HeadlineIsu Terkini

Diet Kantong Plastik, Pedagang Tradisional Oke Saja

Diet Kantong Plastik, Pedagang Tradisional Oke Saja
Diet kantong plastik mulai diterapkan pada 1 April 2019 di toko-toko ritel modern di Bontang. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Bontang – Limbah sampah menjadi masalah krusial di hampir seluruh daerah di Indonesia. Tak terkecuali di Kota Bontang. Produksi sampah setiap tahunnya seakan terus berpacu dalam angka yang mencapai ratusan ton.

Bercermin pada data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bontang tahun 2017, produksi sampah di Kota Taman mencapai 102,7 ton per hari. Jika dirata-ratakan dengan jumlah penduduk Bontang saat ini yang mencapai 165.458 jiwa, maka satu orang memproduksi sampah 0,5 kilogram atau 500 gram per hari.

Sekitar 64 persen dari sampah itu adalah sampah anorganik dan sisanya 36 persen adalah sampah organik. Sedangkan di tahun 2018, angka produksi sampah per bulan mencapai 2.700 ton. Setiap harinya petugas kebersihan harus mengangkut 90 ton sampah untuk diolah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Tidak ingin larut dengan persoalan sampah itu. Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang mengambil langkah inisiatif dengan menerapkan aturan diet sampah. Salah satu yang coba diurai dari situ yakni diet sampah plastik.

Melalui Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 30 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Produk Plastik Sekali Pakai, Pemkot Bontang membatasi penggunaan sampah plastik di toko-toko ritel modern.

Rencananya pada 1 April 2019, rencana itu sudah mulai diterapkan. Pelarangan itu sekaligus sebagai upaya pemerintah mewujudkan visi Green City yang telah dicanangkan Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni.

Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah (Sekda) Bontang Agus Amir menjelaskan, mengubah kebiasaan masyarakat itu tidak semudah mendirikan sebuah bangunan. Karena harus mengubah perilaku masyarakat yang telah melekat lama, agar menjadi kebiasaan baik yang diinginkan pemerintah.

Hal ini menjadi tantangan bagi Pemkot Bontang. “Bukannya tidak mungkin dilakukan, minimal kita bisa mengurangi penggunaan plastik,” tegasnya ditemui Akurasi.id belum lama ini.

Bahkan upaya pemkot mengubah kebiasaan masyarakat tak hanya berhenti pada pemberlakuan aturan tersebut. Pemkot Bontang pun mulai meninggalkan penggunaan plastik di setiap rapat-rapat maupun berbagai kegiatan yang dilakukan.  “Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi,” candanya.

Diet Kantong Plastik, Pedagang Tradisional Oke Saja

Menyasar Pedagang

Larangan penggunaan plastik rencananya tidak hanya untuk toko-toko ritel modern dan pusat perbelanjaan. Secara bertahap, aturan itu juga akan menyasar seluruh pedagang di Kota Taman. Tidak terkecuali pedagang tradisional, wajib menyediakan tas berbahan non-plastik bagi konsumennya yang berbelanja.

Dikatakan Agus Amir, pasal-pasal dalam perwali pasti akan diberlakukan. Namun tidak bisa begitu saja diterapkan, harus secara bertahap. Pemkot Bontang terus menyosialisasikan aturan itu, sekalipun aturan ini sudah akan diterapkan 1 April mendatang.

Tim-tim sudah dibentuk guna menyukseskan upaya pengurangan sampah plastik. “Tim-tim kami terus melakukan pendekatan ke pedagang. Jangan sampai sekadar melarang tapi tidak ada solusi,” jelasnya.

Belum Tahu Aturan

Diet Kantong Plastik, Pedagang Tradisional Oke Saja
Penggunaan kantong plastik di pasar tradisional juga perlu dibatasi (Istimewa)

Akurasi.id melakukan penelusuran ke para pedagang tradisional. Untuk mengetahui sejauh mana para pemilik toko atau pedagang mengetahui aturan tersebut. Rupanya masih banyak pedagang yang belum mengetahuinya.

Seperti Bagus Afandi, pemilik toko oleh-oleh Gus Faqih. Ia mengaku belum mengetahui sama sekali aturan larangan kantong plastik bagi pedagang. Baik itu mendengar dari orang-orang sekitar, maupun melalui media-media yang ada.

Karenanya Ia menyarankan pada Pemkot Bontang, agar membuat edaran guna menyosialisasikan aturan itu kepada para pedagang tradisional. Agar lebih mengena. “Menurut saya edaran ini bisa lebih memperjelas aturan yang disosialisasikan,” tegas Bagus.

Menurutnya, edaran ini bisa langsung tertuju ke para pedagang. Target informasi yang ingin disampaikan bisa langsung dipahami pedagang. Dibandingkan dengan media-media lain yang dapat menimbulkan kerancuan.

Sudiono, pemilik warung makan Jogja juga mengakui hal yang sama. Belum mengetahui aturan tersebut. Sampai saat ini dirinya belum mendapatkan pemberitahuan, baik lewat surat edaran maupun media massa.

Atas alasan itu, dia tidak melakukan persiapan apapun untuk menerapkan aturan tersebut. “Karena belum tahu, ya sampai sekarang masih pakai plastik untuk bungkus sayur,” ungkap Sudiono.

Ke depannya, saat dia sudah mendapatkan kabar aturan itu, dia menegaskan siap mengikuti aturan yang berlaku. Asalkan ada solusi terbaik untuk pedagang makanan seperti jenis usahanya. “Sampai sekarang saya belum punya solusi,” tegasnya.

Butuh Kesadaran

Diet Kantong Plastik, Pedagang Tradisional Oke Saja
Penggunaan kantong plastik akan digantikan tas kain yang bisa digunakan berulang kali. (Istimewa)

Apabila informasi ini sudah sampai, para pedagang mengaku siap mengikuti aturan yang diberlakukan Pemkot Bontang. Namun begitu, mereka pun membutuhkan solusi-solusi agar mudah menerapkan aturan.

Gus Faqih menginginkan agar aturan ini diberlakukan tidak hanya kepada para pedagang, melainkan juga kepada para konsumen. Menurutnya, masih banyak pembeli yang belum sadar akan hal ini.

Sehingga masih banyak pembeli yang keras kepala ingin menggunakan kantong plastik ketimbang membeli atau membawa sendiri. “Para pembeli itu juga harus disadarkan. Agar memudahkan kami sebagai pedagang,” jelasnya.

Sama halnya dengan Helma, pemilik Toko Ritel Tradisional H Salam. Walaupun sudah mengetahui aturan ini, namun dirinya masih mengandalkan kesadaran pembeli untuk membawa tas berbahan non-plastik. Atau tidak menggunakan plastik saat berbelanja.

Sampai saat ini dirinya masih menyiapkan kantong plastik. Menurutnya, masih banyak pembeli yang keras kepala meminta kantong plastik. Selain itu dirinya juga takut memberatkan pembeli, jika harus membeli lagi tas berbahan non-plastik.  “Masih ada yang beli satu rokok aja minta kantong plastik,” ungkapnya.

Selain menginginkan solusi dari Pemkot Bontang, dirinya berharap masyarakat semakin sadar akan aturan ini. Karena aturan ini juga untuk kebaikan masyarakat itu sendiri.

Sebagai upaya memperbaiki lingkungan, dengan mengurangi sampah plastik yang dapat merusak lingkungan. “Kalau dipaksakan ada sanksi, kami pasti mengikuti aturan yang berlaku,” imbuhnya. (*)

Penulis: Yusva Alam
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (5 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close