Hard NewsHeadline

Ayam Ras Tak Terjual, Pedagang Terancam Bangkrut

Ayam Ras Tak Terjual, Pedagang Terancam Bangkrut
Harga daging ayam ras turun. Penyebabnya, stoknya sedang berlimpah. Meski pasokan sedang melimpah, para pedagang di Samarinda mengeluhkan minimnya pembeli. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – “Lihat di kotak kayu besar itu! Banyak ayam yang sudah dipotong dan dibersihkan. Itu belum terjual. Enggak lama lagi saya akan jual Rp 20 ribu per ekor. Itupun kalau ada yang beli. Kalau tidak ada, terpaksa saya jual lebih murah lagi,” kata Rahma (55), seorang pedagang ayam ras di Pasar Segiri Samarinda, Rabu (3/4/19).

Dia menyebut, sudah sebulan pasokan ayam ras berlimpah di pasar. Hal itu berimbas terhadap harga jual. Lazimnya, perempuan berambut putih itu menjual ayam tersebut dengan harga Rp 60 ribu per ekor. “Sekarang seekor saya jual Rp 50 ribu,” jelasnya.

Harga jual yang rendah tidak membuat konsumen berdatangan membeli ayam ras yang dijual Rahma. Justru saat harga di bawah normal itu, saban hari dia hanya mampu menjual 20 ekor.

“Jumlah itu sangat sedikit. Karena setiap ekor saya hanya dapat keuntungan Rp 10 ribu. Itu belum pengeluaran untuk gaji orang-orang yang bantu saya di sini,” ungkapnya sembari menunjuk 2 orang pria yang duduk di sampingnya.

Di saat stok ayam ras sedang berkurang, Rahma mendatangkannya dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Dia menjualnya kepada para pembeli di Pasar Segiri dengan harga Rp 60 ribu per ekor.

Ketika stok ayam itu berkurang, setiap hari dia mampu menjual 50 ekor ayam ras. Hal itu berkebalikan dengan keadaan saat pasokan ayam sedang membeludak. “Tapi belinya jauh. Kalau sekarang stoknya banyak. Saya beli di Samarinda,” terangnya.

Pengaruhi Deflasi

Kepala Kantor Bank Indonesia Wilayah Kaltim, Muhammad Nur mengungkapkan, banyaknya pasokan ayam ras telah memengaruhi deflasi di Bumi Etam. Pada Maret 2019, deflasi kelompok makanan bersumber dari harga daging dan telur ayam ras masing-masing sebesar -8,50 persen month to month (mtm) dan -10,33 persen (mtm).

Kata dia, jagung sebagai pakan ternak ayam sedang berada dalam puncak musim panen. Akibatnya, harga pakan lebih murah. Dampak lanjutannya, Harga Pokok Penjualan (HPP) ayam dan telur ayam ras lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya.

Di samping bahan makanan, kelompok transportasi turut mengalami deflasi. Penyebabnya, penurunan harga tarif angkutan udara. Namun demikian, kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga mengalami inflasi sebesar 0,31 persen.

“Deflasi periode ini (Maret) sebesar -0,18 persen (mtm). Lebih dalam dibandingkan bulan sebelumnya. Bahan makanan menjadi kelompok dengan tingkat deflasi 1,27 persen (mtm). Diikuti dengan kesehatan 0,22 persen (mtm) dan transportasi sebesar 0,19 persen (mtm),” ungkapnya.

Nur menjelaskan, berdasarkan kota pembentuknya, Samarinda mengalami deflasi sebesar -0,11 persen dan Balikpapan sebesar -0,28 persen. Adapun di tingkat nasional, inflasi sebesar 0,11 persen.

Tren deflasi diperkirakan tidak berlanjut pada April 2019. Kondisi ini disebabkan berakhirnya panen jagung pipilan di daerah sentra. Akibatnya dapat mendorong peningkatan harga daging dan telur ayam ras. Di samping itu, harga barang-barang lainnya akan meningkat sejalan dengan siklus peningkatan permintaan menjelang bulan Ramadan.

Ayam Ras Tak Terjual, Pedagang Terancam Bangkrut
Aji Sofyan Effendi (Istimewa)

Pemerintah Tak Perlu Campur Tangan

Pengamat ekonomi dari Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda, Aji Sofyan Effendi mengatakan, deflasi sebesar -0,18 persen pada Maret 2019 tidak berpengaruh signifikan terhadap roda perekonomian Kaltim.

Kata dia, besaran deflasi itu masih normal. Karenanya, pemerintah daerah dan masyarakat tak perlu risau. “Pemerintah juga tidak harus mengintervensi pasar. Biarkan saja. Itu siklus bulanan saja. Stok makanan sedang melimpah. Kalau stok berkurang, harga akan kembali normal,” imbuhnya.

Namun demikian, pengajar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unmul itu mengingatkan, pemerintah harus terus memantau perkembangan harga. Bulan ini diperkirakan harga-harga akan naik. “Itulah yang akan memicu inflasi,” ujarnya.

Sofyan menyebut, inflasi dan deflasi yang terlalu tinggi akan berpengaruh besar terhadap perekonomian Kaltim. Hal itulah yang perlu dipantau dan dikendalikan pemerintah dan TPID (Tim Pengendali Inflasi Daerah). “Agar harga-harga tetap normal,” sarannya. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Ufqil Mubin

Catatan: Inflasi yang dimaksud dalam artikel ini merujuk pada kenaikan harga barang dan jasa. Sementara deflasi adalah turunnya harga barang dan jasa.

5/5 (4 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close