Covered Story

Kala Kekerasan Anak dan Tirani Seksual Menghantui Bontang, Orang Terdekat Justru Mengangkangi

Kala Kekerasan Anak dan Tirani Seksual Menghantui Bontang, Orang Terdekat Justru Mengangkangi
Kasus kekerasan anak di Bontang masih banyak melibatkan orang-orang terdekat korban, terutama pada kasus kekerasan seksual. (Ilustrasi)

Kala kekerasan anak dan tirani seksual menghantui Bontang, orang terdekat justru mengangkangi. Kasus kekerasan anak di Kota Taman bahkan tidak main-main, pada 2020 lalu tercatat ada sebanyak 63 kasus, yang dimonopoli kasus kekerasan seksual. Angka itu lebih tinggi jika dibandingkan 2019, yakni 31 kasus.

Akurasi.id, Bontang Dalam kurun waktu setahun, pada 2020 jumlah kasus kekerasan anak Bontang meningkat dua kali lipat. Yakni sebanyak 63 kasus. Dibandingkan 2019 lalu, jumlah kasus kekerasan anak hanya 31 kasus.

Kasus kekerasan anak Bontang yang tercatat di Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bontang, meliputi seksual, fisik, psikis, penelantaran, dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO), dan hak asuh anak.

Di mana pada 2020, jumlah kekerasan seksual sebanyak 35 kasus, fisik sebanyak 13, psikis 2, penelantaran 11, dugaan TPPO 1, dan hak asuh anak 1 kasus. Sejumlah kasus itu paling banyak dialami anak perempuan, yakni sebanyak 46 kasus.

Bukan hanya kekerasan anak saja, masih ada 3 kasus anak yang ditangani DPPKB Bontang. Di antaranya, anak berkonflik dengan hukum, anak dengan napza, serta saksi anak. Di mana pada 2020 DPPKB menangani 92 kasus anak. Dibandingkan 2019 total kasus anak yang ditangani sebanyak 40.

Dari jumlah kasus yang diperoleh DPPKB Bontang, data itu didapatkan berdasarkan hasil laporan masyarakat, Polres Bontang, hingga temuan tim di lapangan. Kepala DPPKB Bontang Bahtiar Mabe menilai, terungkapnya kasus kekerasan anak yang semakin meningkat pertanda masyarakat Bontang semakin peka. Bahwa kasus kekerasan anak bukanlah tugas individu saja, namun semuanya ikut terlibat.

Bahtiar mengaku dengan meningkatnya angka kasus anak di Bontang, justru dapat dipetik hikmahnya. Di mana itu berarti masyarakat semakin melek terhadap kasus kekerasan anak di sekitarnya.

“Jika sedikit kasus yang terungkap bukan berarti bagus. Bisa jadi karena keterbukaan masyarakat masih kurang,” jelas Bahtiar.

Banyaknya jumlah kasus seksual pada anak terjadi rata-rata pelakunya merupakan orang terdekat korban. Seperti teman sepermainan, unsur keluarga yakni paman, bibi, ayah, ibu, sepupu, hingga pihak lain yang erat berinteraksi dengan anak.

“Di mana ada peluang atau kesempatan, maka kekerasan seksual bisa terjadi. Faktornya bisa karena orang tua yang kurang mengontrol anak, pergaulannya, daringnya, dan lainnya,” jelas dia.

Meski pada 2020 bertepatan dengan maraknya wabah pandemi, Bahtiar menjelaskan bahwa Covid-19 bukanlah pencetus utama penyebab meningkatnya kasus anak. Bahtiar mengklaim pada awal 2020 sebelum pandemi pada Januari hingga Februari, pihaknya sudah banyak mendapat aduan dan menangani kasus anak.

Meningkatnya kasus anak tahun 2020, dikarenakan setiap anak punya permasalahan yang dibawa sendiri. Baik dari faktor keluarga dan lingkungan. Karena dalam waktu 24 jam, anak menghabiskan waktu di rumah, sekolah, dan tempat bermainnya.

