HeadlineHukum

Demonstran Dianiaya, Kepolisian Dianggap Lalai

Demonstran Dianiaya, Kepolisian Dianggap Lalai
Mahasiswa bernama Nanda Rizky ini terkena lemparan megaphone dari seseorang yang tak dikenal. Penganiayaan terjadi saat mahasiswa melakukan aksi demonstrasi di Tenggarong. (Istimewa)

Akurasi.id, Tenggarong – Aksi demonstrasi yang dilakukan Aliansi Mahasiswa Peduli Pemilu di Tenggarong Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) pada Selasa (8/4/19) ramai diperbincangkan publik. Pasalnya, seorang mahasiswa bernama Nanda Rizky mengalami patah tulang di bagian hidung.

Mursid Mubarak, seorang mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) yang terlibat dalam aksi demonstrasi itu, mengisahkan kronogis kejadian tersebut. Katanya, pemukulan itu dimulai saat sekelompok mahasiswa menggelar demonstrasi menuntut netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN), aparat kepolisian, dan menolak money politic di pemilu 2019.

Pada pukul 9.30 Wita, aliansi mahasiswa yang berasal dari Kepresidenan Mahasiswa Unikarta, Himpunanan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) memulai aksi demonstrasi dengan berkumpul di kampus Unikarta.

Demonstran Dianiaya, Kepolisian Dianggap Lalai
Mursid Mubarak (Istimewa)

Kemudian mahasiswa secara serentak melakukan konvoi menuju kantor Bupati Kukar. Pada pukul 9.40 Wita, di tengah perjalanan, di depan Madrasah Aliyah (MA) PPKP Ribathul Khail Tenggarong, empat orang tak dikenal menghalau para demonstran.

“[Mereka] mengaku diserempet. Padahal tidak terjadi apa-apa. Satu orang tidak dikenal memukul peserta aksi. Namun mahasiswa berhasil melerai dan menyuruh orang itu pergi,” ungkap Mursid.

Berhasil lolos dari perselisihan dengan orang-orang tidak dikenal itu, mahasiswa melanjutkan iring-iringan menuju kantor Bupati Kukar. Di depan kantor bupati yang terletak di Jalan Wolter Monginsidi, mahasiswa membagikan selebaran. Pada pukul 10.00 Wita, kepolisian meminta mahasiswa tidak mengganggu lalu lintas. “Kepolisian  berupaya membubarkan aksi,” ungkapnya.

Di tengah upaya aparat menghalau para demonstran, seseorang tak dikenal yang tak lain pemuda yang berselisih paham dengan mahasiswa di depan MA PPKP Ribathul Khail Tenggarong, merebut pengeras suara dari mahasiswa yang sedang berorasi.

“Dia merebut toa dan melemparkannya ke peserta aksi dan mengenai mukanya Nanda. Hingga teman kami terluka cukup parah,” sebutnya.

Mursid mengungkapkan, pelemparan megaphone itu dilakukan di jarak sekira 1 meter. Pengeras suara yang beratnya 3 kilogram tersebut bersarang di wajahnya Nanda. Tak berselang lama, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unikarta itu terjatuh. Darah bersimbah di bagian hidung dan matanya.

Mahasiswa lainnya berusaha menyelamatkannya dan melawan pria berbadan gemuk yang melempar pengeras suara tersebut. Terjadi keributan antara mahasiswa dan laki-laki yang mengenakan helm, baju merah, dan celana pendek itu. Namun kepolisian berhasil melerainya.

Dalam keadaan lemas, Nanda dirawat di mobil ambulans milik kepolisian. Pada hari yang sama, menjelas sore, dia dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) AM Parikesit Tenggarong Seberang. “Info dari dokter, dia mengalami patah tulang. Tapi belum dirontgen. Hari ini dirontgen sekaligus diputuskan apakah harus dioperasi atau gimana,” terangnya.

Pengamanan Aksi Dinilai Lemah

Demonstran Dianiaya, Kepolisian Dianggap Lalai
Muhammad Arimin (Istimewa)

Pemukulan terhadap mahasiswa di Tenggarong mendapat respons dari Wakil Sekretaris Jenderal Internal Bidang Pembinaan Aparat Organisasi (PAO) Pengurus Besar (PB) HMI, Muhammad Arimin. Dia sangat menyesalkan tindakan kekerasan terhadap mahasiswa.

Menurutnya, undang-undang tidak membenarkan pemukulan terhadap mahasiswa yang sedang menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Aksi pemukulan mahasiswa oleh oknum tak dikenal itu diduga karena aparat kepolisian tidak melakukan pengamanan secara ketat.

“Artinya kinerja aparat perlu dipertanyakan. Mereka itu lagi ngapain? Di sini terkesan ada pembiaran dari aparat. Sehingga bisa kecolongan oleh pihak-pihak tidak dikenal,” sesalnya.

Kata dia, PB HMI akan mengawal pelaporan dan pengungkapan identitas pelaku. Arimin mendesak kepolisian menyelesaikan kasus tersebut sesuai prosedur hukum. Apabila oknum itu telah diketahui, maka pelaku mesti dihukum berat.

“Kami akan membawa masalah ini sampai di Mabes Polri. Pimpinan Polri harus menegur aparat kepolisian di lapangan dalam proses pengamanan aksi mahasiswa,” imbuhnya.

Pada Rabu (10/4/19), aliansi mahasiswa menyampaikan pengaduan di Kepolisian Resort (Polres) Kukar. Hingga kini, laporan tersebut belum direspons kepolisian setempat. “Kami akan kawal kasus ini,” tegas Mursid. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (1 Review)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close