Hard NewsHukum

Bejat, Seorang Ayah di Telen Tega Rudapaksa Anak Tirinya

Bejat, Seorang Ayah di Telen Tega Rudapaksa Anak Tirinya
KL (33) pelaku rudapaksa pada anak tirinya. (Istimewa)

Akurasi.id, Sangatta – Di masa pandemi Covid-19 tampaknya tingkat kekerasan seksual terhadap anak kian meningkat. Seperti yang terjadi di Kecamatan Telen Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Setidaknya, selama tahun 2020 sudah ada lima kasus kekerasan seksual pada anak yang terjadi.

baca juga: Kasus Ayah Setubuhi Anak Kandung, Aliansi Ormas Daerah Kaltim Ajukan Hukum Adat

Terbaru pada 24 Juli 2020 lalu, seorang Purna Paskibraka di Kecamatan Telen, Kutim menjadi korban rudapaksa atau pemerkosaan yang dilakukan ayah tirinya yang berinisial KL (33) asal Desa Juk Ayak.

Mawar (bukan nama asli) yang berusia 17 tahun harus kehilangan kesuciannya. Di mana sosok seorang ayah diharapkan mampu melindungi putrinya namun malah tega berbuat bejat menjadikan anak tirinya ini sebagai pelampiasan nafsunya.

Kasat Reskrim Polres Kutim, AKP Abdul Rauf mengatakan, pencabulan terjadi pada tanggal 24 Juli 2020) lalu sekira pukul 13.30 Wita. Pada saat itu korban tengah belajar di ruang tamu rumahnya, kemudian tiba-tiba ayah tiri korban datang menghampiri dan mengajak korban berbincang-bincang.

“Modus awal mengajak si anak mengobrol, lalu tangan pelaku mulai menggerayangi paha korban, lalu korban tepis karena takut korban langsung berdiri dan berusaha lari tetapi terlapor menarik tangan kanan korban dan kemudian mencekik leher korban,” papar Rauf, Rabu (29/7/2020).

Lebih lanjut, ini merupakan perbuatan yang pertama kali dilakukan pelaku terhadap korban. Berdasarkan data kepolisian, korban ini pun terbilang merupakan anak yang berprestasi di sekolahnya.

“Ini yang pertama dan langsung ketahuan, korban ini anak yang berprestasi karena pernah menjadi anggota paskibraka disalah satu kecamatan di Kutim,” ujarnya.

Pada kejadian naas itu korban terus berusaha memberontak sambil berteriak sehingga (KL) menarik lengan tangan korban, lalu mencekik lagi leher korban sambil mendorong hingga korban terjatuh, korban kemudian berdiri tetapi kemudian didekap dari belakang dan didorong ke kamar.

“Pada saat dalam kamar korban kemudian ditelanjangi dan dipaksa melakukan hubungan intim layaknya suami istri. Usai melampiaskan aksi bejatnya lalu korban pun sempat diancam oleh pelaku bahwa ia akan merobek perut korban,” paparnya.

Dalam keadaan masih telanjang pelaku baring di samping korban, tak berselang lama, sekira 30 menit usai menggagahi tubuh anak tirinya, aksi pelaku kepergok oleh ibu korban.

“Dalam keadaan masih telanjang pelaku baring di samping korban. Setengah jam kemudian ibu korban SE datang dan teriak histeris karena melihat terlapor yang telanjang berbaring di samping anaknya,  kemudian SE membawa korban ke tempat ketua RT untuk melaporkan kejadian tersebut,” jelasnya.

Setelah mendapat informasi dari masyarakat, anggota Polsek Muara Wahau yang dipimpin langsung Kapolsek, AKP Muhammad Yusuf mendatangi TKP, tetapi terlapor sudah melarikan diri ke hutan sehingga tidak dapat diamankan. Pencarian terlapor sempat mengalami hambatan karena medan semak belukar dan hutan.

“Sempat beberapa kali terjadi kejar mengejar antara petugas dan KL, tetapi KL berhasil lolos, selama empat hari pencarian atas kerja sama pihak kepolisian, keluarga terlapor dan masyarakat akhirnya tempat persembunyian KL dapat diketahui hingga terlapor dapat diamankan dan diproses lebih lanjut sesuai ketentuan yg berlaku,” terangnya.

Atas perbuatannya tersebut kini KL harus menanggung hasil perbuatan bejatnya, dengan sengaja melakukan kekerasan memaksa anak melakukan persetubuhan dengan pasal yang disangkakan yakni Pasal 81 ayat (1) dan (3) Jo pasal 76D UU No 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, dengan pidana 15 tahun penjara. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Dirhanuddin

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close