Dia menyebutkan, saat anak di rumah baik-baik saja, rupanya di lingkungan sekolah atau tempat bermainnya mendapat perlakuan kekerasan. Begitu pun sebaliknya. Namun tidak dapat dipungkiri, lanjut dia, penyebab paling besar dikarenakan faktor lingkungan, mulai dari rumah, sekolah, tempat umum.

“Jadi, suasana Covid-19 ini berimbas pada meningkatnya jumlah kasus kekerasan anak, tapi bukan pandemi ini pencetus utamanya,” bebernya.

Ragam Anasir Penyulut Kekerasan Anak

Kala Kekerasan Anak dan Tirani Seksual Menghantui Bontang, Orang Terdekat Justru Mengangkangi
Bahtiar Mabe, Kepala DPPKB Bontang dan Laela Siddiqah, Psikolog Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang. (Redaksi Akurasi.id)

Ada banyak faktor penyebab terjadinya kekerasan pada anak. Psikolog Lembaga Psikologi Insan Cita Bontang, Laela Siddiqah mengatakan banyaknya kekerasan anak pada masa pandemi ini membuat banyak tekanan dan persoalan. Di mana orang dewasa mengalami berbagai macam kondisi. Terutama masalah ekonomi.

“Misalnya ada yang terkena PHK dan tidak bisa berjualan. Sementara kebutuhan hidup harus terus berjalan dan wajib dipenuhi,” jelasnya.

Dari tekanan itu, kata Laela, kerap kali orang dewasa tidak dapat mengelola diri, pikiran, perasaaan, tidak bisa menerima kondisi, dan akhirnya banyak tekanan. Sehingga mengekspresikan kepada sesuatu yang lebih lemah darinya. Yaitu anak-anak bisa menjadi sasaran termudah ketimbang kepada orang dewasa.

“Jadi mungkin bukan anak yang bermasalah, tapi karena ada masalah dalam diri orang dewasa. Dan ada pemicu yang sepele seperti anak rewel. Maka mudah menjadi pelampiasan atas kondisi stres dan frustasinya,” bebernya.

Senada seperti kasus kekerasan seksual, pemicunya pun sama. Di mana orang dewasa tidak dapat mengelola perasaannya, pikiran, dan dorongan lainnya, sehingga anak-anak paling mudah menjadi pelampiasan.

Laela menuturkan, butuh kesadaran dari semua pihak dan pemahaman bahwa setiap anak itu berharga dan wajib dilindungi. Jika tertanam dalam pikirannya, itu menjadi rem dan kontrol agar tidak melakukan hal buruk kepada anak di sekitarnya.

“Siapapun itu, entah anak sendiri maupun anak orang lain,” kata dia.

Setiap anak punya hak untuk hidup dengan baik, nyaman, dan aman. Laela berharap,  jangan sampai kita menjadi bagian yang bisa mengancam kehidupan anak-anak. Kesadaran inilah yang harus ditanamkan dalam masyarakat supaya masing-masing punya andil untuk melindungi anak.

Seperti contoh kasus kekerasan anak di Pulau Jawa yang mengakibatkan meninggal dunia. Laela menyebut kasus bukan karena Covid-19. Namun karena kondisi orang tua yang tidak dapat menahan diri ketika menghadapi anak yang harus sekolah daring.

Dalam kasus itu, orang tua tidak paham soal belajar online. Lalu ibunya marah kepada anak, menganggap anaknya tidak memahami pelajaran. Padahal bisa jadi orang tua itu juga punya permasalahan yang lain.

“Orang tua lalu melampiaskan emosinya sendiri karena frustasi. Jadi bukan kesalahan anak, tapi anak yang menjadi pemicu melakukan tindak kekerasan. Saya yakin bukan itu sumber utamanya,” terangnya.

