Catatan

Belajar dari Kasus Audrey

Ella Ramlah (Akurasi.id)

Ditulis Oleh: Ella Ramlah

10 April 2019

Tagar #JusticeforAudrey viral di media sosial. Tagar tersebut ramai dibicarakan publik sebagai respons atas kasus perundungan (bullying) yang dialami gadis bernama Audrey. Murid sekolah menengah pertama (SMP) di Pontianak, Kalimantan Barat. Tagar tersebut merupakan petisi untuk meminta keadilan untuk Audrey. Siswi SMP yang menjadi korban pengeroyokan. Tak tanggung-tanggung, pelaku berjumlah 12 orang dan semuanya masih berstatus siswi sekolah menengah atas (SMA). Saya kira kasus bullying tingkat brutal hanya ada di drama Korea. Nyatanya tidak. Kejadian ini ada di tanah air. Tepatnya di Pontianak.

Dalam kasus ini, korban dianiaya karena dipicu obrolan di WhatsApp terkait laki-laki yang menjadi pacar salah seorang pelaku sekaligus mantan kekasih dari kakak korban. Secara logika, yang bermasalah tentu mantan pacar.

Namun anehnya, pelaku melibatkan siswi-siswi SMA. Mungkin atas dasar solidaritas, para pelaku lain ikut menganiaya korban. Namun, solidaritas dan tipe pergaulan geng wanita ini yang salah.

Hal lain yang mengerikan dari kasus ini adalah cara para pelaku melampiaskan kekesalannya. Audrey adalah korban. Statusnya adik sepupu si mantan. Dikabarkan motif pelaku adalah untuk memancing si mantan keluar dari rumahnya.

Memancing si mantan keluar dari rumahnya dengan menganiaya adiknya? Masuk akal? Hal brutal seperti ini pasti ada pemicunya. Pasti ada salah seorang di antara belasan siswi itu yang menjadi biang. Atau mungkin ada contoh yang pernah dilihat salah satu pelaku lalu berkembang menjadi skenario sadis. Ngeri ya?

Saat membaca berita ini, saya bereaksi dengan cara yang sama seperti warganet pada umumnya. Langsung meledak. Cacian untuk pelaku sudah menghiasi jagat Twitter. Bagaimana tidak, pelaku dikabarkan masih sempat berswafoto dan menggunakan fitur boomerang khas Instagram saat berada di kantor polisi. Banyak orang, khususnya saya, mengutuk tingkah pelaku.

Namun, bagaimanakah baiknya? Saat kita menghadapi kasus tindak kriminal, kekerasan, atau pelanggaran lain yang melibatkan pelaku yang masih di bawah umur, akan ada dilema yang dihadapi kepolisian.

Dalam kasus ini, di satu sisi korban adalah anak di bawah umur yang harus dibela haknya. Di sisi lain, pelaku masih berstatus siswa SMA yang tentunya mendapat pertimbangan-pertimbangan khusus terkait hukumannya.

Seperti yang diterangkan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Anak yang berkonflik dengan hukum adalah mereka yang berusia 12-18 tahun dan diduga melakukan tindak pidana. Dalam proses peradilannya diwajibkan adanya diversi. Tujuannya sebisa mungkin mengarah pada perdamaian di antara kedua belah pihak.

Wacana seperti ini yang menyulut amarah warganet hingga timbul tagar yang menyuarakan keadilan bagi korban. Dilematis memang. Undang-undang ini terkesan mempertimbangkan nasib korban. Namun juga harus memberikan efek jera pada pelaku. Pada akhirnya, kasus ini bergantung proses peradilan dan iktikad pelaku serta keinginan korban.

Undang-undang perlidungan anak tentunya dibuat untuk melindungi masa depan pelaku yang masih panjang. Sayangnya, perilaku remaja tersebut tak layak disebut kenakalan. Dalam kasus ini, korban diseret, ditendang, dipukul, dan dilukai bagian tubuh vitalnya.

Jika hal seperti ini dinamakan kenakalan remaja, apakah disamakan dengan teman SMA saya yang lompat pagar dan bolos sekolah? Akankah kasus ini berhenti di sini karena amarah warganet atau malah mengundang inspirasi rekan sejawat? Atau jangan-jangan ini hanyalah sepotong potret kenakalan remaja masa kini?

Dalam kasus ini, seharusnya banyak pihak yang terlibat. Bukan hanya menyuarakannya lewat petisi warganet. Tapi juga ada wacana lebih luas dari sekolah, institusi pendidikan, keluarga, dan masyarakat. Korban bisa saja masih trauma. Pelaku bisa saja tidak jera. Tapi apakah kita juga akan lupa? Jangan! Tolong jangan berhenti di petisi!

Tengoklah anak Anda, keponakan Anda, murid Anda, dan tetangga Anda. Tanyakan pendapat mereka tentang kasus ini. Tanyakan apakah mereka mengalami bullying di sekolah. Tanyakan apakah mereka pernah melakukan hal buruk pada temannya. Tanyakan apakah ada hal serupa di sekolah mereka. Tanyakan, dengarkan, dan perhatikan.

Kasus ini hendaknya menjadi evaluasi bagi siapa pun yang menggantungkan harapan pada anak bangsa. Memberikan edukasi sekaligus menjadi teman yang baik bagi remaja adalah pekerjaan rumah yang sulit bagi orang tua. Apalagi orang tua yang juga membagi waktunya untuk mencari nafkah.

Berharap dengan bersekolah, anak mampu mempelajari norma sosial dan membekali diri dengan ilmu untuk masa depan. Sayangnya, hal negatif bisa muncul di sekolah. Salah satunya melalui pergaulan yang salah. Emosi remaja memang terkenal labil. Perubahan hormonal disebut-sebut sebagai penyebabnya.

Bagaimanakah seharusnya remaja meluapkan emosi? Di sinilah dibutuhkan peran orang tua untuk memperhatikan perubahan-perubahan emosi anak. Jika dia marah, apa yang dilakukan? Adakah kecenderungan melakukan kekerasan?

Terkadang orang tua sudah merasa bahwa mereka tidak memberikan contoh yang buruk dan selalu mendengar curahan hati anaknya. Namun, lingkungan memberikan atmosfer yang berbeda. Sebut saja tayangan televisi, konten Youtube, atau berita kekerasan yang berseliweran.

Menekankan arti pertemanan dan pentingnya memilih lingkungan pergaulan bukan perkara mudah untuk disampaikan kepada anak. Apalagi pada remaja yang mulai merasa dirinya ingin diakui. Hal ini tidak serta merta dilakukan dengan metode ceramah sekali dua kali. Namun dengan pendekatan antara orang tua kepada anaknya. (*)

Editor: Ufqil Mubin

5/5 (3 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar

Lihat Juga

Close
Back to top button
Close
Close