HeadlineIndepth

Bukit Bangkirai, “Perawan” Hutan Tropis di Batas Rencana Pembangunan Ibu Kota Negara (1)

Bukit Bangkirai
Keberadaan hutan Bukit Bangkirai bisa disebut menjadi salah satu paru-paru dunia yang ada di Kaltim. (Dirhanuddin/Akurasi.id)

“Sebuah bangsa yang menghancurkan tanahnya (sama halnya) menghancurkan dirinya sendiri. Hutan merupakan paru-paru tanah kami, memurnikan udara dan memberikan kekuatan baru kepada orang-orang kami.” Franklin D. Roosevelt (Negarawan dan presiden ke-26 dari Amerika Serikat 1882-1945).

Akurasi.id, Samarinda – Langit Bukit Bangkirai bergemuruh hebat. Suara petir bagai memecah dirgantara. Di antara kelengangan malam, deru halilintar seakan sedang bermuram durja. Tak henti-hentinya melepaskan kilatan. Seakan sedang menunjukkan keperkasaannya jika malam itu dia yang berkuasa.

Hujan rintik-rintik laman berganti guyuran tirta bumantara. Di bawah gulita malam, sekira pukul 03.20 Wita, hujan bagai sedang bersenandung dengan kilatan halilintar. Sesaat kemudian terdengar suara yang begitu perkasa. “Duuuuuaaarrrrr” bahana menggelegar itu benar-benar mengagetkan saya.

Baca Juga: Mengeksplor Pulau Beras Basah, Destinasi Wisata Khas Kota Taman yang Butuh Sentuhan Pelayanan Air Bersih

Hampir 4 jam lamanya hutan Bukit Bangkirai membasahi dirinya dengan air hujan. Petir yang terus-terusan memekik tiada henti di tengah kelengangan malam yang perlahan menuju pagi menjadi syair menjadi ciri khas hutan hujan tropis.

Hawa dingin hujan yang sedang bercumbu dengan keranuman serta kerindangan hutan Bukit Bangkirai, menyerobot ke tulang sumsum, membuat saya benar-benar terjaga. Dengan rasa kantuk yang masih tersisa bersama hangatnya selimut, saya paksakan agar raga bangun dari tilam.

“Ayo, bangun. Sudah pagi. Mandi-mandi,” suara Mas Suri menggedor-gedor pintu kamar membangunkan Risky, Izul serta saya yang kebetulan tidur sekamar pada Sabtu (26/10/19).

Sabtu itu, bersama delapan awak jurnalis Kaltim lain serta humas Pemprov Kaltim, saya berkesempatan bertandang ke Bukit Bangkirai, sebuah kawasan wisata alam yang terletak di Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Kami semua tergabung bersama Forest Carbon Partnership Facility (FCPF).

Kami berangkat dari Samarinda sejak Jumat (25/10/19) siang. Dari arah SPBU Km 38 Samboja, Jalan Poros Samarinda-Balikpapan, hanya dibutuhkan waktu sekitar 35 menit menuju Bukit Bangkirai. Hutan Bukit Bangkirai layaknya oasis di tengah pembangunan yang kian mengimpit.

Pagi yang kian menyingsing mulai menggusur guyuran hujan. Di bawah kerindangan hutan, tanah Bukit Bangkirai benar-benar basah. Tidak mau berlama-lamaan menyemai udara dingin, saya dan beberapa kawan lantas beranjak dari tempat penginapan menuju sebuah warung yang berjarak sekitar 150 meter ke sisi barat.

Di bawah rintik-rintik kecil hujan yang masih tersisa, kami terus berjalan. Corak alam begitu tampak indah menemani jejak langkah yang kami buat. Di sisi barat, pepohonan bangkirai menjadi pagar alam yang menjulang ke dirgantara. Setibanya di warung Mbah Ndut -begitu nama warung itu tertulis-, teh panas telah menyambut.

Tak mau berlama-lamaan dan membiarkan rasa dingin menyelimuti raga, teh panas yang masih menguap itu senada kami seruput. Dingin yang semalam membuat kami bersembunyi di balik selimut perlahan menghilang dan berganti kehangatan seiring teh yang mengalir di tenggorokan, sebelum membasahi organ di dalam dada.

