CorakIsu Terkini

Cara Unik Berjualan Pentol

Mitra Bisnis Marlina, Dita Siregar bersama anak Marlina, Muhammad Fikri Wishal, berfoto di depan rombong usaha Pentol Jujur 99. (Yusva Alam/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang Perkembangan zaman membuat kejujuran amat langka. Ibarat mencari jarum dalam jerami. Namun, masih ada orang-orang yang yakin dan percaya, bahwa kejujuran akan selalu ada pada diri setiap orang.

“Silakan ambil sendiri. Siapkan uang pas. Silakan masukkan uangnya.” Kalimat tersebut tertulis pada sebuah baliho mini di sekitar area Bundaran Perumahan Bukit Sekatup Damai (BSD) atau di dekat Masjid Fathul Khoir. Di sebelahnya tampak sebuah rombong bertulis Pentol Jujur 99. Lengkap dengan panci berisi pentol serta kotak uang.

Usaha ini memiliki konsep yang berbeda dengan usaha kebanyakan. Umumnya, penjual menjaga dan melayani pembeli. Pentol Jujur 99 justru tidak memiliki penjaga dan mempersilakan para pembeli mengambil sendiri serta memasukkan uang pembelian di kotak yang telah tersedia.

Dari nama usahanya, pemilik sangat menyandarkan diri pada kepercayaan. Penjualnya mengajak para pembeli mengedepankan sifat jujur.

Konsep itu dikembangkan Marlina dan Dita Siregar. Usaha tersebut didirikan dengan penuh keyakinan akan berhasil di masa depan. Meski memiliki cara yang berbeda dari usaha-usaha sejenis.

Dita membeberkan awal usaha itu didirikan. Semula Pentol Jujur 99 sama dengan pelaku usaha yang lain. Memiliki karyawan untuk menjaga dan melayani pembeli. Namun seiring berjalannya waktu, usaha yang dimulai pada 27 November 2018 itu mengalami kesulitan mencari karyawan.

“Karyawan banyak yang tidak betah. Jadi kami kesulitan mencari penggantinya,” terang Dita.

Di saat menghadapi kondisi tersebut, dia membantu Marlina membuat konsep baru. Yaitu dengan mengandalkan kejujuran. Mengubah beberapa bagian bentuk rombong dan memberikan keterangan cara pembelian yang dipampang di sebuah baliho mini di sebelah rombong. Selain itu, dia juga mengubah nama usaha yang awalnya bernama Pentol 99 menjadi Pentol Jujur 99. Perubahan mendasarnya, usaha itu tidak lagi mengandalkan tenaga karyawan untuk menjaga dan melayani pembeli.

Sesekali hanya dilakukan pengecekan pentol. Tujuannya untuk menambah pentol yang berkurang serta memanaskan pentol di waktu-waktu yang telah ditentukan. “Kami mulai pentol jujur ini tanggal 10 Januari 2019 lalu,” ungkapnya.

Pelanggan Pentol Jujur 99 sedang mengambil pentol sendiri dan tidak lupa memasukan uangnya kedalam kotak yang sudah disediakan (Yusva Alam/Akurasi.id)

Hampir sebulan konsep itu dijalankan, tampak berhasil. Para pembeli tetap banyak yang datang. Pemasukan perharinya tercatat kurang lebih Rp 200 ribu. Sesekali pendapatannya mencapai Rp 500 ribu. “Sering juga melebihi target,” katanya.

Dita mengungkapkan, ide tersebut didapatkan dari pengalamannya saat umrah bersama suami dan mertuanya. Saat itu, mertuanya bertanya posisi suaminya yang tak kunjung datang ke penginapan. Ia menjawab pendamping hidupnya itu akan segera datang. Tak lama sang suami benar-benar datang. Padahal laki-laki tersebut bercerita sempat nyasar sekira 45 menit.

Dari situ dirinya berpikir bahwa pola pikir itu harus benar-benar dijaga. Jangan sampai berpikir negatif. Karena setiap hal yang dipikirkan dapat terjadi dalam kenyataan.

“Kalau waktu itu saya berpikir jelek terhadap suami, mungkin lain lagi ceritanya,” ucap dia.

Dari situ timbul ide pentol jujur. Bisnis itu mengandalkan kepasrahan diri kepada Allah Swt. “Yakin kalau kita berpikir positif, maka usaha yang dilakoni juga berdampak positif,” imbuhnya. (*)

Penulis: Yusva Alam
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (1 Review)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close