CorakHard News

Bermula dari Cinderamata, Batik Tradisional Kuntul Perak Membudaya Dalam E-Commerce

Brigita, seorang pembantik di kelompok Batik Etam Kota Bontang tampak fokus saat membuat batik kuntul perak khas Kota Taman. (Dirhanuddin/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Tatapan Brigita begitu lekat. Hampir semua korneanya menyudut di satu titik. Matanya hampir-hampir tidak berdekip sedikit pun. Dalam kelenggangan, napasnya begitu teratur, seiring tarikan tangannya yang menyulam ukiran di atas kain.

Menit berbilang jam. Perempuan 48 tahun itu masih lekat dalam aktivitasnya menyoret-nyoret dan menembok sederek kain. Tangannya begitu cekatan membasahi canting dengan lilin panas yang berada di atas tungku kecil yang terletak tepat di sisi kanannya.

Setiap kali membasahi canting, Brigita hampir tidak pernah mengeserkan kornea matanya ke tungku. Dia begitu setia menyemai canting dan melukiskannya di atas kain bercorak yang telah menutupi hampir separuh badannya.

Sejak fajar menyingsing di timur Kelurahan Gunung Telihan, Kecamatan Bontang Barat, Kota Bontang, hingga mencakar separuh yaum, ibu dua anak itu sudah begitu karib dengan dunia membantik. Brigita adalah salah satu pembantik yang dimiliki kelompok Batik Etam punya Sayid Abdul Kadir Assegaf.

Sejak tiga tahun lalu, Brigita sudah bergabung sebagai pembantik di Batik Etam. Batik yang dihasilkan dari tangan Brigita dengan para pekerja lainnya adalah batik tradisional Bontang, yakni batik kuntul perak. Sejak diperkenalkan Sayid tujuh warsa lalu, batik kuntul perak sudah langsung lekat di hati masyarakat Bontang.

Batik yang dikenal akan corak dan motifnya yang unik ini tidak hanya membumi di Kota Taman–sebutan Bontang-, melainkan telah dikenal hingga nasional dan mancanegara. Selain karena sudah malang melintang di berbagai festival busana Tanah Air, bantik kuntul perak cepat menjamur ke daerah lainnya setelah nangkring di media sosial (medsos), seperti Facebook dan Instagram.

Kuntul Perak, Maskot dan Burung Asli Kota Bontang

Seorang pembantik di rumah rumah Batik Etam melakukan proses pembantikan batik kuntul perak. (Dirhanuddin/Akurasi.id)

Batik kuntul perak diketahui merupakan batik pertama di Bontang. Penamaan batik kuntul perak diambil dari nama burung kuntul perak. Burung ini sendiri diketahui merupakan burung asli Kota Taman dan telah menjadi maskot di daerah itu.

Pengusaha dan pencentus batik kuntul perak, Sayid Abdul Kadir Assegaf bercerita, batik kuntul perak dikenal karena memiliki banyak motif. Corak dalam batik ini sangat khas akan ukiran Kalimantan. Meliuk-liuk dan penuh rupa.

“Awal saya membuat batik kuntul perak ini sebagai cinderamata. Pada 2009-2010, saya berpikir, harus ada sesuatu yang bisa bertahan lama dan selalu diingat orang. Kalau makanan, pasti cepat habis. Dari situ, saya berpikir membuat batik dan itu khas Bontang,” kata dia saat media ini berkunjung ke Bontang belum lama ini.

Ketika pertama kali menelurkan batik, ide pertama yang terlintas dari Sayid adalah bagaimana membumikan batik kuntul perak di Kota Bontang. Salah satu yang dia sasar kala itu yakni Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang. Sayid berpandangan, jika batik yang dia buat dapat dipakai di lingkungan pejabat dan pegawai pemerintah, maka dia yakin batiknya akan mudah dikenal masyarakat.

“Dulu saya pernah dibawa Pupuk Kaltim ke Malaysia untuk pameran. Sepulang dari situ, saya dipanggil Disperindagkop Bontang karena dianggap pengusaha muda. Setelah itu, saya diberikan pelatihan membatik di Yogyakarta,” tutur dia berbagi cerita.

Namun karena merasa ilmu yang dia dapatkan belum mumpuni, Sayid lalu mengajukan proposal kepada Pupuk Kaltim untuk mengadakan pelatihan membantik. Alhasil, dari situ, dia semakin mendalami ilmu membantik hingga akhirnya sukses mendirikan rumah membantik sendiri di Kota Bontang.