Menyusuri “Keperawanan” Hutan Bukit Bangkirai

Bukit Bangkirai
Di hutan Bukit Bangkirai masih banyak ditemukan beraneka ragam jamur-jamuran. (Dok Penulis)

Hutan Bukit Bangkirai masih begitu basah. Sisa-sisa halimun tampak masih membasahi dedaunan. Hujan yang telah tergusur baskara masih meninggalkan hawa dingin. Raksi alam begitu khas. Tatkala tungkai kami akan mengegah ke hutan, suara yang begitu karakteristik menyambar dari arah utara perbukitan. Pekikannya perkasa dan dramatik. Menguasai hutan yang ada di sekelilingnya.

“Itu ada burung Enggang,” kata Risky sembari menunjuk ke sebuah pohon besar yang terletak di tengah hutan Bukit Bangkirai. “Iya, itu burung Enggang. Mantapnya eeehhh,” sahut Izul turut memberikan keyakinan kepada rombongan yang lain.

Di atas pucuk pohon yang sudah tak berdaun. Burung Enggang tampak begitu gagah. Sayap hitam tebal. Kepala bertanduk yang melengkung ke atas dengan paruh putih panjang menjadi ciri khasnya. Perpaduan warna hitam dan putih pada bagian bulu-bulu ekornya kian menambah keelokannya.

Kehadiran burung yang juga biasa disebut burung Rangkong pada Sabtu pagi itu, mentasdik jika hutan Bukit Bangkirai masih menjadi rumah yang alami bagi flora dan fauna yang ada di dalamnya. Sebab, pepohonan dengan bergabai rupa masih tumbuh subur tanpa keraguan.

Pukul 08.45 Wita, rombongan jurnalis dan humas Pemprov Kaltim yang tergabung dalam FCPF memulai perjalanan menyusuri kawasan wisata alam hutan Bukit Bangkirai. Sejak diresmikan 21 tahun lalu atau 14 Maret 1998 oleh Menteri Kehutanan Djamaluddin Soerjohadikusumo, hutan Bukit Bangkirai masih tampak terjaga.

Jalan berundak-undak yang terbuat dari akar pohon dan sisa-sisa kayu menjadi keunikan tersendiri saat menapakkan kaki di bawah rindangnya kanopi. Hutan yang terletak di areal IUPHHK PT Inhutani I Batuampar Mentawir itu selain tempat wisata, juga menjadi wadah penelitian biodiversity, pendidikan serta pelatihan mengenai kehutanan, khususnya tentang hutan hujan tropika basah yang berada di Pulau Kalimantan.

Tamrin, kepala Unit Usaha Jasa WisataPT Inhutani yang memandu perjalanan menyebutkan, kawasan wisata alam Bukit Bangkirai terletak di hutan seluas 510 hektare. Setidaknya, terdapat lebih kurang 2.800 jenis flora dan fauna yang didominasi jenis pohon dipterocarpaceae khususnya shorealaevis (bangkirai) tumbuh di kawasan tersebut.

Selain itu, di tempat itu diketahui terdapat sekitar 3.000 jenis jamur, 13 jenis rotan, 24 jenis anggrek termasuk anggrek hitam, serta 113 burung, hewan mamalia dan serangga yang hidup di kawasan Bukit Bangkirai.

“Wisata alam Bukit Bangkirai ini kami kembangkan menjadi wisata edukasi dan ekoturisme. Tujuannya untuk menjaga lingkungan supaya tidak rusak namun tetap dapat kami manfaatkan menjadi jasa lingkungan,” tutur dia.

Sepanjang mata memandang, gugusan pepohonan besar dengan berbagai jenis dan bentuk menjadi benteng kokoh serta menjadi dinding-dinding hutan. Pohon melunak (pentacelaxiflora), puntat (barringtomamacrostachy), keruing (dipterocarpus cornutus), dan smangkok (scaphiummacropodum) adalah sedikit dari pepohonan yang tumbuh mekar di Bukit Bangkirai.

Pepohonan yang tertiup angin berderik-berderik. Dibumbui suara jangkrik dan tonggeret, hutan Bukit Bangkirai layaknya sedang bersenandung. Sejurus dengan itu, sesekali suara tawa pecah tatkala ada dari rombongan melemparkan guyonan.

Sekitar 15 menit setelah berjalan menyusuri hutan, di arah kejauhan, jalan setapak yang sedang kami lewati tampak telah tertutup pepohonan besar. Namun di sisi tengahnya tampak telah dipotong, sehingga bisa dilintasi. Pohon itu tampak sudah seperti menjadi fosil.

