Covered StoryHeadline

Peliknya Kehidupan Pulau Gusung: Layanan Kesehatan Minim dan Pulau Terancam Tenggelam (4-habis)

Peliknya Kehidupan Pulau Gusung: Layanan Kesehatan Minim dan Pulau Terancam Tenggelam (4-habis)
Warga Pulau Gusung sehabis membeli kebutuhan pokok di daratan kota Bontang dengan bermodalkan perahu kecil. (Fajri/Akurasi.id)

Mendapatkan layanan kesehatan berbilang langkah. Ibarat mimpi di siang bolong bagi warga Pulau Gusung, Bontang. Tiada klinik, tiada pula puskses. Apalagi dokter. Jika ingin berobat, menerjang ombak wajib dilakukan demi layanan kesehatan di daratan Bontang.

Akurasi.id, BontangPulau Gusung merupakan salah satu pulau berpenghuni di wilayah Bontang, Kalimantan Timur. Berada di sebelah utara Bontang, dengan jarak sekira enam mil dari daratan Kota Taman. Pulau ini masuk wilayah RT 03, Kelurahan Guntung, Kecamatan Bontang Utara. Dengan luas melintang 1.000 meter dan lebar 150 meter.

Ada sekitar 100 kepala keluarga dengan total 336 jiwa yang bermukim di pulau ini. Mereka kebanyakan bermata pencaharian sebagai nelayan. Pun 80 persen merupakan warga asal Mamuju, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang merantau ke Bontang.

Rumah-rumah penduduk di sana hampir semua bertipe rumah panggung, yang terbuat dari bahan dasar kayu. Di sana juga terdapat musala, Balai Pertemuan Umum, dan lapangan olahraga. Pulau Gusung bisa ditapaki dengan menggunakan akses laut, sekitar 15-20 menit dari Pelabuhan Tanjung Limau, Bontang.

Karena letaknya yang jauh dari daratan kota, segala keterbatasan pun harus dihadapi masyarakat sekitar. Mulai dari kebutuhan air bersih dan listrik yang sangat terbatas. Kemudian ketiadaan sarana dan perasarana kesehatan, serta sejumput persoalan lainnya.

Sulitnya Layanan Kesehatan, Perawatan Seadanya Pun Jadi Pilihan

Memiliki topografi yang terletak di daerah pesisir, juga menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat Pulau Gusung. Salah satunya yang paling berpengaruh dari kondisi itu, yakni pelayanan kesehatan. Di pulau itu, tak satu pun puskesmas, klinik, atau dokter. Untuk menerima perawatan ketika ada warga yang sakit, mereka harus menuju kota.

Ketua RT 03, Pulau Gusung, Jumadi mengatakan, selama ini masyarakat Pulau Gusung merasakan layanan kesehatan apabila ada puskesmas keliling yang berkunjung setiap bulannya. Kendati selama pandemi, tak pernah ada lagi dokter yang melakukan tes kesehatan.

Dia bercerita, sebagai permukiman dengan mayoritas pekerja informal seperti nelayan, kecelakaan selepas mencari rezeki di laut sudah sering mereka alami. Meski begitu, sangat jarang bagi warga sekitar melakukan perawatan di fasilitas kesehatan.

“Kalau ada warga yang kecelakaan saat ke laut. Kalau parah baru kami bawa ke darat. Kalau tidak, kami rawat seadanya saja. Karena kalau ke darat butuh waktu lumayan lama, belum lagi sampai di sana kami harus keliling cari rumah sakit,” ucapnya.

Baca Juga  Kronologis Hilangnya Gadis Cantik Asal Kutim yang Ditemukan Meninggal Dengan Kondisi Tersisa Tengkorak

Jumadi berharap ada klinik atau puskesmas yang berdiri di Pulau Gusung. Agar warga sekitar dapat merasakan penanganan medis yang lebih cepat apabila terjadi kecelakaan, atau ada warga yang jatuh sakit. “Repot itu kalau ada anak-anak yang sakit, atau ada ibu-ibu yang mau melahirkan. Kami perlu penanganan cepat,” katanya.

Sejarah Berdirinya Pulau yang Terancam Tenggelam

Arus lautan yang kuat menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat di pulau itu, karena naiknya permukaan air laut yang mengakibatkan gelombang pasang. Tenaga gelombang laut yang terus menerus menghantam pulau pun dapat mengakibatkan abrasi. Bahkan, pulau yang awalnya seluas 1000×150 meter itu, kini sudah terkikis 40 persen.

“Dulu itu, panjangnya sekitar 1000 meter dan lebarnya 150 meter. Kalau sekarang, jalan itu sisa 600 meter. Artinya sudah terkikis 40 persen,” jelasnya.

Baca Juga  Dewan Sesalkan Lelang Proyek Sungai Gunung Elai dan Jalan Asmawarman Bontang Gagal Dilaksanakan

Sebagai solusi, Pemkot Bontang pun memasang turap penghalang ombak yang terbuat dari kayu ulin. Akan tetapi, turap itu hanya bertahan 3 bulan. Dikarenakan karat di paku, dan hantaman ombak yang kuat, sehingga mengakibatkan kayu itu hanyut dibawa arus laut.

Kata Jumadi, pemasangan turap itu sudah dilakukan sebanyak 2 kali sejak 2010 lalu. Kendati demikian, menurutnya hal itu bukan lah solusi yang tepat. Lantaran, kayu ulin tak cukup bertahan lama dihantam gelombang laut.

“Kalau pake ulin itu sebentar saja habis. Bagusnya itu pake batu karang atau batu gunung, seperti di Pulau Beras Basah,” ucapnya.

Baca Juga  Jaringan Internet Akan Mati Mulai 24-30 September 2021, Berikut Faktanya!

Dia memprediksi, 5 tahun ke depan Pulau Gusung akan mengalami pengikisan yang lebih parah apabila tidak diberikan solusi secepatnya. Berkaca pada kondisi saat ini, ketika air laut pasang, Pulau Gusung dan rumah warga sudah pasti tergenang.

Jumadi menceritakan, Pulau Gusung awalnya hanya tumpukan pasir laut bekas galian proyek Pupuk Kaltim. Pada tahun 1977, perusahaan itu melakukan pendalaman laut untuk akses kapal. Sehingga pasir bekas galiannya, ditumpuk sampai jadi pulau.

Para nelayan yang berasal dari Sulawesi Selatan pun memanfaatkan tumpukan pasir tadi. Dengan membuat pondok-pondok kecil. Hingga akhirnya pulau tersebut menjadi tempat persinggahan para nelayan yang berada di Bontang. “Dulu ini jadi kampung nelayan,” katanya.

Baca Juga  Terungkap, Mantan Penyidik KPK Ini Kerap Kunjungi Rita Widyasari di Lapas Tangerang

Kini, pulau tersebut dihuni sebanyak 336 warga, dengan 100 kepala keluarga. Di sana sudah berdiri rumah sekitar 100 bangunan. Juga terdapat sekolah, sarana olahraga, musala, hingga Balai Pertemuan Umum. (*)

Tim Peliput: Fajri Sunaryo, Muhammad Budi Kurniawan
Penulis Utama: Fajri Sunaryo
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks