Hard NewsHeadlineHukum

Anak Perempuan 16 Tahun di Wahau Jadi Korban Budak Nafsu Ayah Tiri 1 Tahun Lamanya

Terungkap Setelah Mengadu Kepada Kerabat Keluarga Ibu, Mengaku Dicabuli Sejak 2019 Lalu

16 tahun
Seorang anak perempuan berusia 16 tahun di Muara Wahau, Kutim, menjadi korban budak seks ayah tirinya selama 1 tahun lamanya. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Sangatta – Entah bisikan setan apa yang telah merasuki pria berinisial RS (36) asal Kabupaten Kutai Timur (Kutim) ini. Dia dengan begitu bengis dan tiada berperasaan tega mencabuli anak tirinya sebut saja Bunga yang masih berusia 16 tahun.

baca juga: Ledakan Kompor Gas Bikin 19 Rumah di Lambung Mangkurat Rata dengan Tanah

Yang membuat cukup miris, aksi pencabulan yang dilakukan pelaku RS terhadap korban Bunga ternyata bukan baru-baru ini saja, melainkan sudah berlangsung selama hampir 1 tahun lamanya.

Terbongkarnya perbuatan bejat pelaku setelah SW (37) yang tidak lain adalah keluarga dekat dari ibu korban memberitahukan adanya percakapan yang senonoh dari pelaku terhadap korban.

Selain itu, kepada SW, korban yang masih berada di bawah umur memberanikan diri menceritakan tindakan pencabulan yang dilakukan RS kepadanya. Di mana, perbuatan bengis pelaku terhadap korban diketahui telah terjadi sejak 2019 lalu. Dalam medio 2019-2020, korban mengaku, kalau pelaku RS selaku ayah tirinya yang mestinya menjadi pelindungnya, telah menyetubuhi dirinya sebanyak 10 kali.

Kanit Reskrim Polsek Muara Wahau, Ipda Erwin mengatakan, kalau pihaknya telah menerima laporan adanya kasus dugaan pencabulan yang dilakukan RS kepada anak tirinya Bunga. Atas laporan itu, pihaknya pun telah memeriksa saksi-saksi yang melaporkan kasus tersebut.

Guna keperluan penyelidikan dan kelengkapan alat bukti, sambung dia, pihaknya juga telah melakukan proses visum terhadap korban. Sementara untuk pelaku RS pun telah diamankan pihak Polsek Muara Wahau pasca menerima laporan tersebut. Sekarang yang bersangkutan diketahui telah ditahan di sel tahanan Polsek Muara Wahau untuk menjalani proses penyelidikan lebih lanjut.

“Hasilnya ada luka robek pada alat vital korban akibat trauma benda tumpul. Sehingga perkara langsung dinaikkan statusnya ke tingkat penyidikan,” ungkapnya saat Akurasi.id mengonfirmasinya melalui telepon selulernya, Sabtu (6/6/20).

Atas perkara tersebut, lanjut Ipda Erwin, pihaknya telah melakukan koordinasi dan meminta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Kutim untuk memberikan pendampingan terhadap korban.

“Hasilnya sudah kami tuangkan dalam berita acara pemeriksaan (BAP). Untuk tahap pemdampingan konseling rehabilitasi dan mediasi, kami sudah serahkan kepada pihak yang berwenang (DP3A Kutim),” sebutnya.

iklan-mahyunadi-MAJU-KUTIM-JAYA

Berhubung saat ini sedang dalam masa pandemi Covid-19, dikatakan Ipda Erwin, pendampingan psikologis terhadap korban akan dilakukan DP3A Kutim melalui pegawai kesejahteraan sosial Kecamatan Muara Wahau.

“Selama pandemi Covid-19 ini segala aktivitas terbatas. Sehingga sudah tidak memungkinkan untuk (pelaku RS) dibawa ke Rutan Polres Kutim. Jadi perkara ini sampai sidang berlanjut akan ditangani di Polsek Muara Wahau,” katanya.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya di meja hukum, pelaku RS telah ditetapkan sebagai tersangka dan dijerat Pasal 81 Ayat 1, 2, dan 3 Juncto Pasal 76 D atau Pasal 82 ayat 1 dan 2 Undang-Undang (UU) Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. “Pelaku terancam dihukum penjara minimal 5 hingga 20 tahun,” tegasnya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    Ok No thanks