Covered StoryHeadline

Kesedihan Guru dan Pelajar Kota Bontang Usai Batalnya PTM Juli 2021, Rindu Terhalang Tembok Pandemi

Kesedihan Guru dan Pelajar Kota Bontang Usai Batalnya PTM Juli 2021, Rindu Terhalang Tembok Pandemi
Pandemi yang kembali meradang di Juni ini, membuat Pemkot Bontang berpikir dua kali mengizinkan pembelajaran tatap muka pada Juli 2021. (Ilustrasi)

Kesedihan Guru dan Pelajar Kota Bontang Usai Batalnya PTM Juli 2021, Rindu Terhalang Tembok Pandemi. Ditariknya rencana PTM oleh pemerintah, membuat Junadi dan Ibnu, guru dan pelajar SMP asal Bontang, hanya bisa kembali menyemai kerinduannya bersekolah dalam lisan dan tutur.

Akurasi.id, Bontang – Jarum jam menunjukkan pukul 12.40 Wita, terik mulai membakar kota. Beberapa gumpalan awan abu-abu tua tampak di langit. Perlahan bergerak, bagaikan orang tua bongkok yang memikul beban berat di punggungnya. Angin terhalang berembus. Udara di sekitar terasa pengap.

Gerbang utama hanya terbuka sedikit. Orang-orang keluar masuk bisa dihitung jari. Kebisingan penuh ceria juga tak terdengar meski hanya sayup. Hanya suara trotoar kota yang terdengar riuh dari dalam gedung.

Begitulah gambaran suasana gedung Sekolah Menengah Pertama (SMP) 2 Bontang, yang berada di Jalan KS Tubun, Tanjung Laut Indah, Bontang Selatan. Gedung sekolah berlantai dua itu sepi dari hiruk pikuk proses belajar mengajar. Tak ada siswa dan siswi di sana. Hanya terlihat beberapa guru yang sedang berjaga. Kondisi ini sudah berlangsung sejak Maret 2020 lalu, lebih dari satu tahun lamanya.

Penyebabnya karena pandemi Covid-19. Tak ada lagi belajar di sekolah. Tak ada lagi guru yang menerangkan pelajaran di kelas. Tak ada lagi canda tawa siswa yang asyik bersenda gurau di pinggir lapangan basket sekolah. Semua terlihat sepi.

Saat berkeliling, kelas-kelas yang ada pun tertutup rapat. Terlihat bangku dan meja tersimpan rapi di sisi ruangan. Namun semua dalam keadaan bersih dan terawat. Di setiap lorong kelas juga terdapat tempat cuci tangan dan hand sanitizer.

Kepala SMP 2 Bontang, Eko Yulianto menyampaikan kesedihannya nyaris setahun lebih tidak bertemu dengan murid-murid. Sekarang ia hanya bisa memandangi gedung tempatnya mengajar yang lengang.

“Biasanya jam segini murid-murid ramai bermain di lapangan. Ini cuma gedung saja yang kita lihat. Rasanya agak sedih,” ucapnya kepada Akurasi.id, Selasa (22/06/2021) siang.

Pria yang juga guru IPS itu begitu merindukan suasana akrab bersama muridnya. Biasanya, di luar jam belajar, ia sering menyapa dan mengajak ngobrol murid-murid tentang apa saja. Tapi pandemi mengubah segalanya, bahkan dalam pemberian materi pelajaran dia merasa sangat tidak maksimal.

“Namanya mendidik, kami maunya dekat dan bisa ketemu siswa, ngobrol dan bisa bertatap muka. Kalau gini kan susah, kami merasa enggak akrab kalau enggak ketemu.” katanya.

Simulasi Pelaksanaan PTM Sempat Diterapkan Kala Ujian

Selama 1 warsa ini, sama sekali tidak ada kegiatan di sekolah. Bahkan kegiatan ekstrakurikuler dilakukan secara online atau daring hal ini guna mengurangi rasa jenuh siswa selama belajar di rumah. Jadi instruktur memberikan arahan ke siswa melalui video.

“Untuk mengurangi rasa kejenuhan siswa, kami membuat formula pembelajaran yang menarik. Memberikan materi pembelajaran melalui video misalnya. Itu supaya mereka enggak jenuh,” ujarnya.

Eko menambahkan, SMP 2 Bontang sudah melakukan uji coba pembelajaran tatap muka (PTM) pada saat ujian. Selama uji coba, PTM hanya dilakukan selama 4 hari, dengan durasi dan jumlah siswa dibatasi.

Untuk prokol kesehatan, semua sudah siap. Setiap lorong kelas terdapat tempat cuci tangan. Bahkan sekolah ini secara rutin melakukan penyemprotan disinfektan. Ia juga mengatakan selama uji coba PTM itu, siswa diminimalisir berkumpul karena usai proses ujian siswa langsung pulang.

Pun, kata dia, pihaknya kerap menerima keluhan dari orang tua siswa. Mereka mengeluhkan anaknya yang mulai merasa jenuh dan malas mengikuti pembelajaran daring. “Banyak keluhan, mulai dari anaknya susah dibangunin, enggak mau ngerjain tugas, dan lainnya. Itu di luar wewenang kami, karena tidak bisa mengontrol secara langsung,” tukasnya.

Ditanya terkait pembatalan PTM di Bontang, Eko mengatakan akan manut dengan keputusan pemerintah daerah. “Kalau pemkot bilang belum boleh, kami ngikut saja. Itu juga demi kebaikan bersama,” ujarnya.

Pandemi, Tembok Kokoh Penghalang Rindu

Sementara itu, petugas kebersihan SMP 2 Bontang, Nur Mardita mengatakan kegiatan tidak ada yang berubah. Nur tetap datang ke sekolah untuk membersihkan sekolah. Sebagai petugas kebersihan, Nur bercerita, walau kini pekerjaan lebih ringan karena tidak terlalu berantakan akibat ulah siswa-siswa, tetapi hilangnya keramaian murid-murid di sekolah membuatnya kesepian.

“Rindu sama anak-anak itu pasti. Itu sudah risiko kalau berantakan itu kan kerjaan kami. Kalau anak enggak berantakan, kami enggak kerja,” katanya sembari tertawa.

Senada, Jumadi yang merupakan guru matematika di sekolah itu juga merasakan kerinduan yang luar biasa kepada murid-muridnya. Ia rindu akan keceriaan anak didiknya. Selama daring ini banyak hal-hal yang tidak bisa ditemukan kalau belajar tatap muka. Kata Jumadi, ia rindu dengan pertanyaan-pertanyaan dari muridnya. Karena selama daring anak didiknya lebih pasif.

“Kalau kami kangen ramenya, kadang suka ada ngeselinnya, tapi justru itu yang bikin rindu,” katanya sambil menatap halaman sekolah yang sepi.

Ia menceritakan bahwa murid-muridnya sangat rindu sekolah, sangat rindu guru-gurunya. “Anak-anak pastinya mau belajar di sekolah, mereka kangen sama guru dan teman-temannya,” ucapnya.

Ditemui secara terpisah, Ibnu seorang pelajar SMP di Bontang, juga mengatakan rindu kumpul bahkan belajar di kelas bersama teman-teman dan gurunya. Karena selama belajar di rumah, kebiasan-kebiasan bersama kawan-kawannya di sekolah tidak lagi dilakukan.

“Saya kangenin sih belajar bareng di kelas sama temen-temen, ngobrol langsung dan becanda sama temen-temen, sama makan jajan-jajanan di kantin,” kata Ibnu.

Tak berbeda jauh, Evan yang memiliki hobi bermain bola basket juga kangen untuk bertanding di lapangan sekolah bersama teman-temannya. “Rindu mengobrol bersama teman teman, bermain bola bersama.” kata Evan. (*)

Penulis: Fajri Sunaryo
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks