Catatan

Autobiografi Andri (1): “Spirit Ibu Mengantarkan Saya Lulus di Gontor”

Autobiografi Andri (1): “Spirit Ibu Mengantarkan Saya Lulus di Gontor”
Andri (pertama dari kiri), Gabriel, Rijal, dan Ahmad Prasetyo. (Istimewa)

Kala melewati babak akhir pendidikan sebagai santri di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, saya duduk di kursi layaknya para santri yang akan segera diwisuda. Pada 11 Ramadan 1440 Hijriah atau 15 Mei 2019, terdapat 1.765 orang santri yang diwisuda. Nama-nama santri dipanggil satu per satu oleh salah seorang kiai senior. Saya mendapat nomor ke-83 dalam urutan santri yang dinobatkan sebagai alumni Gontor tahun ini.

Saya merasa tahapan ini seperti mimpi. Saya tidak pernah berpikir bisa lulus di Gontor. Di awal-awal masuk pesantren yang didirikan Tri Murti ini, saya tidak pernah membayangkan bisa menjadi alumni. Saya hanya berniat belajar beberapa tahun di Gontor.

Semua proses itu bisa saya lalui setelah melewati tahap perjuangan yang begitu berat. Menempuh ujian 10 hari yang maha berat, bagi saya adalah babak akhir dalam perjalanan menempuh pendidikan di pondok. Ternyata saya keliru. Masih banyak tahapan lain saat mengabdi di pondok yang menguji mentalitas dan kesabaran. Semuanya bermuara pada satu hal: tarbiah.

Beragam mata pelajaran diujikan sebelum santri dinyatakan lulus dari Gontor. Ada pelajaran matematika, berhitung, sosiologi, kimia, biologi, fisika, psikologi, dan lain-lain. Sebagai lulusan madrasah aliah (MA), saya tidak pernah mempelajari sebagian pelajaran yang diujikan di pesantren ini. Saya ditempatkan di kelas intensif. Kelas yang dikhususkan bagi lulusan SMP, SMA/MA/sederajat, dan lulusan perguruan tinggi. Jadi wajar, sebagian mata pelajaran itu diujikan. Tetapi tak dipelajari di kelas. Hanya kelas reguler yang mempelajarinya.

Kemudian ujian tiga bulan. Di situ terdapat tarbiyah ‘amaliyah, ujian lisan, dan ujian tertulis. Kami ditantang mengusai seluruh mata pelajaran dari kelas satu sampai kelas enam. Saat ujian akhir, semua mata pelajaran diujikan.

Sesekali saya menikmati semua proses itu. Terkadang saya ingin tertawa. Kadang-kadang juga sedih. Muncul pertanyaan tersirat dalam benak saya. Apakah saya bisa melewati ujian dengan mata pelajaran seabrek itu? Motivasi seketika muncul saat saya berpikir, begitu banyak orang yang bisa lulus dari Gontor. Saya pun bisa melaluinya.

Menurut saya, ujian yang paling berkesan di Gontor itu prakter mengajar di kelas. Waktu itu saya diberi tugas praktek mengajar muhadatsah. Saya mengajar di kelas 1 intensif E. Praktik mengajar berlangsung selama 15 hari.

Ujian ini memang tidak mudah. Setiap santri dituntut membuat persiapan tertulis. Waktu itu saya membuat 14 halaman. Penyusunannya harus sesuai kaidah. Mulai dari pembukaan, praktek di kelas, dan menutup prosesi mengajar di kelas.

Catatan untuk persiapan praktek mengajar ini dicoret sedemikian rupa oleh ustaz senior. Setelah dikoreksi, kami harus mengganti dan memperbaikinya. Kadang-kadang untuk mempersiapkannya butuh waktu semalam. Setelah diperbaiki berkali-kali, masih dikoreksi dan diganti dengan catatan baru. Persiapannya harus benar-benar sempurna.

