Advetorial

Dosen STTI Bontang Sukses Daur Ulang Limbah Plastik Menjadi Bahan Bakar Minyak

Irhamni Nuhardin dan Ahmad Yani menunjukan alat pengolahan limbah plastik yang berhasil mereka ciptakan untuk menghasilkan bahan bakar minyak. (Hermawan/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Ketika orang lain melihat sampah sebagai sesuatu yang tidak lagi memiliki nilai ekonomi. Sekolah Tinggi Teknologi Industri (STTI) Bontang justru melihat sebaliknya. Sampah ketika dikelola secara baik dan benar, maka dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Kampus yang berada di bawah atap Yayasan Pendidikan Islam (Yabis) Bontang itu, sukses mengubah limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM). Hasil inovasi mereka bahkan sudah diusulkan pada lomba yang diadakan Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang pada Oktober mendatang.

Ahmad Yani, Irhamni Nuhardin, Fitria, Ratnawati, dan Irianto, adalah empat nama di balik inovasi tersebut. Hanya bermodalkan kompor gas, tabung freon, selang, dan tabung biskuit, keempat dosen STTI Bontang itu sukses menghasilkan BBM dari limbah sampah plastik.

Irhamni Nuhardin mengatakan, hasil penelitian pengolahan limbah sampah plastik menjadi BBM telah diikutkan pada Lomba Inovasi, Penelitian dan Teknologi Tepat Guna (SI PEENA) Kota Bontang 2019. Pada lomba tahun ini, Pemkot Bontang mengusung inovasi tema pengembangan teknologi berwawasan lingkungan.

“Pada lomba kali ini, kami mengajukan empat hasil penelitian. Salah satunya pengolahan limbah sampah plastik menjadi bahan bakar minyak,” kata dia.

Tiga hasil penelitian lain yang diajukan STTI Bontang yakni desalinasi air laut menggunakan energi matahari sebagai sumber air tawar masyarakat kepulauan Kota Bontang, pemanfaatan limbah organik untuk produksi bahan bakar gas dengan penambahan effective microorgabism-4, dan rancang bangun sistem distilasi air laut menggunakan energi surya dengan metode desalinasi single stage flash.

“Semua usulan hasil penelitian itu sudah masuk SI PEENA 2019. Dan semuanya berwawasan lingkungan,” ungkap perempuan berkerundung tersebut.

Pengembangan teknologi berwawasan lingkungan merujuk Peraturan Wali Kota (Perwali) Bontang nomor 30 tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Produk Plastik Sekali Pakai. Melalui pengembangan teknologi itu, diharapkan volume sampah di Bontang dapat ditekan setiap tahunnya.

“Kami ingin mengelola sampah agar memiliki nilai ekonomi di masyarakat,” ucapnya.

Untuk diketahui, volume sampah di Kota Bontang setiap tahunnya terbilang cukup tinggi. Dalam sehari saja, jumlah sampah yang dihasilkan masyarakat mencapai 90 ton. “Sekitar 20 ton di antaranya adalah sampah plastik,” terangnya.

Selama ini, sampah plastik di Bontang hanya dicacah dan dikirim ke Pulau Jawa. Padahal jika dikelola secara baik dan benar, sampah-sampah itu dapat dimanfaatkan sehingga memberikan nilai ekonomi yang cukup tinggi.

“Dari situ lah kami mencoba mengolah sendiri limbah sampah plastik di Kota Bontang,” katanya.

Manfaatkan Alat Bekas untuk Kelola Limbah Sampah

Alat pengolahan limbah sampah plastik saat dilakukan uji coba untuk menghasilkan bahan bakar minyak. (STTI Bontang for Akurasi.id)

Dosen dan tim penelitian STTI Bontang Ahmad Yani  menuturkan, sampai sejauh ini, hanya ada pengolahan limbah untuk gas metan di Bontang. Kata dia, jika limbah sampah plastik di Kota Taman –sebutan Bontang- dikelola sendiri dengan pengembangan teknologi, maka sampah dapat memberikan nilai ekonomi.

“Saat ini, harga bahan bakar minyak jenis premium dijual sekitar Rp 7 ribu per liternya. Kalau limbah sampah plastik kita kelola sendiri, maka harganya bisa kita tekan,” katanya.

Di sisi lain, masyarakat tidak perlu khawatir lagi menggunakan plastik. Sebab, limbah sampah itu sudah dapat dikelola menjadi BBM. Apalagi BBM yang dihasilkan bukan hanya premium, tetapi juga bisa berupa solar dan pertalite. “Selama ini kami hanya keterbatasan alat saja,” ujarnya.

Untuk mengolah sampah menjadi BBM, baik Irhamni, Ahmad Yani, dan ketiga rekannya, hanya memanfaatkan barang bekas yang dibeli di tempat loakan seperti tabung freon, kaleng biskuit, dan selang besi.

“Semua bahan itu kami beli sekitar Rp 350 ribu. Hasil uji coba yang kami lakukan, bahan bakar minyak yang dihasilkan ternyata bisa dipakai buat motor,” katanya.

Ahmad Yani berkeyakinan, jika alat pengolahan sampah dapat dimodifikasi lagi sedemikian mungkin, maka masyarakat Bontang dapat memanfaatnya secara baik dan aman. Sekarang tinggal bagaimana dukungan pendanaan dari stakeholder terkait.

“Apabila alat yang sederhana ini ada di setiap kelurahan dan RT, maka akan ada banyak sampah yang bisa dikurangi,” ucapnya.

Satu Kilogram Sampah Menghasilkan 350 Mililiter BBM

Pemanfaatan teknologi yang dibuat Irhamni dan kawan-kawannya terbilang cukup sederhana. Limbah sampah plastik yang telah dicacah dimasukkan ke tabung freon yang dipanaskan di atas kompor gas. Hasil pembakaran kemudian dialirkan melalui sebuah selang besi yang didinginkan di dalam kaleng biskuit. Setelah itu, minyak dari olahan itu ditampung menggunakan toples.

Ahmad Yani menerangkan, idealnya untuk pengolahan sampah plastik satu kilogram dapat menghasilkan BBM satu liter. Namun karena masih terbatasnya alat, maka satu kilogram sampah baru mampu menghasilkan 350 mililiter BBM.

“Saat pengujiannya, masih perlu dilakukan penyempurnaan. Nantinya, sisa hasil pembakaran dapat dimanfaatkan untuk paping blok,” katanya.

Irhamni menceritakan, pengolahan limbah sampah sudah pernah dia pelajari saat mendalami ilmu teknik kimia, khususnya tentang konversi energi. Kata dia, pada prinsipnya, energi dapat berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya, tetapi energi tidak dapat dimusnahkan (dihancurkan).

“Sampah plastik itu dibuat dari bahan minyak. Sekarang bagaimana mengembalikannya ke pengolahan minyak lagi,” katanya. (*)

Penulis: Hermawan
Eeditor: Yusuf Arafah

4.5/5 (8 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close