CorakHeadline

Dianggap Matikan Usaha Warga, Proyek Jalan HM Ardans Terkendala Hujan

Rombong jualan milik mertua Wulandari menganggur sejak badan jalan ditutup. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Pengerjaan gorong-gorong di Jalan HM Ardans, Kelurahan Satimpo yang sudah berlangsung sekira satu bulan banyak dikeluhkan warga sekitar. Selain menghambat perjalanan, proyek yang digarap di badan jalan tersebut juga dianggap memutus mata pencaharian warga.

Salah satu warga yang terkena dampak proyek peningkatan  saluran drainase ialah Wulandari (24). Warga RT 4, Kelurahan Tanjung Laut ini rumahnya berhadapan langsung dengan proyek yang dikerjakan CV Bima Sakti Perkasa. Kepada Akurasi.id, dia mengaku kaget karena tiba-tiba akses Jalan HM Ardans ditutup dan ada penggalian tepat di depan rumahnya.

“Awalnya bilang mau perbaiki parit, jadi kami tidak masalah karena katanya cuma seminggu. Lalu warung saya dan mertua yang juga jualan sate dibongkar. Tapi kok tiba-tiba jalan ditutup dan digali,” keluhnya, Senin (6/10/19).

Mau tidak mau, Wulandari dan mertuanya menutup warungnya sembari menunggu proses pengerjaan proyek selesai. Padahal, mereka baru saja membuka lapak selama 2 pekan usai kembali dari kampung halaman. Wulandari tidak menyangka pengerjaan proyek lebih dari sepekan seperti yang dijanjikan.

“Ini sudah sebulan. Sama saja ini mematikan mata pencaharian kami satu-satunya,

Wulandari mengaku selama tidak membuka warung, dia dan suami mengandalkan jualan daring (online) di media sosial (medsos). Namun, lanjut dia, pendapatan yang diperoleh paling banyak hanya Rp 80 ribu per hari. Dibandingkan saat berjualan di depan rumah mulai pukul 16.00 Wita hingga 23.00 Wita, dia memperoleh penghasilan Rp 600 ribu per hari.

“Kami bingung karena mau dapat uang dari mana lagi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sedangkan kami cuma penyewa dan tidak bisa menyewa tempat lain lagi untuk jualan,” ucapnya.

Kemudian Wulandari bersama beberapa warga lain yang terkena dampak mengadukan keluhan. Belum lama ini mereka mengadakan pertemuan antar ketua RT dan warga. Senin lalu, mereka juga beramai-ramai mendatangi Kantor Kelurahan Satimpo. Rencananya, Rabu (9/10/19) besok pihak kelurahan akan menggelar pertemuan antar warga, pihak kontraktor, dan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Bontang.

“Kami berharap ada kebijakan dari pemerintah untuk memberi kompensasi. Mereka juga harus tahu kalau kami juga di sini bayar sewa, bayar air dan listrik, dan kebutuhan lainnya tinggi,” kata dia.

“Kami berharap pengerjaan ini segera selesai. Bagaimana solusinya buat kami supaya bisa berdagang lagi. Kami merasa terbebani,” sambungnya.

Kelurahan Satimpo: Pemberitahuan Hanya Peningkatan Parit Saja

Lurah Satimpo Mustamin Syam saat meninjau lokasi proyek. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Lurah Satimpo, Mustamin Syam, mengatakan warga yang terkena dampak proyek peningkatan drainase yakni warga di sisi jalan yang masuk di wilayah RT 4 Kelurahan Tanjung Laut dan RT 25 Kelurahan Satimpo. Selain itu, masyarakat lain tidak bisa mengakses jalan untuk masuk ke daerah Pisangan –sebutan lain Jalan HM Ardans—menuju perumahan PC Badak.

“Termasuk saya sendiri, dari Berbas biasanya perjalanan 10 menit ke kantor, sekarang saya lewat di Kompleks Perumahan PT Badak,” akunya.

Rupanya, pihak Kelurahan Satimpo hanya menerima pemberitahuan peningkatan parit sepanjang Jalan HM Ardan saja. Diakui Mustamin, terkait pengerjaan gorong-gorong tidak ada pemberitahuan lisan maupun tertulis. Setelah 2 pekan pengerjaan parit, ternyata badan jalan masuk ke daerah Pisangan ini ditutup dan dijebol. Sehingga masyarakat yang ingin masuk ke wilayah Pisangan dialihkan ke Jalan Mangga.

“Saya hanya diberitahu paritnya ditingkatkan. Katanya, Pak ini paritnya ada yang ditutup dan tidak supaya nanti mudah dikeruk. Kok setelah beberapa hari jalanan dikeruk. Di situ tidak ada penyampaian soal itu,” bebernya.

Mustamin pun mendapat banyak pengaduan warganya. Tidak hanya mengeluh turunnya pendapatan pedagang di sekitar proyek, warga RT 25 Satimpo juga mengeluhkan Gang Mangga 2A yang menjadi jalur alternatif pun kini rusak.

Dari pantauan media ini, mulanya Gang Mangga 2A yang terletak di depan SMAN 2 Bontang bisa diakses mobil dari arah Jalan HM Ardans ke arah Jalan Imam Bonjol. Namun beberapa hari terakhir Gang Mangga 2A hanya bisa diakses pengguna motor saja. Sebab kondisi jalan sudah mulai berlubang. Sedangkan pengguna mobil hanya bisa mengakses Jalan Mangga.

“Kami sudah memfasilitasi warga menyampaikan semua permasalahan ini di kelurahan. Kami juga sudah menemui pihak pekerja kontraktor dan bersurat ke Dinas PU. Insyaallah, Rabu besok adakan pertemuan di Kelurahan Satimpo,” jelasnya.

Terkait dengan keinginan warga masalah kompensasi, Mustamin menyebut akan dibicarakan pada pertemuan Rabu besok. Dia berharap warga mendapat gambaran dari pihak kontraktor dan Dinas PU terkait proyek yang sedang digarap tersebut. Dari penjelasan pihak pekerja, kata Mustamin, mereka menyampaikan bahwa proyek itu dibuat sebagai langkah awal dengan membuat gorong-gorong. Kemudian ditutup dan dilanjutkan dengan pelebaran jalan.

“Memang seperti ini dulu keadaannya untuk ke depannya. Karena di sini sangat rawan banjir,” papar dia.

Pembuatan Gorong-gorong Terkendala Hujan

Kondisi Gang Mangga 2A akibat peralihan jalan menuju Jalan HM Ardans. (Suci Surya Dewi/Akurasi.id)

Kepala Pengawas Lapangan Muhammad Haris mengungkapkan pengerjaan gorong-gorong menuai protes warga. Pasalnya, pengerukan badan Jalan HM Ardans berukuran panjang 10 meter, lebar 2,6 meter, dan kedalaman 2,6 meter dianggap lamban. Diakui Haris, memang seharusnya untuk penggalian jalan dapat dilakukan sehari saja. Namun karena terkendala hujan lebat beberapa hari terakhir, para pekerja harus ekstra menguras tenaga hingga lebih dari 10 hari.

“Sudah 3 kali kami bikin penyangga di pinggir lubang pakai ulin dan triplek, tetap saja longsor karena hujan. Kalau sudah tidak hujan baru bisa kami kuras airnya pakai pompa. Tapi lumpurnya harus kami angkut estafet pakai ember,” keluhnya.

Jika cuaca cerah, kata Haris, para pekerja yang terdiri dari 15 orang bisa langsung bekerja mulai pukul 08.00 Wita hingga 17.00 Wita. Namun jika hujan deras, maka pengerjaan terpaksa dihentikan. Bahkan para pekerja lembur hingga pukul 04.00 Wita dini hari hanya untuk menguras dan menggali tanah liat yang longsor.

“Daerah Pisangan dulunya ini rawa. Jadi tanahnya kalau kena air longsor, kalau kering keras seperti batu. Tidak bisa dicangkul,” kata dia.

Saat kontraktor dikunjungi, pihak kelurahan mempertanyakan mengapa proses pengerjaan tidak menutup setengah badan jalan saja sehingga sisa jalan lainnya masih bisa diakses warga. Haris menegaskan tidak bisa dilakukan karena jenis tanahnya liat yang mudah longsor. Dia khawatir proyek pengerjaan drainase justru akan memakan korban nantinya.

“Lebih bahaya lagi kalau jalan hanya ditutup setengah, jalan bisa ambruk,” tegasnya.

Haris menganggap wajar jika warga marah dengan adanya proyek tersebut. Pasalnya badan jalan ditutup sehingga tidak bisa dilalui masyarakat dan menghambat usaha warga. Dia berharap warga lebih sabar hingga menunggu pengerjaan gorong-gorong selesai.

“Semoga cuacanya mendukung sampai kami menyelesaikan proyek ini,” tutupnya.

Di sisi jalan, terdapat papan proyek dengan nama kegiatan peningkatan saluran drainase Jalan HM Ardans dengan nomor kontrak 602/793/DPUPR.03 tanggal 19 Agustus 2019. Dengan menggunakan APBD Bontang, nilai anggaran disebutkan senilai Rp 1.380.571.000. Proyek yang dimenangkan kontraktor CV Bima Sakti Perkasa dan konsultan pengawas dari CV Mutiara Karya Consultant ini hanya memiliki masa waktu pelaksanaan 120 hari kalender. Serta masa pemeliharaan selama 180 hari kalender. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (2 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close