HeadlinePolitik

Anak Pedagang Sayur Terpilih sebagai Wakil Rakyat

Anak Pedagang Sayur Terpilih sebagai Wakil Rakyat
Damayanti (Istimewa)

Akurasi.id, Samarinda – Nama Damayanti bertengger bersama tujuh calon anggota legislatif (caleg) terpilih dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV Samarinda. Sebagai calon anggota DPRD Samarinda, caleg Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini berhasil meraih suara terbanyak di partainya.

Di dapil tersebut, dia terpilih bersama Muhammad Rudi (Gerindra), Sugiono (PDIP), Muhammad Novan Syahronny Pasie (Golkar), Celni Pita Sari (NasDem), Sani Bin Husain (PKS), dan Sri Puji Astuti (Demokrat).

Sebagai caleg nomor urut 1, dia meraup 3.773 suara. Di dapilnya, dia mendapat suara terbanyak kedua setelah caleg petahana Sri Puji Astuti yang mengantongi 4.781 suara. Perolehan suara di bawah Damayanti ditempati Celni Pita Sari yang mendapat 3.541 suara.

Perolehan suara yang demikian tinggi didapatkan istri Syafruddin (Ketua DPW PKB Kaltim) itu atas kerja keras mendekati pemilih di Kecamatan Samarinda Ulu. Bagaimana perjuangannya merebut hati rakyat di Pemilu 2019? Berikut kami suguhkan petikan wawancara dengan anak ketiga dari empat bersaudara tersebut:

Apa yang memotivasi Anda mencalonkan diri sebagai wakil rakyat?

Motivasi saya mencalonkan diri sebagai calon anggota DPRD dan bertarung dengan teman-teman sesama partai dan lintas partai karena saya melihat lingkungan di sekitar saya. Di lingkungan saya, dipenuhi masyarakat menengah ke bawah. Di sini tidak ada orang yang memiliki kedudukan di eksekutif dan legislatif. Sehingga sarana maupun prasarana di masyarakat kurang diperhatikan. Itulah yang membuat saya memberanikan diri terjun sebagai kandidat anggota legislatif.

Rata-sata masyarakat di dapil saya adalah orang-orang yang bekerja sebagai asisten rumah tangga dan pembersih jalan atau pahlawan kebersihan. Saya berharap bisa membantu mereka agar bisa keluar dari kesulitan-kesulitan. Misalnya membuat aturan untuk libur hari raya. Mereka tidak memiliki hari libur kerja di hari-hari besar keagamaan. Mereka terus saja bekerja. Itulah sebagian yang saya dengar dan perhatikan. Saya ingin memperjuangkan hak-hak mereka.

Saya juga melihat perempuan sangat minim diperhatikan. Misalnya kekerasan dalam rumah tangga dan anak-anak. Yang saya temui di masyarakat, mereka tidak berani menyuarakannya di publik. Mengapa mereka ini tidak berani? Saya tidak tahu bagaimana perjuangan di DPRD, tapi mudah-mudahan Allah mampukan saya untuk memperjuangkan masalah ini. Tentu saja dengan dukungan masyarakat. Saya ingin perjuangan ini sesuai harapan masyarakat.

 

Anak Pedagang Sayur Terpilih sebagai Wakil Rakyat

Apa yang paling berkesan selama pencalegan? Bagaimana cara Anda mendekati pemilih?

Yang paling berkesan itu berhadapan dengan banyak orang. Saya bertemu orang dengan beragam karakter. Hal itu mengajarkan saya, kita harus pandai memahami bermacam-macam karakter. Apalagi orang-orang ini memiliki latar belakang yang berbeda-beda.

Saya menggunakan pendekatan kekeluargaan untuk mendekati masyarakat. Dari keluarga kemudian menjadi teman. Dari teman kemudian ke teman-teman berikutnya. Dari situ muncul jejaring. Saya lebih meyakini cara itu. Saya pernah datang ke tempat yang di situ satu pun orang tidak saya kenali. Itu rasanya kayak zonk. Kadang muncul dalam benak saya perasaan tidak enak karena saya merasa orang-orang bertanya-tanya mengenai saya. Belakangan ini, cara itu saya hindari.

Kalau tidak ada keluarga atau teman yang membawa saya bertemu masyarakat, saya merasa kesulitan. Lebih enak dan nyaman kalau kita bangun kekeluargaan dan persaudaraan. Mereka sudah mengenal karakter dan tujuan kita daripada orang-orang yang baru kita kenal. Tapi next, saya tidak tahu. Saya usahakan bisa kenal dan dekat dengan banyak orang.

Apakah Anda memiliki pengalaman dalam bidang politik?

Baru sekarang ini saya terjun langsung untuk pemilihan legislatif. Tentu saja banyak gejolak yang terjadi di lapangan. Isu-isu yang berkembang itu pasti banyak. Dari awal karena saya berniat lahir batin untuk kebaikan, apa pun yang terjadi, saya akan terus hadapi. Saya anggap perkataan orang sebagai cambuk bagi saya agar terus mencapai tujuan. Selama ini saya tidak pernah risau dengan lawan politik. Misalnya memperhatikan calon ini begini dan calon yang lain begitu. Saya fokus pada tujuan utama. Saya berusaha menjadikan setiap persaingan sebagai motivasi untuk terus bekerja keras supaya dapat merebut hati rakyat.

Kalau pengalaman pribadi, waktu menjadi mahasiswa, saya aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Itulah awal pembelajaran saya di organisasi. Karena itu, insyaallah saya akan dimampukan untuk menjalankan tugas sebagai wakil rakyat.

Dulu saya juga reporter radio di kampus. Saya biasa bertugas di DPRD Samarinda. Cuma dulu berbeda dengan sekarang. Dulu mau bertemu wakil rakyat itu susah. Ini yang saya jaga betul. Karena anggota DPRD itu pengayom masyarakat. Harusnya enggak ada jarak antara anggota dewan dan masyarakat.

Siapa orang yang paling menginspirasi Anda dalam perjuangan politik?

Tentu saja suami saya. Kadang saya suka berdiskusi dengan beliau. Apalagi di waktu-waktu mendekati pembahasan anggaran. Beliau membahasnya berhari-hari. Tetapi ujung-ujungnya karena waktu terbatas, kadang tidak maksimal. Karena itu, rujukan utama saya adalah suami saya. Saya tahu betul bagaimana beliau berjuang untuk masyarakat.

Kesan apa yang Anda rasakan pada saat dinyatakan terpilih sebagai wakil rakyat?

Awalnya saya bingung dan kaget. Setelah pemilihan, teman-teman sudah memprediksi saya terpilih. Saya kurang yakin karena KPU belum melaksanakan pleno. Tetapi setelah pleno KPU, perasaan saya bercampur. Saya enggak bisa mengungkapkannya. Saya deg-degan. Apalagi saya sudah lama vakum di organisasi. Perasaan saya bercampur karena begitu banyak teman-teman yang membantu saya selama memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Samarinda. Mereka bekerja dengan sukarela tanpa pamrih.

Saya berdoa, mudah-mudahan saya dimampukan. Karena banyak orang yang berharap dengan perjuangan saya di parlemen. Setelah menerima kabar terpilih, saya hanya berdoa bisa memenuhi amanah rakyat. Mudah-mudahan saya bisa bekerja maksimal untuk mereka yang telah mempercayakan suaranya kepada saya.

Apakah sejak dulu Anda bercita-cita menjadi wakil rakyat?

Cita-cita menjadi anggota DPRD itu tidak pernah ada dan terpikir dalam benak saya. Saya baru menyiapkan pencalegan ini dua hari sebelum lebaran tahun lalu. Saya hanya berkeinginan menjadi orang yang bermanfaat. Karena sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain. Itu prinsip hidup. Itulah yang saya pegang teguh.

Tiga hari sebelum pencoblosan, almarhum bapak saya meninggal. Seminggu sebelum itu, beliau sakit. Memang sejak awal beliau sudah menekankan kepada kami agar bisa bermanfaat untuk orang lain. Suami saya juga menekankan prinsip itu. Kita hidup ini cuma numpang lewat saja. Kalau kita berkontribusi untuk masyarakat, ada amal jariyah yang dapat dikenang. Dengan saya bertugas sebagai wakil rakyat, harapan saya bisa lebih bermanfaat untuk masyarakat.

Orang tua saya sangat mendukung saya mencalonkan diri sebagai anggota legislatif. Saya terjun ke politik ini karena ada doa dan restu dari suami dan orang tua. Orang tua saya lahir dan besar bukan dari keluarga yang mampu. Ibu dan bapak saya hanya pedagang sayur. Beliau berharap agar orang-orang menengah ke bawah benar-benar diperhatikan.

Meski memiliki tugas sebagai ibu rumah tangga, insyaallah saya tidak merasa berat dengan tugas ini. Pasti saya berpikir dengan tugas rumah tangga dan DPRD. Apalagi kewajiban saya sebagai ibu rumah tangga harus mendidik anak-anak. Saya yakin, Allah pasti mampukan saya. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (2 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close