CorakHeadline

Gagasan Marwan untuk Perbaikan Pendidikan Kukar

Gagasan Marwan untuk Perbaikan Pendidikan Kukar
Marwan. (Ufqil Mubin/Akurasi.id)

Akurasi.id, Kukar – Sektor pendidikan di Kutai Kartanegara (Kukar) kerap mendapat perhatian publik. Dari segi infrastruktur dan kualitas pendidik, kabupaten yang kaya sumber daya alam ini masih menyimpan masalah yang mendesak untuk diselesaikan pemerintah daerah.

Kali ini, tim akurasi.id berkesempatan mewawancara Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Nasional Demokrat (Nasdem) Kukar, Marwan. Dia menawarkan sejumlah gagasan dan solusi untuk perbaikan pendidikan Kukar di masa depan.

Bagaimana Anda melihat pendidikan di Kukar?

Saya pernah berkunjung ke Sambera. Waktu itu saya masih menjabat sebagai ketua Komisi IV DPRD Kukar. Saya melihat sekolah layaknya kandang kambing. Kemudian di Sungai Payang ada sekolah yang hampir runtuh. Di mana-mana plafonnya sudah berjatuhan. Terakhir, kemarin saya diminta warga Muara Jawa untuk membantu pembangunan sekolah.

Pendidikan di Kukar saat ini hidup segan mati tak mau. Kenapa? Banyak sekali fasilitas pendidikan kita yang terbengkalai. Contoh di depan mata kita misalnya pembangunan SMPN 1 Tenggarong. Sampai saat ini belum juga tuntas. Belum lagi di kecamatan-kecamatan.

Periode sebelumnya, pagar sekolah di Kukar itu hampir semuanya seragam. Pagar sekolah itu hitam bercampur kuning. Pembangunan pagar ini tidak kita persoalan.

Harusnya yang kita lakukan adalah menginventarisasi tenaga pendidik di Kukar. Secara kuantitas, saya kira jumlahnya cukup. Tetapi apakah kita pernah berpikir bahwa seluruh guru di sekolah itu sudah bekerja sesuai bidang studi yang mereka miliki?

Di sekolah tertentu, jumlah gurunya kelebihan. Sementara di sekolah lain, gurunya kekurangan. Ada satu guru yang mengajar dua sampai tiga mata pelajaran. Makanya kita harus menginventarisasi jumlah guru di Kukar.

Apa solusi yang Anda tawarkan?

Seandainya jumlah guru tidak cukup, kita bisa menawarkan sejumlah opsi. Misalnya di sekolah tertentu kekurangan guru matematika. Bisa saja kita menawarkan guru itu untuk disekolahkan. Kita minta dia mengambil bidang studi yang dibutuhkan di sekolah. Tetapi kalau dia tidak mau disekolahkan, sementara dia mengajar tidak sesuai bidang studinya, maka kita tawarkan dia untuk bekerja di bagian tata usaha.

Setelah itu, kita coba perbaiki rekrutmen guru. Rekrutmen guru harus disesuaikan dengan kebutuhan. Kalau kebutuhannya guru biologi atau matematika, kita merekrut guru yang memiliki keahlian di dua bidang itu. Mata pelajaran matematika harus diajarkan oleh sarjana matematika. Begitu juga dengan mata pelajaran lain. Harus sesuai dengan keahlian yang dimiliki guru.

Jika kita sudah memperbaiki pola rekrutmen pendidik, kita mulai berpikir meningkatkan kualitas lulusan di sekolah. Kita tidak bisa bermimpi menghasilkan lulusan yang baik kalau tenaga pendidiknya belum berkualitas. Hal ini harus menjadi perhatian kita. Khususnya di SD dan SMP yang menjadi bagian kita di kabupaten.

Kemudian kita harus menginventarisasi jumlah sekolah yang perlu diperbaiki. Jangan sampai ada keluhan lagi sekolah kayak kandang kambing dan kandang ayam.

Selain itu, rasio untuk pembangunan sekolah. Cukup atau tidak. Ini kaitan dengan upaya kita melakukan pemerataan pendidikan. Misalnya di sebuah kecamatan ada sepuluh SD. Idealnya harus ada tiga sampai lima SMP di situ. Mengapa? Ini untuk mengantisipasi supaya anak-anak di kecamatan itu tidak sekolah di tempat yang jauh dari desanya.

Bagaimana menciptakan pemerataan kualitas pendidikan di Kukar?

Apakah bisa sekolah di kecamatan sama kualitasnya dengan di Tenggarong? Bisa. Asal seluruh tenaga pendidiknya bagus. Kita bisa menyebarkan tenaga pendidik itu di seluruh kecamatan di Kukar. Sebaran tenaga pendidik yang merata ini akan meningkatkan kualitas sekolah. Dengan begitu, akan muncul sekolah unggulan yang merata di semua kecamatan. Sehingga orang-orang yang menikmati sekolah unggulan bukan hanya di Tenggarong.

Sekolah unggulan harus dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Semua anak negeri ini berhak mendapatkan pendidikan yang layak di sekolah yang berkualitas. Orang-orang di Loa Kulu, Loa Janan, Tabang, dan semua kecamatan di Kukar harus menikmati sekolah yang kualitasnya sama. Karena mereka semua anak negeri yang akan membangun Kukar ke depan.

Dalam jangka pendek, apakah pemerataan itu bisa dilakukan?

Sayangnya infrastruktur sekolah di Kukar belum merata. Enggak usah jauh-jauh. Di Tenggarong saja belum bagus. Saya haqqul yaqin, di luar Tenggarong banyak sekolah yang belum memiliki gedung yang bagus. Fasilitas-fasilitas pendidikan di kecamatan masih banyak yang tidak terurus.

Kita punya kemampuan yang memadai untuk melakukan pemerataan pendidikan di Kukar. Kita harus memilah dengan baik anggaran pendidikan. Kegiatan yang tidak mendesak bisa ditunda. Kita alihkan anggaran untuk mendorong pemerataan infrastruktur dan kualitas pendidik.

Pada intinya, kita harus memperbaiki kualitas tenaga pendidik. Barulah kita memperhatikan infrastruktur. Karena kalau kita bangun lebih dulu gedung sekolah, tidak akan ada artinya jika tenaga pendidik belum berkualitas.

Pemerintahan hari ini telah meletakkan dasar yang bagus. Fasilitas pendidikan juga sudah ada perbaikan-perbaikan. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya saja. Sekarang kita tidak membutuhkan dana yang terlalu besar. Fasilitas yang ada saat ini kita inventarisir. Mana yang kurang kita lengkapi. Barulah kita distribusi guru secara merata di seluruh kecamatan di Kukar.

Penting juga bagi kita melakukan pemetaan kawasan dan jumlah penduduk. Jangan sampai kita mendirikan sekolah, tetapi muridnya kurang. Dalam hal ini, diperlukan pemetaan dan perencanaan yang baik. Semua kecamatan ingin membangun sekolah. Kalau muridnya kurang, kita tidak perlu bangun SMP atau SD yang banyak. Pemerataan yang saya maksud di sini bukan semata jumlah sekolah yang diperbanyak. Kita sesuaikan dengan jumlah penduduk di masing-masing kecamatan. (*)

Penulis/Editor: Ufqil Mubin

5/5 (3 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close