Covered StoryHukum & Kriminal

Jejak Kehidupan Erus, Pelaku Mutilasi di Garut: Dari Masa Lalu Hingga Tragedi

Erus Lahir dan Dibesarkan di Sebuah Desa Kecil di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut

Loading

Garut, Akurasi.id – Kasus mutilasi yang menggemparkan Garut pada akhir Juni 2024 membawa perhatian publik pada sosok Erus, seorang pemuda berusia 23 tahun yang kini tengah menjalani observasi kejiwaan. Namun, siapa sebenarnya Erus? Bagaimana latar belakang kehidupannya hingga berujung pada tragedi mengerikan ini?

Kehidupan Awal dan Lingkungan Sosial

Erus lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di Kecamatan Cisompet, Kabupaten Garut. Ia dikenal oleh warga sekitar sebagai pribadi yang pendiam dan sering menampilkan tingkah laku yang tidak lazim. Sejak kecil, Erus sering menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan, namun keluarganya tidak mampu membawanya ke fasilitas kesehatan karena keterbatasan ekonomi.

“Sejak kecil, Erus sudah terlihat berbeda. Ia sering berbicara sendiri dan menghindari interaksi dengan orang lain,” kata Arman, seorang tetangga yang mengenal Erus sejak kecil. “Keluarganya hanya bisa membawanya ke pengobatan alternatif karena biaya rumah sakit terlalu mahal.”

Perjalanan Hidup yang Penuh Tantangan

Selama masa remajanya, Erus dikenal sebagai sosok yang penakut dan sering kabur ketika ditegur oleh warga. Ia juga sering terlihat menuntun anjing liar atau membawa ular, sebuah pemandangan yang tidak biasa di desa tersebut. Meski demikian, Erus tidak pernah terlibat dalam tindak kriminal sebelumnya dan dikenal sebagai pribadi yang tidak meresahkan.

Baca Juga  Tragedi Sukabumi Remaja Tega Membunuh Ibu Kandung Motif dan Fakta Mengerikan
Jasa SMK3 dan ISO

“Erus sebenarnya anak yang baik, hanya saja ia memang berbeda. Kami semua tahu dia punya masalah kejiwaan, tapi dia tidak pernah mengganggu orang lain,” tambah Arman.

Tragedi Mutilasi

Pada Minggu, 30 Juni 2024, kehidupan Erus berubah drastis. Di pinggiran Jalan Raya Cibalong, Desa Sancang, Kecamatan Cibalong, ditemukan jasad seorang pria dalam kondisi terpotong-potong menjadi 12 bagian. Erus yang ditemukan di dekat lokasi kejadian langsung diamankan oleh polisi. Penangkapan ini mengungkap sisi gelap dari kehidupan Erus yang sebelumnya tidak banyak diketahui orang.

Menurut hasil penyelidikan awal, Erus diduga kuat melakukan mutilasi terhadap korban dan bahkan sempat memakan beberapa potongan tubuh korban. Perilaku ini membuat polisi segera merujuk Erus untuk menjalani observasi kejiwaan di Rumah Sakit Sartika Asih, Bandung.

Baca Juga  Indonesia Mengakhiri Era Pandemi COVID-19: Langkah Menuju Normal Baru

Proses Hukum dan Observasi Kejiwaan

Kasat Reskrim Polres Garut, AKP Ari Rinaldo, menyatakan bahwa kondisi kejiwaan Erus masih dalam proses observasi. “Pelaku kini tengah dilakukan observasi medis di Rumah Sakit Sartika Asih di Bandung. Kami masih menunggu hasil observasi kesehatan dari pihak rumah sakit,” ujarnya.

Polisi juga mengimbau masyarakat untuk tidak membuat spekulasi berlebihan terkait kasus ini. Proses hukum akan berjalan sesuai dengan prosedur dan hasil observasi kejiwaan akan menjadi pertimbangan penting dalam penanganan kasus ini.

Dampak Sosial dan Harapan Keluarga

Kasus ini tidak hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga menjadi refleksi bagi masyarakat tentang pentingnya penanganan kesehatan mental. Keluarga Erus berharap agar ada perhatian lebih terhadap layanan kesehatan mental, terutama bagi mereka yang tidak mampu secara finansial.

Baca Juga  Polisi Tetapkan Tiga Tersangka Pengeroyokan Bos Rental Mobil di Pati Hingga Tewas

“Kami berharap ada bantuan bagi orang-orang seperti Erus. Jangan sampai ada kejadian seperti ini lagi hanya karena keterbatasan biaya untuk berobat,” kata salah satu anggota keluarga Erus yang enggan disebut namanya.

Kasus mutilasi di Garut ini membuka mata kita akan kompleksitas masalah kesehatan mental di masyarakat. Perjalanan hidup Erus yang penuh tantangan hingga berujung pada tragedi mengerikan ini menunjukkan betapa pentingnya akses terhadap layanan kesehatan mental yang memadai. Sambil menunggu hasil observasi kejiwaan dan proses hukum yang berjalan, kita semua diingatkan untuk lebih peduli dan peka terhadap mereka yang membutuhkan bantuan mental di sekitar kita.(*)

Penulis: Ani
Editor: Ani

Print Friendly, PDF & Email

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Terkait

Back to top button