Catatan

Autobiografi Andri (2): Tak Direstui Ayah

Autobiografi Andri (2): Tak Direstui Ayah
Andri (Istimewa)

Saya menyimpan keraguan memilih sekolah setelah lulus dari sekolah menengah pertama (SMP). Sejujurnya, saya tak ingin melanjutkan pendidikan di Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Wangunsari. Pilihan saya justru jatuh pada Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di Kota Tasikmalaya. Namun Ustaz Uu Abdusyakir mengarahkan saya melanjutkan pendidikan di MAN Wangunsari. Saya mengamini permintaan itu.

Singkatnya, tiga tahun berlalu setelah melewati masa belajar di sekolah tersebut, kebingungan kembali muncul dalam sanubariku. Apa yang harus saya lakukan pasca merampungkan pendidikan di MAN Wangunsari? Padahal sebulan lagi, saya akan menuntaskan masa belajar di sekolah ini.

Baca Juga: Autobiografi Andri (1): “Spirit Ibu Mengantarkan Saya Lulus di Gontor”

Kala itu, saya dipilih sebagai ketua angkatan. Saya ditugaskan untuk membuat jas angkatan. Inilah awal mula perkenalanku dengan Gontor. Satu waktu saya berangkat ke sebuah konveksi di Tasikmalaya. Saya ingin membuat jas tersebut. Sembari menunggu pembuatannya di kantor konveksi itu, saya melihat koran yang tergeletak di pojok ruangan. Tak ingin menunggu lama, saya meraih koran tersebut.

Di salah satu bagian koran itu terdapat seorang alumni Gontor yang mengimbau masyarakat agar tidak melewati tahun baru dengan hura-hura. Seorang tokoh yang telah bergelar doktor itu mengingatkan orang-orang mengisi awal tahun dengan perbuatan baik. Dalam benak saya, begitu hebatnya tokoh ini. Ia memberi imbauan tentang kebaikan dan melawan kemungkaran dengan lisannya. Berhari-hari, saya terus mengingat kehebatan tokoh tersebut. Seumur-umur, baru kali ini saya mengetahui ada pondok pesantren bernama Gontor.

Beberapa hari berlalu, saya kembali ke konveksi tersebut. Saya berniat mengambil jas yang telah dibuat di pusat pembuatan pakaian itu. Kala saya menunggu jas itu, saya menemukan sebuah koran. Di koran itu tertulis satu berita yang menarik perhatianku. Seorang ulama besar dari Tasikmalaya memperkenalkan diri sebagai alumni Gontor.

Setelah dua kali mengenal tokoh lulusan Gontor, saya tertarik mengetahui pendidikan di pesantren tersebut. Sebagai anak kampung, tak ada media yang dapat saya akses dengan mudah untuk menelusuri seluk-beluk Gontor. Muncul pertanyaan yang menggelitik dalam benak saya. Mengapa pesantren tersebut bisa menghasilkan orang-orang besar di Tasikmalaya?

****

Sepulang dari konveksi itu, saya berbicara dengan ibu perihal keinginanku melanjutkan pendidikan di Gontor.

Ibu bertanya kepadaku, “Gontor itu di mana, Andri?”

“Saya juga tidak tahu, Bu,” jawabku.

Mendengar jawabanku, ibu tersenyum kecil.

Sehari setelah perbincangan itu, saya mendatangi Staf Tata Usaha MAN Wangunsari, Ustaz Yosep. Kepadanya saya bertanya alamat Gontor, biaya pendidikan, dan pola pendidikan di pesantren tersebut.  Ia dengan senang hati membagikan informasi tentang Gontor. Sejam perbincangan itu berlalu, kini saya mengantongi informasi yang cukup tentang pesantren yang terletak di Ponorogo itu.

Saya kembali ke rumah dengan perasaan senang. Niat yang sama saya sampaikan kepada ibu. Beliau menjawab, “Ibu tidak memiliki biaya untuk pendidikanmu di Gontor. Ibu tidak melarangmu belajar di Gontor. Tetapi kamu tahu sendiri keadaan kita.”

