak pernah melakoni jadi nelayan. Tapi (berdasarkan) pengalaman orang tua dulu,” terangnya.

Abdikan Diri untuk Kesejahteraan Nelayan

Menduduki kursi anggota DPRD, politisi asal Partai Gerindra dapil Bontang Selatan ini memperoleh hasil suara sebanyak 961. Amir pun tak ingin menyia-nyiakan suara para pendukungnya untuk memperjuangkan suara para nelayan di Bontang. Menurutnya, dari keluhan nelayan yang dia tampung, pembagian bantuan untuk nelayan belum terserap sempurna dari pemerintah. Akibatnya, nelayan tidak berkembang lantaran bantuan hanya sekadar operasional saja.

“Bukan menyalahkan pemerintah, mungkin faktor bantuan terbatas. Saya pun pernah menanyakan ke dinas perikanan, ternyata benar. Bantuan hanya sekadar operasional saja, untuk membeli kelengkapannya belum bisa,” jelasnya.

Tak hanya itu, nelayan juga mengeluhkan tidak memiliki modal. Misalnya, kata Amir, nelayan yang ingin menanam rumput laut tidak memiliki bibit atau sampan. Dia berharap dalam mendermakan bantuan pemerintah lebih selektif. Yakni memilih kelompok nelayan yang aktif lalu memantau hasil bantuan yang diberikan dengan bertanggung jawab melaporkan perkembangannya kepada pihak terkait.

“Dinas perikanan harus ada pemantau kelompok nelayan yang pantas menerima bantuan. Misalnya sudah 10 atau 20 tahun menjadi nelayan di Bontang tapi tidak berkembang. Jangan yang dikasih bantuan modal KTP Bontang saja, mana tau orang baru injak kaki di sini,” tegasnya.

Amir menilai pemkot memberi bantuan skala besar kepada kelompok nelayan yang lebih berdaya. Contohnya, lanjut Amir, tengkulak ikan yang bukan kelompok nelayan mendapat bantuan berupa mobil, bahkan dana hingga ratusan juta. Tapi kelompok nelayan di pesisir yang lebih membutuhkan justru tidak mendapat bantuan bantuan dana untuk kesejahteraan nelayan.

“Karena tidak ada survei ke Fenelindo Bontang untuk melihat kelompok nelayan yang lebih pantas dibantu. Apalagi dengan adanya Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) juga turut membantu pemerintah dalam mengontrol nelayan,” keluhnya.

Nelayan Perlu Mendapatkan Edukasi

Tak hanya kritik kepada pemerintah, Amir juga berharap para nelayan di Bontang lebih pandai dalam menerima bantuan dari perusahaan. Dia mengungkapkan jika ada perusahaan misalnya akan menggarap penggalian sungai, penggalian alir sungai, atau penggalian laut, nelayan tidak pernah melihat apakah itu merusak laut atau tidak. Jika sudah rusak, maka laut tempat nelayan habis. Perusahaan tidak mengganti kerusakan itu dengan menanam terumbu karang. Diakui Amir, tempo dulu perusahaan aktif menanam terumbu karang.

“Nelayan tidak pernah mengeluh karena mendapat imbalan tanpa menyadari tempat mereka mencari nafkah rusak. Padahal rugi besar. Ini yang bahaya. Inilah target saya di DPRD, semoga punya wewenang di komisi,” harapnya.

Selain fokus pada nelayan, Amir juga ingin mengurangi angka kemiskinan di Bontang. Meski diapit dua perusahaan besar, PT Pupuk Kaltim dan PT Badak NGL, dia merasa masih banyak warga yang kurang mampu. Baginya, pengurangan angka kemiskinan itu harus betul-betul disurvei. Berdasarkan pengalamannya menjadi Ketua RT 25 Kelurahan Berebas Tengah selama 4 periode, Amir tentu paham bagaimana kondisi warganya.

“Saya tahu persis keadaan warga. Pernah ada warga miskin yang benar-benar miskin, tapi malah dihapus statusnya sebagai warga miskin,” pungkasnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (3 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close