“Nah, Bontang inikan punya maskot burung kuntul. Dan banyak yang belum tahu itu. Saya kemudian berpikiran membantik dengan motif burung kuntul. Ada juga motif mangrove. Alhamdulillah, pada 2011 saya buat, langsung direspons baik Pemkot Bontang,” cakapnya.

Kian Membumi Setelah Menjamah Dunia Maya

Perkembangan usaha membantik Sayid dari tahun ke tahun tidak langsung melonjak drastis. Untuk memperkenalkan dan membumikan batik kuntul perak, pria kelahiran Balikpapan, 9 September 1975, ini perlu memutar otak.

Namun sebagai alumni Universitas Sahid Jakarta, Sayid paham benar bahwa perkembangan teknologi informasi saat ini, jika dimanfaatkan secara baik dan bijak, akan dapat memberikan peluang yang bagus untuk memasarkan usaha ke berbagai daerah, baik di Kaltim maupun daerah lain di Nusantara.

Pada 2013 lalu, dua tahun setelah batik kuntul perak resmi diperkenalkan dan menjadi sektor bisnis, Sayid bergegas membuatkan sebuah akun Instagram @batikkuntulperak. Selain karena dukungan dari pemerintah setempat, eksistensi kelompok Bati Etam milik Sayid, juga tidak bisa dilepaskan dari promosi yang dijejal di medsos.

“Awalnya, batik kuntul perak saya promosikan di Facebook @batikkuntulperakbontang. Setelah itu saya buatkan lagi akun Instagram-nya @batikkuntulperak. Sebelum itu, saya mainnya di BlackBerry. Cuman karena banyak yang tertarik, akhirnya saya buatkan Facebook dan Instagram,” jelas dia.

Bak dayung bersambut, sejak kedua akun media sosial itu diaktifkan, Sayid langsung mendapatkan respons positif dari warga dunia maya. Banyak orang Kaltim, maupun daerah lainnya di Indonesia dan mancanegara yang meminta dibuatkan batik kuntul perak.

“Pemasaran di Instagram maupun Facebook, sementara ini memang masih saya batasi. Karena SDM yang saya miliki juga cukup terbatas. Ya, media sosial ini memang memberikan dampak yang cukup signifikan,” katanya.

Sebulannya, pemesanan batik kuntul perak milik Sayid yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Belimbing, Bontang ini, baik secara person to person atau melalui e-commerce dapat mencapai 200 batik. Sampai pertengahan September ini saja, jumlah pemesan batik kuntul sudah mencapai 100 batik.

“Khusus melalui media sosial, baik itu Facebook dan Instagram, memang masih untuk kalangan tertentu yang saya terima. Misalnya untuk pejabat atau pengusaha. Selain karena memang harganya yang sedikit mahal, antara Rp 700 hingga Rp 1 juta untuk setiap batiknya. Tapi itu khusus batik lukis,” ungkapnya.

Ke depannya, Sayid memang memiliki keinginan memperluas pangsa pasar batik yang dia kelola. Pengembangan secara e-commerce adalah salah satu yang ingin dia manfaatkan dan maksimalkan. Namun sebelum ke situ, terlebih dahulu Sayid ingin memperbanyak jumlah pengrajin batik di kelompok Batik Etam miliknya.

“Kalau saya terlalu membuka pemasaran lewat media sosial, kasihan SDM yang saya punya. Contohnya saja, setiap kali saya posting batik kuntul perak atau batik motif lainnya di Instagram, pasti langsung banyak yang order. Banyak dari mereka adalah pejabat dan pengusaha,” tuturnya.

Walau demikian, Sayid sendiri tidak begitu terlalu banyak berbicara omzet yang dia dapatkan setiap bulannya dari usaha batiknya. Namun dia mengakui, usaha batik yang dia jalankan cukup produktif, terlebih dengan adanya pemasaran melalui e-commerce.

Jumlah pengikut Instagram @batikkuntulperak sendiri sudah mencapai 4.613 orang. Dengan postingan batik kuntul perak sebanyak 762. Sedangkan di Facebook @batikkuntulperakbontang, telah diikuti sebanyak 1.277 orang, dengan postingan yang juga sudah mencapai ratusan model batik kuntul perak. (*)

Penulis: Dirhanuddin
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (5 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close