Advetorial

Deklarasikan Sekolah Ramah Anak, Taufik: Itu Sudah Jadi Prinsip SMA Vidatra Sejak Awal

SMA Vidatra
SMA Vidatra Bontang turut mendeklarasikan diri sebagai SRA dalam rangka Hari Anak Universal. (Humas SMA Vidatra Bontang)

Akurasi.id, Bontang – Program Sekolah Ramah Anak (SRA) yang dicanangkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia turut didukung SMA Vidatra Bontang. Salah satunya dengan mengikuti kegiatan bertajuk “Sehari Belajar di Luar Kelas” dalam rangka Hari Anak Universal atau Universal Children’s Day pada Kamis (7/11/19) lalu.

Ada sejumlah rangkaian kegiatan yang diikuti para siswa pada kesempatan itu. Mulai dari kegiatan bersih-bersih lingkungan, literasi, simulasi evakuasi tanggap bencana, senam germas dan senam sehat, hingga pengukuhan tim SRA SMA Vidatra Bontang.

Baca Juga: Terapkan Sekolah Ramah Anak, SMP Vidatra Ajarkan Siswa Mencintai Lingkungan dengan Belajar di Luar Kelas

Bagi para guru dan murid, sedianya penerapan hingga deklarasi SRA bukan kali ini saja mereka canangkan. Sejak dibangun pada 12 Januari 1978 silam, SMA Vidatra memang telah mencanangkan diri sebagai Sekolah Ramah Anak.

Kepala SMA Vidatra Bontang Rahmat Taufik menuturkan, program SRA telah tertuang dalam visi dan misi sekolah. Sebab bagi mereka, SRA bukan hanya sekadar program tetapi memang sebuah kewajiban yang harus senantiasa disemai dan dijalankan sekolah.

“Karena bagaimanapun, prinsip dasar sekolah adalah rumah belajar yang menyenangkan bagi anak,” kata dia.

Seperti halnya kegiatan sehari belajar di luar yang dilaksanakan sebagai rangkaian SRA, pun bagi SMA yang bernaung di bawah Yayasan Pendidikan Vidya Dahana Patra itu, bisa dibilang juga bukan hal yang baru. Sebab, satu di antara prinsip pendidikan yang dipegang SMA Vidatra yakni pendidikan berbasis lingkungan.

Atas alasan itu, SMA Vidatra sangat mendukung adanya program sehari belajar di luar kelas dan SRA yang dicanangkan pemerintah pusat. Karena sekolah ramah anak mengajarkan siswa mencintai lingkungan.

“Mengajarkan semua siswa mencintai alam adalah bagian tidak terpisahkan dari program pembelajaran di SMA Vidatra,” ucap Taufik.

Implementasi SRA di SMA Vidatra tidak hanya melibatkan para siswa dan guru, tetapi juga para alumni, masyarakat, dan semua stakeholder terkait. Di sisi lain, dalam kegiatan pembelajaran, SMA Vidatra tidak hanya menerapkan aturan yang jadi ketentuan Dinas Pendidikan. Dalam kesehariannya, SMA Vidatra juga menjalankan aturan yang ditetapkan perusahaan dan norma-norma sosial yang ada di masyarakat.

“Kalau bicara SRA, bisa dilihat, di SMA Vidatra kami tidak memiliki pagar sekolah. Artinya, kami memberikan kepercayaan pada anak. Dan kami ajarkan mereka mencintai lingkungan,” katanya.

Dia berujar, apa yang dicanangkan pemerintah pusat ini adalah program yang bagus. Sehingga memang harus didukung.

“Melalui program itu sekaligus mengingatkan masyarakat bahwa mendidik anak itu harus dengan hati,” cakapnya.

Sehari Belajar di Luar Kelas Libatkan 570 Pelajar

SMA Vidatra
Para siswa dan guru tampak hikmat melakukan kegiatan belajar di luar ruangan pada program belajar sehari di luar kelas dan SRA. (Nur Handayani/Akurasi.id)

Prinsip Sekolah Ramah Anak bagi SMA Vidatra bagaimana agar setiap pelajar menjadi anak didik yang tidak hanya unggul dan berkualitas dari sisi kegiatan pembelajaran, tetapi juga memiliki akhlak dan bertakwa.

“Kami ingin mencetak anak-anak yang memiliki akhlak dan budi pekerti yang mulia. Selain itu, kami mengajarkan kepada setiap anak agar mandiri. Karena memang itu adalah prinsip Sekolah Ramah Anak,” kata Taufik kepada Akurasi.id.

Pada program sehari belajar di luar sekolah dan SRA, hampir semua siswa SMA Vidatra ikut berpartisipasi. Pada kesempatan itu, para siswa menjadikan tanam, kerindangan pohon, dan sarana lainnya di luar kelas sebagai wadah untuk melaksanakan kegiatan belajar.

Sebelum melalui kegiatan belajar, setiap siswa dipandu para gurunya melakukan doa sebelum makan, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan. Pada kesempatan itu, para siswa juga diperkenalkan dengan pakaian adat dan kebudayaan, serta permainan tradisional.

“Mulai dari pelajar di Kelas X hingga Kelas XII ikut pada kegiatan sehari belajar di luar kelas dan SRA ini. Total semua siswa yang ikut ada 580 orang,” ungkapnya.

Taufik menambahkan, tujuan dari program belajar di luar kelas yakni untuk membuat setiap siswa lebih santai dalam menerima pelajaran. Kedekatan emosional antar siswa juga akan semakin terbangun.

“Prinsip dalam pembelajaran adalah menyenangkan, sejuk, enak, dan nyaman. Di SMA Vidatra selama ini tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi bisa di mana saja,” katanya.

Untuk diketahui, pencanangan SMA Vidatra sebagai Sekolah Ramah Anak pada Kamis (7/11/19) lalu ditandai dengan penandatanganan dari pengurus Yayasan Vidatra, komite SMA, kepala sekolah, guru, dan perwakilan dari para siswa.

Ada 7 poin yang dideklarasikan SMA Vidatra sebagai Sekolah Ramah Anak yakni meningkatkan keimanan dan ketakwaan menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab, mewujudkan sekolah yang aman, bersih, sehat, inklusif dan nyaman bagi perkembangan peserta didik, dan menghargai hak-hak anak, menjadi motivator, fasilitator, sekaligus sahabat bagi peserta didik.

Poin lainnya adalah menciptakan sekolah yang bebas dari vandalisme, kekerasan fisik, dan non fisik. Menciptakan lingkungan yang bebas dari asap rokok, minuman keras dan napza. Membangun lingkungan sekolah sebagai komunitas pembelajar dan tempat pendidikan setelah keluarga. Dan yang terakhir yakni menciptakan lingkungan sekolah bebas pornografi dan porno aksi. (*)

Penulis: Nur Handayani
Editor: Dirhanuddin

5/5 (1 Review)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close