Lifestyle

Cara Tepat Mengatasi Anak yang Kecanduan Smartphone

Ilustrasi (IstimCara Tepat Mengatasi Anak yang Kecanduan Smartphoneewa)
Ilustrasi (Istimewa)

Akurasi.id, Bontang – Baru-baru ini viral video seorang anak yang menangis ketakutan melihat kedua matanya hitam seperti panda. Anak tersebut meraung dan berjanji tidak akan bermain smartphone lagi. Rupanya mata panda merupakan trik ibu agar anaknya merasa matanya sakit akibat terlalu sering bermain ponsel.

Rupanya trik itu menginspirasi salah seorang ibu rumah tangga di Kota Taman. Sebut saja Rani–bukan nama sebenarnya. Dia sudah mempraktikkan cara yang dianggapnya manjur mengatasi kecanduan handphone (HP) yang dialami anaknya yang berusia dua tahun sembilan bulan. Ia tertarik mencobanya karena dia melihat sudah banyak orang yang menerapkannya.

“Saya lihat di sosmed [sosial media]. Kan banyak orang-orang yang share juga. Nah, saya ikuti juga caranya,” ujar dia kepada Akurasi.id belum lama ini.

Sejak usia satu tahun, anak perempuannya sudah mengenal HP. Dia menduga anaknya mulai menyukai ponsel sejak dikenalkan anak-anak yang usianya lebih tua. Di awal-awal, anaknya sekadar ikut-ikutan. Lambat laun anaknya kerap meminjam HP untuk menonton video di Youtube.

“Dia kalau minta HP sampai memaksa. Kalau tidak dikasih, [dia] nangis,” ujar ibu berusia 25 tahun ini.
Jika sibuk mengerjakan urusan rumah tangga, Rani sering memberi HP agar anaknya tenang. Saat bermain smartphone, anak pertamanya dapat menghabiskan waktu setengah jam hingga satu jam di pagi hari.

Perempuan yang tinggal di Kelurahan Berebas Tengah ini mengaku pernah kecolongan melihat anaknya bermain HP lebih dari tiga jam di malam hari.

“Saya enggak tahu karena ketiduran pas malam jam 12. Saya terbangun dan melihat anak saya masih main HP. Waktu itu saya kasih HP jam 9 malam. Saya ambil HP-nya. Dia nangis, lalu ketiduran,” ungkapnya.

Rani mengaku khawatir saat anaknya kecanduan HP. Sebab buah hatinya masih terlalu kecil untuk mengalami akibat buruk karena bermain ponsel. Setahu dia, berada di depan layar HP selama berjam-jam dapat mengakibatkan sakit mata. Sudah banyak anak yang matanya berdarah akibat terpapar radiasi HP.

Melihat trik mata panda yang viral di sosmed, Rani pun mencobanya. Dia memoles eyeshadow hitam miliknya pada kedua mata anaknya kala tertidur pulas. Di pagi hari, saat anaknya mengetahui matanya hitam, dia terus menutup matanya karena takut.

Sejak saat itu Rani mengaku senang anaknya kapok bermain HP. “Kalau saya kasih HP, dia teriak bilang enggak mau. Katanya nanti matanya sakit,” ucapnya sambil tertawa.

Berdampak pada Psikologis Anak

Mendidik anak dengan cara menakut-takuti dan membohonginya adalah kekeliruan. Hal ini disampaikan Praktisi Psikologi Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang, Adela Setyawati. Kata dia, banyak orang tua yang tergiur mencoba dan membuktikan cara tersebut. Dalam jangka pendek, cara ini memang berhasil. Namun, larangan terhadap anak disebut Dela sebagai cara yang keliru.

Menurutnya, landasan mendidik adalah menumbuhkan kesadaran, menanamkan pemahaman, dan membentuk sikap. Ibu hanya membutuhkan pemahaman mendidik yang benar, ketegaan sesuai porsi, komitmen, dan konsistensi.

Jika orang tua kurang tepat mendidik anak, maka akan berdampak terhadap psikologis anak. Dela menuturkan, ada masanya anak menyadari bahwa dirinya dibohongi. Kepercayaan anak kepada orang tua seharusnya semakin bertambah justru memudar bahkan hilang.

“Ini sama seperti kita kalau dibohongi. Pasti tidak akan mudah untuk kembali percaya kepada orang yang sudah membohongi kita,” bebernya.

Dampaknya tidak hanya sampai di situ. Jika anak tidak memiliki kepercayaan terhadap orang tuanya, maka anak tidak memiliki seseorang yang bisa dia dengar dan percaya lagi. Anak akan belajar hal yang salah ketika berkomunikasi.

“Maka akan tumbuh sebuah nilai baru yang keliru. Berbohong [dianggap] sesuatu yang lumrah,” kata Dela.

Membohongi anak dan sengaja menakuti anak dapat diibaratkan orang tua mematahkan kemampuan anak dapat berpikir jernih dalam menganalisa dan menganalogikan sebab akibat.

Cara Tepat Mengatasi Anak yang Kecanduan Smartphone
Adela Setyawati (istimewa)

Padahal hal tersebut sangat dibutuhkan bagi perkembangan kemampuan berpikir (kognitif) anak. Dampak lainnya bisa mengakibatkan trauma psikologis pada anak. Tanda-tandanya dia merasa kaget (shock) terhadap sesuatu yang dilihat dan didengarnya dari orang tuanya.

“Segala bentuk trauma psikologis membutuhkan treatment khusus untuk mengatasinya. Jadi jangan bermain-main dengan dampak tersebut,” imbuh Dela.

Cara yang Tepat

Jika anak sudah terlanjur kecanduan HP, Dela membeberkan cara tepat tanpa harus membohongi anak: Pertama, pahami batasan yang akan diberlakukan untuk anak. Orang tua wajib membatasi apa saja yang ingin dilihat anak di HP serta membatasi waktunya.

“Kedua, orang tua perlu memberikan edukasi pada anak. Ketiga, tanyakan kepada anak apakah mereka paham dengan penjelasan dan aturan yang sudah dijelaskan orang tua,” sebutnya.

Keempat, setelah anak paham, buat kesepakatan dengan anak termasuk hukumannya jika anak melanggar aturan yang telah disepakati bersama. Kelima, awasi anak saat bermain HP.

“Keenam, pastikan anak hanya dipinjami saja. Bukan dibelikan HP. Ketujuh, pastikan anak hanya boleh mengakses HP di area terbuka seperti ruang keluarga. Bukan asyik bermain HP di kamarnya,” saran dia.

Kedelapan, orang tua harus tegas mengingatkan aturan agar anak paham bahwa aturan tidak dibuat di awal saja. Namun benar-benar dipatuhi dan diterapkan sehari-hari.

“Terakhir, kesembilan, konsisten bertindak sesuai aturan yang telah disepakati. Maka anak akan terkondisi sesuai harapan orang tua,” ucap Dela. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Ufqil Mubin

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close