Ia menawarkan solusi. Ibu memintaku menelepon adik kandungnya yang bekerja di Kalimantan. Saya diminta menyampaikan keinginan kami meminjam uang untuk membiayai pendaftaranku di Gontor.

“Bibi. Saya mau pinjam uang. Silakan ditulis nominal yang saya pinjam. Saya akan menggantinya setelah saya bekerja,” demikian saya berujar kepada perempuan yang bernama Iso itu.

“Maaf ya Andri. Bukannya bibi tidak mau meminjamkanmu uang. Tapi keuangan saya sedang kurang baik,” jawab bibi Iso.

Mendengar jawaban itu, seketika air mata saya menetes. Di bawah pohon rambutan di depan rumahku, saya kembali mendesaknya, “Ayolah bibi. Nanti saya kembalikan uangnya.”

Saya menerima jawaban serupa darinya.

Saat saya menyampaikan kabar yang kudapatkan dari bibi Iso kepada ibu, dia terdiam. Saya tahu beliau tak bisa berbuat apapun.

Kehidupan keluarga kami memang berada di bawah garis kemiskinan. Pendapatan ayah dan ibuku tak cukup untuk sekadar membiayai kehidupan kami. Kami tidak memiliki satu pun rumah. Gubuk yang kami tempati di RT 2, Kampung Ciranini, Desa Wangunsari, Kecamatan Bantarkalong ini, milik saudara ibu.

***

Dari jauh, saya melihat bapak bergegas menuju rumah. Ia baru pulang dari sawah. Ayah sudah mengetahui keinginanku mengenyam pendidikan di Gontor.

Tubuhnya masih dipenuhi lumpur. Ayah berujar kepadaku, “Benar kamu mau belajar di Gontor? Untuk apa ke Gontor? Di Tasik ini banyak pesantren.”

Saya terdiam. Begitupun ibu.

“Pokoknya ayah tidak rida kamu ke Gontor! Tempatnya terlalu jauh. Silakan kamu cari pondok di Kota Tasik,” tegas ayahku.

Saya tertunduk lesu. Nyaliku ciut.

Ayah kembali menegaskan penolakannya, “Silakan kalau kamu tetap nekat mau belajar di Gontor. Tapi ayah tidak akan pernah membiayaimu saat belajar di Gontor.”

Langit senja yang terang tiba-tiba terlihat gelap. Segelap garis nasib yang selalu menghantuiku. Saya ingin belajar di Gontor demi satu tujuan: memperbaiki kehidupan keluarga dan orang-orang di kampung halamanku. Akankah niat itu hanya mimpi? (*)

Penulis/Editor: Ufqil Mubin

Catatan:

  1. Artikel yang memuat autobiorafi ini akan terbit secara berkala.
  2. Artikel ini ditulis ulang, diedit, dan disunting oleh Ufqil Mubin. Bahan artikel diambil dari hasil wawancara dengan ustaz Andri. Seorang lulusan Gontor yang kini menjadi guru di pesantren yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur.

Tags
Show More

5
Tinggalkan Komentar!

avatar
3 Comment threads
2 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
Amiruddary Nur MustofaUfqil MubinDimas Dwi Gustanto Recent comment authors
newest oldest most voted
Dimas Dwi Gustanto
Guest
Dimas Dwi Gustanto

Tetap berkarya sahabatku

Ufqil Mubin
Guest
Ufqil Mubin

Insyaalllah. Sukses ya.

Dimas Dwi Gustanto
Guest
Dimas Dwi Gustanto

Bang mubin dan bang andri saya izin membuat novel dari cerita karangan antum berdua.
Minta restu dan doa antum ya

Ufqil Mubin
Guest
Ufqil Mubin

Silakan Dimas. Semoga sukses.

Amiruddary Nur Mustofa
Guest
Amiruddary Nur Mustofa

Keep spirit ya bang Andri dan bang Ufqil… Ditunggu lanjutan artikelnya… ^_^

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close