Pohon bangkirai (shorealaevis) begitu Tamrin menyebutnya. Pohon itu telah memasuki usia tua. Akarnya yang dangkal dan tumbuh di pinggir jurang membuat pohon itu mudah tumbang saat sudah berusia senja. Kayu berdiameter 100 centimeter (cm) dengan panjang 40 meter itu, diketahui sudah berusia sekitar 150 tahun. Walau sudah mati, kayu itu masih dapat dimanfaatkan untuk bangunan karena tergolong kayu yang kuat.

Uji Nyali di Atas Ketinggian Puluhan Meter dengan Canopy Bridge

Bukit Bangkirai
Canopy bridge dibuat di atas pohon bangkirai dengan ketinggian mencapai 35 meter. Selain itu, pohon melunak, puntat, keruing, dan smangkok tumbuh subur di Bukit Bangkirai. (Dirhanuddin/Akurasi.id)

Satu hal yang unik dari wisata hutan Bukit Bangkirai adalah keberadaan Canopy Bridge. Ya, Canopy Bridge adalah jembatan gantung dengan panjang sekitar 64 meter. Menghubungkan tajuk yang dibangun di atas empat pohon besar bangkirai. Memiliki ketinggiannya sekitar 35 meter.

Mendapati Canopy Bridge, awak media yang ikut dalam jelajah alam Bukit Bangkirai benar-benar merasa tertantang. Tidak terkecuali saya. Akan sangat disayangkan datang ke Bukit Bangkirai jika tidak mencoba wahana itu. Begitu saya mentasdik diri.

Setahap demi setahap undak-undakan kayu yang menuju ke puncak jembatan kanopi saya coba pijak. Awalnya saya merasa cukup biasa-biasa saja. Namun seiring kaki yang melangkah ke ketinggian, jantung mulai terasa berdegup-degup. Tiba di tajuk, kaki benar-benar terasa bergetar. (Mau turun lagi malu, ditertawakan. Melangkah bikin ngerik-ngerik sedap. Maklum, tinggi sekali. Hehehe).

Dengan keberanian yang tersisa, pelan-pelan saya mencoba melangkah. Antara malu (ditertawakan yang lain) dan bulu yang mulai bergidik. Saya memaksakan kaki melangkah. Tatkala mengangkat kepala, semua rasa takut itu hilang dan terbayarkan dengan keindahan alam Bukit Bangkirai. (Sedikit ngeles. Hehehe).

Hamparan hutan nan luas membentang. Sejauh mata menyusuri, hanya hijaunya pepohonan yang tergambarkan. Tidak ada sedikit pun hutan yang terlihat tersingkat. Suara burung-burung hutan seakan berpadu-padan dengan hijau ranumnya pepohonan bangkirai.

Social Development Expert FCPF Carbon Fund Akhmad Wijaya, yang juga jadi pemandu dalam kegiatan itu menyebutkan, Canopy Bridge adalah salah satu jembatan kanopi dan ikon wisata yang dimiliki Kaltim dan juga Indonesia.

MAHYUNADI

“Ini termasuk salah satu tipe hujan tropis di Kaltim, didominasi jenis pohon dipterokarpase, seperti pohon bangkirai untuk di dataran rendah di bawah 200 mdpl (meter di atas permukaan laut). Yang masih tersisa termasuk di sini,” kata dia.

Keberadaan pohon bangkirai seperti halnya di daerah dataran rendah yang lain, misalnya di Bukit Soeharto dan Taman Hutan Raya (Tahura) sebagian sebesar sudah tidak alami lagi. Karenanya, menurut dia, merawat dan menjaga hutan Bukit Bangkirai sangat penting dilakukan.

“Dalam konteks menjaga hutan, bukan hanya untuk kebutuhan menjaga air, binatang, dan sebagainya, tetapi ini miniatur sebagai wadah ilmu pengetahuan juga. Kalau kita mau belajar manfaat hutan, maka kita bisa ke sini. Ini bisa menjadi laboratorium bagi masyarakat yang pengin belajar,” tuturnya.

Alumni Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda itu menyebutkan, keberadaan hutan Bukit Bangkirai yang terbentang dari Kukar hingga ke Penajam Paser Utara (PPU) bisa dikatakan akan menjadi salah satu kawasan yang kemungkinan besar masuk dalam lokasi pembangunan ibu kota negara (IKN).

“Ini menjadi salah satu nilai tambah bagi IKN. Ke depan, IKN akan memiliki konsep ForestCity. Kemungkinan ini akan menjadi lokasi di tengah-tengah IKN. Keunggulan IKN adalah 3B, brain, beauty, andbehavior. Posisinya itu ada di Bukit Bangkirai,” ungkapnya. (*)

Penulis: Dirhanuddin

5/5 (1 Review)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close