HeadlinePolitik

Cerita di Balik Keputusan Icha Jikustik Maju Pilwali Samarinda, Masalah Ini Jadi Sorotannya

Musisi Tanah Air, Icha Jikustik (kiri) bakal ikut berlaga pada kontestasi politik Pilwali Samarinda 2020. (Istimewa)

Akurasi.id, Samarinda – Satu persatu calon kepala daerah yang akan berlaga pada kontestasi Pemilihan Wali Kota (Pilwali) Samarinda 2020 mulai bermunculan ke permukaan. Ada yang berlatar politisi, pengusaha, dan birokrasi. Namun ada juga yang berlatar seorang musisi.

Untuk figur dari latar musisi, belakangan muncul nama Aji Mohammad Mirza Ferdinand Hakim. Pria yang karib disapa Icha itu sedianya bukan orang asing di Kota Tepian –sebutan Samarinda. Pria kelahiran Samarinda, 11 Oktober 1976, itu adalah mantan personil Band Jikustik.

Sebagai putra daerah, Icha merasa terpanggil membangun tanah kelahirannya. Utamanya untuk membenahi berbagai persoalan pembangunan di Kota Tepian. Antara lain, banjir menahun, premanisme, parkir liar, hingga penataan kota yang kian semrawut.

Bapak tiga anak itu bercerita, sedianya dia tidak begitu berkeinginan maju pada bursa Pilwali Samarinda. Namun dorongan yang kuat dari sahabat, keluarga, dan masyarakat, membuatnya cukup terpanggil untuk terlibat secara langsung membangun Samarinda.

“Sebenarnya enggak sengaja (mau mencalonkan diri sebagai kepala daerah). Cuman tiba-tiba nama saya didaftarkan di salah satu partai politik sebagai calon wali kota Samarinda,” ujar Icha kepada awak media ditemui di salah satu kafe di Samarinda, Kamis (12/9/19) lalu.

Kendati demikian, pria yang akrab sebagai pembetot bass Jikustik ini, mencoba berikhtiar. Dia ingin memberikan manfaat bagi masyarakat di mana pun dia berpijak. Selayaknya pepatah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Begitu prinsip yang coba dia bangun untuk Samarinda.

Konsen Majukan Kesenian dan Pariwisata

Bicara kesedian, rasanya Icha sudah hatam benar dengan persoalan itu. Bersama Jikustik, dia sukses menjadi musisi ternama di Tanah Air. Ada begitu banyak karya populer yang dia telurkan bersama Jikustik. Sehingga tidak ada keraguan jika bicara kesenian dengannya.

Sebagai seorang musisi, Icha ingin membawa kesenian, kebudayaan, dan pariwisata yang dimiliki Samarinda ke kanca nasional maupun internasional. Mimpi serupa juga yang ingin dia bawa jika diamanatkan sebagai wali kota atau wakil wali kota Samarinda ke depannya.

Sejauh yang Icha lihat dan perhatikan, ketika orang ke Kaltim, Samarinda selalu menjadi bagian yang terlewatkan. Kebanyakan turis asing maupun dalam negeri lebih tertarik berkunjung ke Kutai Timur (Kutim), Bontang, Kutai Kartanegara (Kukar), Berau, atau Mahakam Ulu (Mahulu).

“Orang berhenti di Samarinda kecuali lagi banjir saja. Pengen saja Samarinda menjadi salah satu tujuan destinasi wisata (ketika orang berkunjung ke Kaltim),” ucap dia sembari melepaskan candaan.

Jika kesenian dan kearifan lokal yang dimiliki Samarinda dikemas sebagus mungkin, lanjut dia, maka tidak menutup peluang bajkal dilirik para turis. Selain itu, Icha ingin memperjuangkan agar komposer lagu-lagu daerah mendapatkan royalti dari karya yang mereka ciptakan. “Menurut saya, lagu daerah itu malah jualanya bisa sampai luar negeri,” cakapnya.

Yakin Musisi Mampu Berikan Sumbangsi Pembangunan

Aji Mirza Hakim menyadari betul masih ada banyak orang yang meragukan kemampuan seorang artis atau musisi untuk menjadi kepala daerah. Namun hal itu tidak membuatnya berkecil hati. Sebagai pelaku kesenian, Icha yakin mampu membangun Samarinda jika diberikan kesempatan.

Salah satu alasan yang menguatkan keyakinan Icha, karena pelaku kesenian atau musisi, selalu mendasari karya-karya yang mereka hasilnya dari hati. Hal serupa pun diyakininya akan dapat dia lakukan untuk membawa kemajuan pembangunan di Kota Tepian.

“Saya memang tidak bisa meyakinkan semua orang untuk mendukung dan memilih saya. Tetapi saya yakin, yang bisa memegang Samarinda ke depan adalah yang punya hati. Pemimpin yang punya hati, dapat merasakan sakit dan susahnya orang lain,” kata dia.

Pelaku kesenian memiliki keunggulan itu. Icha percaya, kepekaannya sebagai seorang musisi akan menjadi modal dia memahami berbagai persoalan pembangunan di Samarinda. “Seniman terbiasa bekerja dengan hati. Modalnya dengan hati. Apa yang keluar dari hati, pasti akan diterima banyak orang,” ujarnya.

Tantangan Pembangunan di Kota Tepian

Kendati lama hidup di Jakarta, ternyata tidak lantas membuat Icha melewatkan begitu saja berbagai persoalan pembangunan di Samarinda. Mulai dari banjir, premanisme, parkir liar, dan beberapa masalah menahun lainnya di Samarinda tidak pernah lepas dari perhatiannya.

Pria berdarah Kesultanan Kutai Kartanegara itu menilai, untuk mengurai benang kusut parkir liar misalnya, dibutuhkan cara-cara yang tidak biasa. Perlu ada pembicaraan mendalam lintas sektor mencarikan solusinya. Selama ini, menurut dia, masalah parkir liar selalu dihembuskan setiap pemimpin Samarinda. Namun langkah konkret atas persoalan itu tidak pernah ada.

“Jika ada jalan dan Allah mengizinkan saya ke situ (wali kota/wakil wali kota), saya akan bekerjasama dengan para ahli di bidang itu (pengelola dan penata parkir). Kalau bicara soal banjir, kita bisa mencontoh Kota Surabaya yang sudah berhasil mengatasi itu,” kata dia.

Persoalan parkir liar di Samarinda, sambung dia, hanya persoalan komunikasi dengan organisasi kemasyarakatan (ormas) setempat. Karena sedikit banyaknya, mereka juga tahu dan dapat membantu menertibkan para juru parkir (jukir) liar.

“Kita akan mencoba merangkul mereka agar membantu penataan parkir liar. Bagi saya, pemimpin itu merangkul, bukan memukul. Kalau kita hajar, pasti akan timbul masalah baru. Kita harus tabayun menyelesaikan setiap persoalan,” ujarnya.

Antipolitik Uang, Buka Ruang Jadi Wakil Wali Kota

Icha sadar bicara politik tidak luput dari persoalan uang yang tidak sedikit. Namun dia meyakinkan, ikhtiarnya maju pada Pilwali Samarinda murni karena panggilan hati. Sehingga apapun yang terjadi, dia memastikan tidak akan melakukan praktik politik uang hanya demi mendapatkan dukungan masyarakat.

“Saya tidak mau mencari dukungan masyarakat atau partai politik dengan cara berpolitik uang. Biarkan saja semuanya mengalir. Saya memang minim pengalaman. Saya hanya punya semangat untuk membawa kota tercinta ini semaksimal yang saya bisa,” ucap suami dari Aji Firna Noor ini.

Begitu juga ketika bicara soal posisi kepala daerah, Icha tidak mematok diri harus menjadi calon wali kota. Dia terbuka jika harus menjadi calon wakil wali kota. Sebab dia sadar, dirinya pun masih minim pengalaman di dunia politik maupun birokrasi. “Kalau soal posisi nantinya, saya terserah saja. Menjadi calon wakil wali kota pun saya enggak masalah,” tandasnya. (*)

Penulis/Editor: Yusuf Arafah

5/5 (7 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close