HeadlinePolitik

Di Balik Kesuksesan Syarifuddin Meniti Karir Politik

Di Balik Kesuksesan Syarifuddin Meniti Karir Politik
Syarifuddin (Istimewa)

Akurasi.id, Samarinda – Di sore yang temaram, kapal berukuran raksasa bersandar di Pelabuhan Semayang Balikpapan. Para penumpang dengan sigap mengemas barang-barangnya. Kapal berwarna putih itu membunyikan sirenenya sebagai pertanda dalam beberapa menit lagi para penumpang akan diturunkan. Dibunyi ketiga, seluruh penumpang harus turun dari kapal tersebut.

Seorang laki-laki berambut lurus dan berbadan jangkung berdiri di dekat tangga kapal. Ia bersiap untuk beradu dengan ratusan penumpang lainnya yang ingin turun dari kapal tersebut. Di raut wajahnya nampak guratan lelah karena sudah tiga hari menyeberangi laut. Sekuat tenaga dia tetap terlihat kuat di tengah himpitan penumpang yang berjejal mencari celah di tangga kapal.

Setelah melangkah dari puluhan anak tangga, dia berhasil turun dari kapal milik PT Pelayaran Nasional Indonesia itu. Sesampai di terminal, dia melihat di sekeliling. Tak ada orang yang dikenalinya. Tanah ini terasa asing dalam pandangannya. Dia melihat para pedagang yang menjajakan makanan di pinggir jalan. Ada perempuan. Tak sedikit pula kaum Adam.

Muhammad Syarifuddin. Demikian nama lengkapnya. Berlayar dari Pelabuhan Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) menuju Kalimantan Timur (Kaltim). Pada 2009, genap sepuluh tahun, dia menyeberangi laut lintas provinsi. Melintasi laut Sulawesi dan Kalimantan. Kampungnya, nun jauh di Kabupaten Bima.

Dia datang ke Kaltim dengan satu tujuan. Ingin melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi. Selepas SMA, orang tuanya memintanya menimba ilmu di Bumi Etam. Dia tak membantah. Meski ada keraguan dalam benaknya. Kehidupan kedua orang tuanya yang penuh dengan kekurangan memberatkan langkahnya menempuh pendidikan di jenjang yang lebih tinggi.

Tentu saja pernah muncul keraguan atas dorongan kedua orang tuanya. Kehidupannya sungguh dalam kekurangan dan himpitan. Berprofesi sebagai petani bukanlah ladang nafkah yang dapat menjamin kehidupan. Saban waktu, dari masa ke masa, para petani di Desa Sakuru, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, yang hidup berkecukupan dapat dihitung dengan jari.

Satu waktu, ayahnya berujar lirih, “Kamu kuliah saja. Bagaimanapun caranya, kami akan berusaha membiayai kebutuhanmu di Kaltim.”

Pesan itu pula yang memberanikannya melangkah menuju tanah rantau. Mental petarung yang berakar kuat dalam tradisi masyarakat Bima diwarisinya. Meski dia harus melewati lorong-lorong gelap masa depan yang tak menentu. Tidak ada satu pun orang yang dapat dengan yakin melangkah di tanah rantau tanpa dibekali dengan uang yang cukup.

Dari Pelabuhan Semayang Balikpapan, dia menuju Samarinda. Ibu kota Provinsi Kaltim. Di sepanjang perjalanan, dia melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi. Pikirannya masih bercampur antara keyakinan dan keraguan akan masa depan. Angin sepoi yang menelisik dari kaca mobil, “menampar” wajahnya. Sesekali sunyi. Pelan tapi pasti, awan sore perlahan menyelimuti bumi Kaltim. Sejurus kemudian, gelap memenuhi awan. Syarifuddin tertidur. Tiga jam berlalu, dia sampai di Kota Tepian.

Membentuk Spirit Perjuangan di Kampus

Di Balik Kesuksesan Syarifuddin Meniti Karir Politik

Setelah melewati beragam ujian, Syarifuddin lulus di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda. Kelak, di kampus ini pula dia menimba ilmu sembari meningkatkan pemahaman politik di organisasi kemahasiswaan.

Selain aktif di kampus, anak kedua dari empat bersaudara itu rajin mengikuti kegiatan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Di organisasi ini, dia belajar beragam faksi organisasi, masalah-masalah kebangsaan, perpolitikan kampus, hingga nilai-nilai moral dan sejarah politik.

Tak terhitung jumlahnya dia mengikuti kegiatan demonstrasi, penggalangan dana, hingga diskusi publik dengan pemerintah daerah. Sesekali Syarifuddin mengadvokasi masalah-masalah masyarakat Samarinda. Dari situ, dia menyelami nilai gerakan dan pengabdian kepada rakyat.

Di atas segalanya, tuntutan terbesarnya bukanlah menimba ilmu di kampus dan organisasi kemahasiswaan. Kerasnya kehidupan sehari-hari mensyaratkannya untuk tetap bertahan di tanah rantau. Bantuan dari orang tuanya tak cukup untuk membiayai kehidupannya di Kaltim.

Pernah beberapa kali dia harus menahan lapar demi alasan efisiensi keuangan. Di lain waktu, dia hanya makan nasi dengan telur bercampur garam.

“Saya pernah mencoba peruntungan menjadi tukang parkir di Samarinda. Alhamdulillah bisa membiayai kehidupan sehari-hari,” ungkapnya sambil tertawa kecil.

Enam setengah tahun hidup dalam kekurangan selama di kampus, dia berhasil lulus dengan nilai yang memuaskan. Kehidupan di kampus dan organisasi kemahasiswaan mengajarkannya tentang nilai-nilai pengabdian dan pelayanan kepada manusia.

Kelak, spirit itu dijadikannya ruh dalam meniti karir politik di Bumi Etam. Umur yang masih sangat muda dan energik, mewariskannya satu pesan penting bahwa masa depan perpolitikan harus segera diwariskan kepada generasi muda.

Memasuki Arena Politik Praktis

Di Balik Kesuksesan Syarifuddin Meniti Karir Politik
Syarifuddin sedang melakukan sosialisasi dan kampanye di masyarakat. Caleg terpilih ini tak lelah mendatangi warga dari satu rumah ke rumah lainnya. (Istimewa)

Selepas dari kampus, dia belajar politik praktis kepada Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kaltim, Syafruddin. Dia juga diberikan kepercayaan mendampingi pimpinan partai termuda di parlemen Kaltim itu. Saban hari, Syarifuddin bekerja sebagai sopir pribadi anggota DPRD Kaltim tersebut.

Genap berumur 27 tahun di Pemilu 2019, berdasarkan kebijakan pimpinan PKB Kaltim, dia didapuk sebagai calon anggota legislatif (caleg) DPRD Samarinda dari Daerah Pemilihan (Dapil) II yang meliputi Kecamatan Samarinda Seberang, Palaran, dan Loa Janan Ilir. Sebagai kader yang telah makan asam garam di partai tersebut, Syarifuddin bertengger di urutan nomor 1 di daftar caleg PKB.

Dia bersaing dengan Naharuddin, Euis Agustin, Anwar, Sarinah, Faisal Anatin, Christian Soetono, Yuliana Lirung, Halim Hamid, dan Anis Samawati. Tentu saja tak mudah bersaing di gelanggang politik dengan para seniornya di PKB.

“Saya tidak terlalu dianggap sebagai caleg yang kuat. Dari 10 caleg di PKB, saya dinilai caleg yang lemah. Mungkin tidak ada satu pun orang yang menganggap saya sebagai caleg yang memiliki basis massa yang kuat di Dapil II,” ungkapnya.

Tidak hanya persaingan di internal partai, dia juga berhadapan dengan petahana. Bertarung dengan politisi senior yang telah malang melintang di dunia politik, dikenal luas di masyarakat, dan memiliki jejaring yang kuat, layaknya mimpi buruk bagi pendatang baru di kontestasi demokrasi.

Karena itu, dia bekerja dalam sunyi. Berusaha siang dan malam memetakan pemilih. Setiap hari dia mendatangi rumah-rumah warga, bertemu sambil menyeduh kopi, berdiskusi, dan mencari format yang tepat untuk meraih hati pemilih.

Jejaring PKB dimanfaatkannya dengan baik. Dia mendirikan posko di Palaran. Menerima beragam keluhan, masukan, dan kritik dari masyarakat. Syarifuddin memanfaatkan dengan baik keunggulan dan spiritnya dalam melayani masyarakat.

“Meski berat melewati tahapan pemilu ini, saya rasa ini pelajaran berharga. Saya bersama tim mendekati warga tanpa harus terlihat bersaing dengan petahana,” terangnya.

Hasilnya, dia terpilih dengan perolehan suara 1.278. Syarifuddin tercatat satu-satunya caleg PKB yang melenggang ke DPRD Samarinda dari Dapil II. Dia dipercaya rakyat bersama Sarlena Layuk dan Elnathan (Gerindra), Anhar (PDIP), Joha Fajal (NasDem), Muhammad Yusran (Golkar), Samri Saputra (PKS), Jasno (PAN), Guntur (Demokrat), dan Laila Fatihah (PPP).

“Ini amanah dari rakyat. Saya ingin memperjuangkan kesejahteraan sosial, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pemerataan ekonomi di Samarinda Seberang, Palaran, dan Loa Janan Ilir. Saya pikir banyak sekali permasalahan di sana yang harus diperjuangkan di parlemen,” sebutnya. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (2 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close