Saat saya melewati masa-masa sulit di Gontor, saya selalu diingatkan dengan kehidupan orang tua saya. Ibu saya bernama Safiah. Beliau berumur 48 tahun. Ibu saya tidak memiliki pekerjaan tetap. Sesekali beliau menjadi pembantu. Orang yang sangat saya cintai ini memelihara dua kambing yang dipercayakan orang lain kepadanya. Di sela-sela itu, beliau mengambil rumput.

Ayah saya bernama Ipin. Umurnya sekira 50 tahun. Beliau bekerja sebagai buruh tani. Ayah mencangkul tanah milik orang lain di Tasikmalaya, Jawa Barat. Setiap hari beliau digaji Rp 15 ribu. Pekerjaan mencangkul tanah ini pun tidak setiap hari. Hanya beberapa hari saja dalam sebulan. Kalau ayah tidak bekerja, praktis beliau tidak mendapatkan uang.

Kami memiliki sebuah rumah. Rumah berdinding bambu. Lantainya masih berupa tanah. Kadang-kadang di saat hujan, rintik-rintiknya masuk ke rumah. Singkatnya, rumah itu benar-benar tidak layak.

Saya diberi nama yang sangat singkat. Andri. Saya memiliki seorang adik perempuan. Namanya Elin Erlina. Dia lulus MA pada tahun 2018. Dulu saya pernah memintanya belajar di pondok. Tetapi dia tidak mau. Dia ingin bekerja. Rencananya bulan Agustus ini akan melangsungkan pernikahan di Tasikmalaya.

Motivasi terbesar saya selama belajar di pondok ini berasal dari bapak dan ibu. Saya teringat ibu yang bekerja sebagai pembantu di Yogyakarta. Beliau menempuh perjalanan jauh dari Tasikmalaya ke Yogyakata hanya untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pembantu.

Beliau pernah bilang ke saya, “Andri. Ibu selalu bekerja sampai jam 12 malam di Yogyakarta. Mencuci baju dan menyetrika pakaian. Semua itu demi membiayai kehidupanmu di pondok.”

Ketika saya mengingat kalimat itu, semua hal yang saya anggap berat di Gontor dapat saya kalahkan. Pada saat capek, ngantuk, dan merasa berat dengan pelajaran, semuanya terkalahkan saat saya mengingat jerih payahnya. Bagi saya, semangat ibu menjadi suntikan yang luar biasa selama melewati masa-masa belajar di Gontor. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Catatan:
1. Artikel yang memuat autobiorafi ini akan terbit secara berkala.
2. Artikel ini ditulis ulang, diedit, dan disunting oleh Ufqil Mubin. Bahan artikel ini sepenuhnya dari hasil wawancara dengan ustaz Andri. Seorang lulusan Gontor yang kini menjadi guru di pesantren yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur.

Tags
Show More

7
Tinggalkan Komentar!

avatar
4 Comment threads
3 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
5 Comment authors
FadilaUfqil MubinG97BaronSulfan Firady Recent comment authors
newest oldest most voted
Sulfan Firady
Guest
Sulfan Firady

Subhanallah akhiy, barakallahu laka, kataballahu laka annajaah fi jamii’i Al a’mal aamiin

Ufqil Mubin
Guest
Ufqil Mubin

Ilahi Aamiin

Baron
Guest
Baron

Assalamualaikum, Selamat untuk ustadz Andri, orang tua anda adalah karunia terbesar dari Allah SWT dan tidak akan bisa kita membalas kasih sayang mereka, selain dengan mendoakan orang tua kita sebaik-baiknya dan seikhlas ikhlas nya, saya juga sebagai orang tua yang anak kami ingin menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Gontor tahun depan mohon doa dan restunya semoga anak kami dapat meneladani Ustadz Andri,

Ufqil Mubin
Guest
Ufqil Mubin

Ilahi aamiin.

G97
Guest
G97

Amazing ust….

Ufqil Mubin
Guest
Ufqil Mubin

Sukses selalu

Fadila
Guest
Fadila

MasyaAllah… Barokallahu fiik.. Semoga sukses selalu…

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close