Catatan

Autobiografi Andri (3): Pilihan yang Berat

Autobiografi Andri (3): Pilihan yang Berat
Ilustrasi (Net)

Saya menghadapi dua tantangan setelah memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di Gontor: pertama, saya tidak memiliki uang untuk mendaftarkan diri di pesantren tersebut. Kedua, ayahku menolak permintaanku menimba ilmu pengetahuan di pondok yang terletak di Ponorogo itu.

Baca Juga: Autobiografi Andri (2): Tak Direstui Ayah

Sejatinya ayahku mengizinkan saya menimba ilmu di pesantren. Hanya saja, beliau meminta saya memilih pesantren yang berdekatan dengan kampung halaman kami. Di sisi lain, sebagai keluarga yang hidup di bawah garis kemiskinan, keputusan saya melanjutkan pendidikan di Gontor adalah pilihan yang dinilai tidak rasional.

Berjalan di antara beragam problem itu membuatku kalut, bingung, dan keinginan besar saya mengisi umur dengan belajar di Gontor terasa berat. Kalimat-kalimat yang bernada penolakan dari ayah masih terngiang jelas dalam benakku. Ada rasa putus asa, lemas, dan tak berdaya menyelimuti batinku.

Hari berganti malam, keinginan saya mengubah kehidupan keluarga, kampung halaman, dan negeri ini membuat semangatku mendidih kembali. Saya selalu terdorong keinginan menjadi orang besar. Cita-cita tersebut tidak mungkin dapat terwujud tanpa langkah-langkah besar pula. Salah satu pilihan yang menginspirasiku merealisasikan misi itu adalah mengenyam pendidikan di pesantren ternama seperti Gontor.

Motor Milik Ayah

Setiap orang yang memiliki mimpi besar, pasti akan mendapat bantuan dari Allah. Demikian batinku berusaha menguatkan diri. Ternyata kalimat itu benar. Di rumah kami terdapat motor Supra X keluaran tahun 2006. Milik ayahku. Kendaraan roda dua itu sedang diangsur oleh ayah di dealer. Beliau mengangsur Rp 300 ribu setiap bulan. Pembayarannya belum lunas.

Seingatku, ayah memiliki pendapatan setiap bulan Rp 450 ribu. Uang itu digunakannya untuk membiayai kehidupan kami sehari-hari, membayar angsuran motor, dan mengongkosi pendidikan adikku yang sedang belajar di kelas 3 madrasah tsanawiyah (Mts).

Saya terdorong keinginan menjual motor tersebut. Tetapi ada rasa sedih yang menyelimutiku. Saya merasa kasihan dengan ayah yang telah bertahun-tahun mengangsur kendaraan itu. Di sisi lain, apabila saya tidak menjual motor tersebut, maka keinginanku melanjutkan pendidikan di Gontor tidak akan tercapai.

Bulan Ramadan telah memasuki hari ke-15. Dua pekan lagi bulan suci ini akan berakhir. Sedangkan bulan Syawal adalah waktu pendaftaran di Gontor. Hari-hari yang paling krusial sebelum saya mendaftarkan diri di pesantren yang didirikan Tri Murti itu—julukan untuk para pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo: KH Ahmad Sahal, KH Imam Zarkasyi, dan KH Zainuddin Fananie. Namun saya tak kunjung mendapatkan uang untuk pendaftaran di pesantren tersebut.

Saya sudah berusaha meminjam uang dari keluarga terdekat. Tetapi tidak ada satu pun yang bersedia membantuku. Tak ada pilihan lain. Saya membulatkan tekat untuk menjual motor itu. Meski saya harus menerima resiko dimarahi bahkan diludahi ayah. Segala konsekuensi itu akan saya terima dengan lapang.

Di pagi buta, saya membawa motor itu ke pasar. Seorang laki-laki paruh baya berjenggot ingin membeli kendaraan itu. Saya menawarkan kepadanya harga Rp 6 juta.

Tetapi dia menjawab, “Harganya terlalu mahal.”

Sekali lagi saya menawarkan harga motor itu sambil memelas, “Saya butuh uang segitu, Pak. Saya mau ke Gontor. Uang itu untuk pendaftaran saya di Gontor.”

“Loh. Kamu mau ke Gontor? Walah. Bapak kamu namanya siapa?”

“Ipin, Pak.”

“Itu teman saya.”

“Bapak kenal dengan ayah saya?”

“Iya. Saya kenal. Memang kamu punya uang untuk ke sana?”

“Saya enggak punya uang, Pak. Makanya saya jual motor ini untuk pendaftaran di Gontor.”

“Bapak kamu sekarang kerjanya apa?”

“Nyangkul di sawah, Pak.”

Laki-laki itu terlihat kaget. Lalu dia berujar, “Cita-citamu terlalu tinggi, Nak. Bapak kamu nyangkul. Sedangkan kamu mau ke Gontor. Ya, enggak bisalah. Kamu mondok di Tasik aja. Saya punya teman di Tasik. Dia punya pesantren. Kamu mau enggak?”

“Mohon maaf, Pak. Bukannya saya tidak mau menerima tawaran Bapak. Tetapi saya sudah bulat mau belajar di Gontor.”

Mendengar jawabanku, dia terdiam sejenak kemudian berkata, “Ya udah. Terserah kamu aja. Saya ambil motormu Rp 5,5 juta.”

Saya ragu dengan tawarannya. Beberapa menit berlalu, saya menjawab, “Ya udah, Pak. Ambil aja.”

Sambil melihatku, dia terlihat melayangkan anggukan. Saya menyerahkan kunci motor tersebut. Ia mengeluarkan uang di dompetnya. Ketika meraih kunci motor dari tanganku, dia bertanya, “BPKB-nya mana?”

“Enggak ada, Pak.”

“Loh. Kamu jual motor tanpa BPKB itu gimana?”

“BPKB-nya sedang digadaikan, Pak.”

“Loh kamu jual motor tapi enggak jelas BPKB-nya gimana sih. Ya udah. Saya enggak jadi ambil motormu.”

Ia bergegas menjauhiku. Berjalan melewati pasar yang jaraknya sekira 5 kilometer dari rumahku. Saya terdiam membisu. Satu kesempatan yang harusnya saya manfaatkan dengan baik, tiba-tiba hilang seketika.

Santriwati Gontor

Keesokan hari, saya teringat dengan anak kepala desa Wangunsari yang sedang belajar di Gontor. Di bulan Ramadan tahun 2016, anaknya sedang berlibur di kampung. Kepala desa itu bernama pak Dayat. Sementara anaknya kerap dipanggil Aikokom. Dia akan beranjak ke kelas 3 intensif di Gontor putri yang terletak di Mantingan, Ngawi, Jawa Timur.

Meskipun saya sudah mendapat informasi pendaftaran di Gontor, namun pengetahuanku tidak terlalu detail. Karena itu, saya memutuskan bertanya kepadanya. Saya mendatangi Aikokom di rumahnya. Kebetulan di rumah itu ada ibu kepala desa. Sebelum saya bertemu anaknya, saya berbincang terlebih dulu dengannya. Saya bertanya biaya pendaftaran anaknya saat mendaftarkan diri di Gontor.

Dia menjawab, “Aduh Andri. Ibu pulang pergi Gontor-Tasik itu habis Rp 20 juta.”

Saya tersentak mendengarnya. Jawaban perempuan itu membuat nyaliku ciut. Seketika keinginanku belajar di Gontor berusaha kupadamkan. Tak disangka, informasi dari ustadz Yosep tak sama dengan informasi yang disampaikan istri kepala desa itu.

Saat saya berpamitan pulang dari ibu kepala desa, muncul Aikokom. Saya bersalaman dengannya. Ibunya menyampaikan maksud kedatanganku. Ia berujar, “Ini Andri mau nanya. Daftar di Gontor kemarin habis uang berapa?”

Anaknya tersenyum. Dia mengatakan, “Ia kang Andri. Tunggu sebentar. Saya ambilkan formulirnya dulu.”

Saya mengangguk takzim. Perempuan berjilbab itu bergegas ke kamarnya untuk mengambil formulir. Beberapa menit berlalu, dia menyerahkan selembar kertas. Saya membacanya dengan teliti.

Beberapa menit saya perhatikan, ternyata biaya pendaftaran di Gontor berbeda jauh dari informasi yang disampaikan istri kepala desa. Dalam formulir itu tertera biaya pendaftaran sebesar Rp 5.020.000.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Aikokom dan ibunya, saya meminta diri untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang, keinginan saya menimba ilmu di pondok itu meningkat kembali. Saya memiliki kesempatan besar untuk mengenyam pendidikan di Gontor. Saya dapat menjual motor milik ayah dengan harga senilai biaya pendaftaran di pesantren yang didirikan tahun 1926 itu.

Bagaimana saya mendapatkan uang untuk mendaftarkan diri di Gontor? Tantangan apa saja yang akan saya hadapi? Artikel berikutnya akan mengulas napak tilas perjuangan saya melewati jalan berliku sebelum belajar di Gontor. (*)

Penulis/Editor: Ufqil Mubin

Catatan:

  1. Artikel yang memuat autobiorafi ini akan terbit secara berkala.
  2. Artikel ini ditulis ulang, diedit, dan disunting oleh Ufqil Mubin. Bahan artikel diambil dari hasil wawancara dengan ustaz Andri. Seorang lulusan Gontor yang kini menjadi guru di pesantren yang terletak di Ponorogo, Jawa Timur.

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close