Isu Terkini

Elpiji 3 Kg Langka, Ini Penyebabnya

Elpiji 3 Kg Langka, Ini Penyebabnya
Gas elpiji 3 kg untuk warga miskin tertulis di tabung gas. (Istimewa)

Akurasi.id, Sangatta – Warga Sangatta Kabupaten Kutai Timur (Kutim) kesulitan mendapatkan gas elpiji 3 kilogram (kg). Kelangkaan gas yang menggunakan tabung mirip melon tersebut terjadi di sebagian besar wilayah Sangatta Utara dan Sanggata Selatan.

Setiap hari, warga Sangatta ramai memasang status bernada keluhan di Facebook tentang kelangkaan elpiji 3 kg. Tak sedikit pula warga yang mencari tabung gas itu di lapak jual beli online di Sangatta.

Dalam sepekan ini, ketersediaan gas bersubsidi di sejumlah pangkalan hanya mampu bertahan beberapa jam. Saat ada distribusi gas, warga langsung menyerbunya.

Seperti yang terlihat di pangkalan resmi di Kilo 1 Sangatta, gas yang diantar Selasa (19/2/19) sore, pada malam harinya sudah terjual. Pemilik pangkalan yang enggan disebutkan namanya mengatakan, dalam waktu dekat akan ada pengiriman gas elpiji 3 kg.

“Baru datang langsung banyak yang beli. Nanti pengiriman lagi hari Kamis atau Jumat,” ujarnya saat ditemui Akurasi.id, Rabu (20/2/19).

Tabung Dijual dengan Harga Berlipat

Warga Gang Family, Sangatta Utara, Jamila menduga, kelangkaan tersebut disebabkan tingginya permintaan. Terlebih, belakangan banyak bermunculan pedagang makanan siap saji yang menggunakan tabung gas elpiji 3 kg.

Dia memiliki cara tersendiri untuk mengakali kelangkaan tabung gas tersebut. “Saya sudah antisipasi dengan tiga tabung. Jadi ada stok saat gas langka,” tuturnya.

Menurut dia, banyak tetangganya yang rela membayar di atas harga pasar untuk membeli gas bersubsidi tersebut.

“Katanya ada yang (dijual) sampai Rp 35 ribu. Ada yang (dijual) Rp 32 ribu dan paling murah Rp 28 ribu,” ungkapnya.

Dari pangkalan, pedagang eceran di pinggir jalan utama umumnya membeli gas 3 kg dalam jumlah yang banyak. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kemungkinan kelangkalan dalam waktu yang panjang.

Deretan kios yang berjejer di sepanjang pinggir Jalan Teluk Lingga Yos Sudarso memajang 3 sampai 5 tabung gas melon di depan kios. Padahal kios-kios tersebut bukan pangkalan resmi.

Sejumlah pemilik warung dan kios mengaku menjual gas melon dengan harga Rp 30 ribu sampai Rp 35 ribu per tabung.

“(Saya) ambilnya dari pangkalan juga. Kalau warga tidak kebagian di pangkalan larinya ke sini (kios). Sebelumnya sudah dikasih tahu kalau harganya segini (Rp 35 ribu),” ujar Rini, pedagang gas eceran di pinggir jalan.

Pemkab Bakal Bersikap Tegas

Sejatinya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim dan Pertamina sudah melarang para pedagang menjual gas 3 kg di kios-kios kecil di pinggir jalan. Hanya di pangkalan resmi yang diperkenankan menjual tabung gas tersebut.

Lemahnya pengawasan pemerintah, mengakibatkan kios-kios di pinggir jalan bebas berjualan gas bersubsidi itu dengan harga yang lebih tinggi. Hal itu berbanding terbalik dengan minimya ketersediaan gas 3 kg di pangkalan resmi.

Sebagai salah satu upaya mencegah terjadinya kekosongan gas elpiji di Sangatta, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kutim  mengimbau masyarakat agar membeli gas elpiji 3 kg di agen resmi.

Kepala Seksi (Kasi) Perdagangan Dalam Negri Disperindag Kutim, Achmad Dony Evriady menegaskan, seluruh pangkalan tidak diperkenankan menjual tabung gas kepada pengecer atau warung-warung dalam jumlah yang melampaui ketentuan pemerintah.

Jika terdapat agen resmi yang ketahuan menjual lebih dari 5 tabung, maka pemerintah akan menindak agen dan penyalur tabung gas elpiji tersebut.

“Apabila kami menemukan pangkalan yang berbuat curang dan tidak mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan, kami akan tindak tegas. Jika memang masih ingin berdagang, saya rasa mereka harus berbuat jujur,” imbuhnya.

Hanya untuk Warga Tidak Mampu

Menurut Achmad Dony Evriady, pemerintah telah melakukan sosialisasi mengenai pendistribusian gas elpiji kepada masyarakat. Terutama peruntukan gas elpiji 3 kg yang selalu dikeluhkan warga. Hal itu bertujuan agar tidak terjadi kelangkaan.

“Kami sudah memberi imbauan pada masyarakat. Jika ingin membeli gas elpiji jangan di eceran. Budayakan membeli di agen resmi di bawah pengawasan kami. Kan enak. Jika semuanya patuh, maka akan terhindar dari kelangkaan. Semua pihak pasti diuntungkan. Karena tidak lagi sulit mencari gas,” tegasnya.

Elpiji 3 kg bersubsidi sejatinya diperuntukan untuk warga yang tidak mampu. Bukan pegawai, karyawan perusahaan, dan pengusaha. Tetapi kenyataannya masih banyak warga yang mapan secara ekonomi, tidak mematuhi aturan tersebut.

Tak sedikit pula ditemukan warga yang memiliki kendaraan roda empat, tak sadar diri menggunakan elpiji bersubsidi yang menjadi hak orang-orang miskin itu.

Dia sering menjumpai pegawai negeri sipil (PNS) memasak menggunakan elpiji 3 kg. Begitu pula dengan pengusaha yang sengaja membeli tabung elpiji 3 kg untuk usaha rumah makan.

“Itu kan tidak boleh. Bagaimana masyarakat tidak mampu bisa kebagian subsidi gas elpiji 3 kg kalau yang tidak punya hak sudah mengambilnya. Rasanya kan tidak berguna aturan yang tetapkan,” sesalnya.

Kata Dony, aturan yang sudah berlaku akan dijadikan dasar untuk memberikan sanksi bagi sejumlah pihak yang menyalahgunakan penggunaan gas elpiji 3 kg.

“Masyarakat yang berhak menggunakan elpiji 3 kg yaitu warga yang berpenghasilan kurang dari Rp 1,5 juta per bulan, usaha mikro dengan hasil penjualan paling banyak Rp 300 juta per tahun, atau usaha mikro tersebut mendapatkan omzet sebesar Rp 25 juta per bulan,” tutupnya. (*)

Penulis: Ella Ramlah

Editor: Ufqil Mubin

5/5 (2 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close