Faktor pendidikan rendah dan wawasan terbatas dinilai Laela juga memengaruhi cara seseorang menyelesaikan masalah. Salah satunya kurang berpikir panjang. Misalnya pemahaman salah tentang seseorang yang memiliki anak, bukan berarti bebas melakukan apa saja kepada anak. Namun tetap harus ada batasannya.

“Namun faktor pendidikan itu tidak selalu menjadi pemicu,” ucapnya

Kemudian, faktor kecanggihan teknologi juga memengaruhi penyebab terjadinya kekerasan pada anak. Misalnya orang tua yang kecanduan dengan game yang berbau dengan kekerasan, itu bisa menjadi referensi ketika menyelesaikan masalah. Begitu pun dengan anak-anak yang juga kecanduan dengan game tersebut, maka mereka akan agresif bahkan memiliki ekspresi yang tidak terkontrol.

“Sehingga apa yang dilihat dan didengar bisa berdampak pada referensi dirinya dalam menyelesaikan masalah,” ucapnya.

Laela menuturkan, perhatian terhadap kesehatan mental perlu digaungkan. Bukan hanya sekadar bebas dari gangguan mental atau penyakit jiwa. Tapi dalam sehari-hari, kondisi seseorang bisa up and down.

“Perlunya kesadaran diri terhadap kesehatan mental diri sendiri agar bisa mengontrol diri sendiri atau orang lain,” paparnya.

Sedangkan kasus kekerasan seksual orang terdekat, penyebabnya bisa karena mudahnya mengakses tontonan pornografi. Sehingga secara biologis pun terdampak. Laela memaparkan, jika kemudian tidak menerima asupan positif dari kegiatan lain, maka dorongan seksual lebih dominan memenuhi alam pikirannya.

Kala Kekerasan Anak dan Tirani Seksual Menghantui Bontang, Orang Terdekat Justru Mengangkangi
Infografis Kekerasan Anak dan Tirani Seksual

 

“Karena yang dipikirkan bagaimana melampiaskan nafsunya karena dorongan seksualnya dan tidak berpikir lagi apakah itu anaknya, cucunya, keponakan, maupun orang terdekatnya,” tuturnya.

Namun, kata Laela, kasus kekerasan seksual itu bisa terjadi berulang kali bisa dikarenakan faktor perasaan adanya sensasi kepuasan yang lebih dominan dirasakan pelaku. Apalagi jika kasus tersebut tidak ada pelaporan dan pembiaran. Terutama saat anak diintimidasi dengan ancaman oleh pelaku.

Oleh sebab itu, menurut Laela, orang tua perlu melakukan pengawasan ekstra ketat terhadap anak. Mulai dari memberikan pemahaman kepada anak terkait buruknya pornografi. Soal pendidikan seksual juga perlu ditanamkan pada anak sejak dini. Misalnya memberi pemahaman bagian tubuh mana saja yang tidak boleh disentuh orang lain.

“Tak hanya diberikan pemahaman saja, namun perlu ada role play, dipraktikkan tentang perbedaan sentuhan baik dan tidak baik. Misalnya sentuhan tidak baik contohnya memegang dengan adanya tekanan hingga menimbulkan rasa tidak nyaman. Lalu beri pemahaman apa yang perlu dilakukan jika terjadi,” jelasnya.

Berbeda dengan memberi pemahaman pada remaja di mana anak mulai merasakan ketertarikan pada lawan jenisnya. Misalnya merasakan berbagai sensasi ketika disentuh, seperti deg-degan, panas dipipi, dan sebagainya. Dia menyarankan orang tua untuk memberi pemahaman kepada anak.

“Boleh enggak sih? Ya boleh karena itu alamiahnya. Namun orang tua ajak anak mengenalinya dan memberikan pemahaman. Suka boleh, namun tidak boleh membayangkan atau berimajinasi yang tidak perlu. Apalagi jika sudah pernah terpapar pornografi,” pungkasnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks