Covered StoryHeadline

Peliknnya Kehidupan Pulau Gusung: Barang Langka Bernama Air Bersih dan Listrik yang Terseok-Seok (3)

Peliknnya Kehidupan Pulau Gusung: Barang Langka Bernama Air Bersih dan Listrik yang Terseok-Seok (3)
Bermodalkan perahu kecil, warga Pulau Gusung mesti menyeberangi bahayanya ombak laut untuk bisa mendapatkan air bersih di Kota Bontang. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Kerlap-kerlip lampu direkata siang dan malam. Kucuran air bersih dari keran saban waktu. Mungkin sudah hal lumrah bagi mereka yang tinggal di kota. Namun semua itu seakan jadi barang mahal yang begitu langka untuk kehidupan Pulau Gusung.

Akurasi.id, Bontang – Kirana baskara membias di balik awan tipis yang menutupi sudut timur Pulau Gusung Bontang. Jarum jam menunjukkan pukul 05.00 Wita, sesaat warga pulau itu melaksanakan salat subuh berjemaah. Belum banyak aktivitas kala itu. Terlihat Muhidin menggunakan kopiah, dia baru saja pulang dari masjid. Muhidin lalu menepi di sudut teras rumahnya. Melepas kopiahnya, ia kemudian duduk di kursi kayu yang terlihat cukup tua. Sesekali dia melongo memperhatikan binar yang mulai merambat menjamah marcapada.

Krak! Suara pintu yang terbuat dari kayu jati itu berderak pelan. Sepasang mata sayu menatap fokus ke arah Muhidin, ditangannya ada secangkir kopi hitam. Ternyata itu Hasna, istri Muhidin yang mengantarkan minuman untuk sang suami.

“Ini kopinya, Pak,” kata Hasna. “Iya taruh di situ (meja) saja,” balas pria itu melemparkan senyum. Hasna pun kembali ke dapur, melanjutkan rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Menanak nasi, dan menyiapkan lauk pauk untuk mereka santap bersama anaknya.

Belum habis setengah gelas kopi ketika pria berkulit sawo matang itu beranjak dari tempat duduknya. Masih mengenakan sarung hijau bekas salat tadi, Muhidin berjalan pelan menuju samping rumahnya. Dia lalu mengangkut jeriken kosong ke dermaga, tempat dia biasa memarkirkan perahunya. Satu per satu jerigen ukuran 20 liter dinaikkan ke atas perahu. 15 menit kemudian, 30 buah jerigen sudah tersusun rapi di atas perahu.

Tangan Muhidin kemudian meraih tuas mesin perahu, lalu menarik dengan kencang, “Berr” suara riuh mesin memecah buta dini hari dan riak ombak yang perkasa. Dia sengaja menyalakan perahunya itu, untuk sekadar memanaskan mesin sebelum digunakan. Muhidin lalu kembali lagi ke rumah mengganti pakaian. “Hari ini, saya mau ke darat mengambil air bersih,” ucap bapak satu anak itu, Minggu (25/7/2021).

Mentari kian meninggi, jarum jam membidik angka 07.00 Wita. Semua sudah dipersiapkan. Bensin perahu juga sudah diisi. Mengenakan topi pemberian perusahaan, Muhidin perlahan menggiring perahu meninggalkan dermaga. Di tepi dermaga terlihat Hasna melambaikan tangan. “Hati-hati, Pak,” teriak perempuan berjilbab itu.

Laju perahu berukuran 2×8 meter menerabas gelombang air laut. Sekitar 20 menit kemudian, Muhidin sampai di pemukiman warga Kelurahan Guntung. Disitulah tempat Muhidin biasa membeli air tawar. Pria itu kemudian menepikan kapalnya. Dia lalu menarik selang panjang. Mengisi satu per satu jeriken yang ada di kapalnya. Setelah semua terisi. Muhidin menyodorkan uang Rp30 ribu kepada penjual.

“Harga satu jeriken ukuran 20 liter itu Rp1.000. Saya biasa beli sekitar 30 jeriken,” ujar Muhidin.

Baca Juga  Janin Ditemukan Tak Bernyawa di Ember Indekos Samarinda, Pelaku Diduga Mahasiswi Bontang

Berbekal air di perahunya, Muhidin kembali ke Pulau Gusung. Badan perahu kecilnya itu sedikit tenggelam. Sebab, muatan yang dia bawa tidak seenteng waktu berangkat. Dengan laju perahu terseok-seok, Muhidin kembali menerjang ombak. Waktu yang dia tempuh untuk kembali lebih dari 20 menit.

“Kalau berangkat masih ringan, karena bawa jeriken kosong. Kalau sudah pulang agak berat bawaannya, karena semua jeriken sudah terisi penuh,” katanya menarik napas panjang mencoba menyelami kehidupan Pulau Gusung tempat dia bernaung.

Sampai di dermaga, Muhidin menaikkan satu per satu jerigen. Tangannya yang mulai keriput itu terlihat gemetar menenteng jeriken yang sudah terisi penuh. Dengan langkah gontai, perlu 15 kali bolak-balik dari dermaga ke rumah, sampai semua jeriken diangkut. Rasa lelah tak bisa dia sembunyikan. Wajahnya pucat pasif. Jarak dari dermaga ke rumahnya sekitar 350 meter.

“Capek rasanya mikul air hampir setiap hari. Apalagi saya ini kan sudah tua,” kata pria berusia 47 tahun itu. Kondisi seperti ini sudah dirasakan Muhidin dan warga lain selama bertahun-tahun.

Baca Juga  Jaringan Internet Akan Mati Mulai 24-30 September 2021, Berikut Faktanya!

Air bersih menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat yang bermukim di Pulau Gusung, tidak adanya sumber mata air tawar dan akses menuju kota yang terbilang jauh, menjadi beban yang harus dipikul warga sekian warsa. Untuk mendapatkan air bersih, warga sekitar hanya mengandalkan air hujan, yang mereka tampung ke bak atau tandon.

Ketua RT 03, Pulau Gusung, Jumadi (45) mengatakan, apabila musim kemarau tiba, warga harus menuju kota untuk membeli air. Dia bilang, rata-rata kebutuhan air satu keluarga mencapai 200 liter per hari, atau setara 20 jeriken. Itu buat mandi, mencuci, memasak, dan lainnya. Biasanya, dalam seminggu, warga bisa 3 kali ke darat ambil air.

Jumadi sendiri terkadang hanya mandi sekali dalam sehari, demi menghemat air. Katanya, sekali ke darat dia harus merogoh kocek hingga Rp50 ribu, sekadar membeli air dan ongkos bensin kapal. “Sekali angkut 30 jeriken. Kalau hujan turun, kami hanya sekali dalam seminggu mengambil air di darat,” ucapnya kala berbagi cerita tentang kehidupan Pulau Gusung kepada Akurasi.id.

Baca Juga  Beda Agama dan Tak Direstui Orang Tua Jadi Faktor Mahasiswi Asal Bontang Aborsi Janinnya

Kesulitannya tidak berhenti sampai di situ. Kapal yang dipakai mengangkut air hanya bisa sampai di dermaga. Sementara, jarak pemukiman warga dari dermaga terbilang cukup jauh, berkisar 400 meter. Alhasil, Jumadi dan warga lain harus mengeluarkan tenaga tambahan memikul satu per satu jeriken berisi air ke rumahnya.

Kata Jumadi, Pemkot Bontang sempat mewacanakan akan memasang jalur pipa PDAM bagi warga Pulau Gusung. Kendati demikian, wacana itu ibarat angin lalu. Tak terdengar lagi hingga kini. “Dulu pemerintah pernah menjanjikan mau masang jalur pipa air bersih ke sini. Tapi, enggak tahu lah, sampai sekarang belum ada pergerakan,” ujarnya.

Setrum Listrik yang Terseok-Seok, Kehidupan Pulau Gusung Pun Gulita

Peliknnya Kehidupan Pulau Gusung: Barang Langka Bernama Air Bersih dan Listrik yang Terseok-Seok (3)
Listrik menjadi barang mahal bagi masyarakat Pulau Gusung Bontang lantaran minimnya aliran listrik di pulau itu. (Ilustrasi)

Hembusan angin menyapa dedaunan pohon bakau yang tumbuh di sekitar Pulau Gusung. Mendesirkan suasana kehidupan Pulau Gusung. Mentari perlahan menjauh menanggal senja, sinar merah kebiruan di langit berdampingan dengan awan berombak, layaknya lautan tenang. Satu persatu rumah menutup pintu. Kumandang azan sayup-sayup terdengar, Hasna dan suaminya Muhidin bersiap menuju masjid melakukan salat magrib.

Hasna mengenakan mukenah putih yang tergantung rapi. Muhidin memakai sarung biru, tak lupa peci hitam dan kemeja yang dia beli di kota beberapa waktu lalu. Tak ingin menyia-nyiakan waktu, keduanya berjalan beriringan memasuki masjid. Muhidin mengambil saf paling depan, istrinya bersua dengan saf perempuan.

Selepas menunaikan kewajiban, pasangan asal Mamuju, Sulawesi Selatan, itu kembali ke gubuknya. Bumantara mulai menghitam, jarum jam menunjukkan pukul 18.30 Wita. Sampai di rumah, Hasna langsung masuk ke dalam. Sementara Muhidin melangkah ke sudut teras rumah, dengan cekatan dia lalu menarik mesin genset yang tersimpan di beranda.

Baca Juga  Azis Syamsuddin Disebut Bantu Urus Perkara Rita di KPK

Perlu 5 kali percobaan sampai genset 3 kilovolt ampere (kVA) itu mengeluarkan suara bising. Maklum, mesin genset bekas itu dibeli sekitar empat tahun lalu dari pedagang di kota, seharga Rp900 ribu. Meski terbilang tua, bagi keluarga ini mesin itu amatlah berharga. Setidaknya mereka dapat melewati separuh malam tanpa dipayungi gelap gulita. Demi menerangi gulita malam, Muhidin harus merogoh kocek Rp63 ribu. Itu setara tujuh liter bensin untuk konsumsi genset tua miliknya.

“Kalau di pulau ini (Gusung) listrik paling lama cuman sampai selesai magrib. Itupun kalau cuaca enggak mendung. Karena kami pakai panel surya,” kata Muhidin. Dia bercerita, kehidupan di pulau itu amat memprihatinkan. Listrik tidak tersedia 24 jam. Menyala hanya ketika siang dan padam kala malam menyambut.

Peliknya kehidupan warga Pulau Gusung dalam menyulam hari dengan keterbatasan setrum listrik, pun diakui Ketua RT 03, Pulau Gusung, Kecamatan Guntung, Bontang Utara, Jumadi.  Dia memaparkan, energi listrik di pulau ini sangat terbatas. Sebab hanya mengandalkan tenaga surya yang ditampung dalam sistem panel surya (solar cell).

Yang menjadi masalah, panel surya yang dibangun Pemkot Bontang 2015 lalu, kini mulai termakan usia. Alhasil, penyimpanan daya panel itu tidak begitu prima lagi seperti sedia kala. Sementara, pemerintah belum juga melakukan perbaikan dengan berbagai alasan.

Baca Juga  Kronologis Hilangnya Gadis Cantik Asal Kutim yang Ditemukan Meninggal Dengan Kondisi Tersisa Tengkorak

“Listrik di sini menyala paling lama sampai pukul 19.00 Wita. Karena baterainya sudah rusak. Itu pun kalau cuaca cerah, kalau mendung, ya enggak ada listrik,” ujar Jumadi.

Jumadi bercerita, ketika awal didirikan 2015 lalu, panel surya itu mampu menyimpan lebih banyak listrik. Sehingga dapat menyuplai energi listrik buat warga 24 jam nonstop. Memasuki 2018, kualitas baterai panel surya perlahan menurun. Listrik menyala dari pagi hingga pukul 19.00 Wita. 2021, baterai yang rusak semakin banyak. Energi matahari pun kian terkuras.

Energi panel surya itu sekitar 3.600 volt. Dialirkan ke sekitar 100 rumah. Tiap rumah, mendapat energi 40-45 volt. Itu hanya cukup untuk menyalakan lampu. Sementara peralatan elektronik lain, seperti televisi, kipas angin, dan lainnya, harus dibantu genset. Pun tak semua warga memiliki genset.

Baca Juga  Mahasiswa Bontang Diduga Terlibat Praktik Aborsi, Organisasi Pelajar Prihatin Sekaligus Menyayangkan

Panel surya di Pulau Gusung berisi 120 biji baterai 12 volt. Ditaksir dengan harga per biji sekitar Rp5 juta. Artinya membutuhkan dana sekitar Rp600 juta. Sejak dibangun 2015 lalu, pemerintah tidak pernah melakukan pembaruan baterai atau komponen lain di panel surya. Hanya perawatan inverter, itupun jarang. Sementara untuk perawatan rutin, dilakukan oleh warga setempat. (Bersambung)

Tim Peliput: Fajri Sunaryo, Muhammad Budi Kurniawan
Penulis Utama: Fajri Sunaryo
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks