Corak

Generasi Milenial Diajak Sukseskan Pemilu

Generasi Milenial Diajak Sukseskan Pemilu
Suasana sosialisasi pemilu 2019 di BPU Kantor Kecamatan Selatan, Selasa (26/2/19). (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Sangatta – Pemilihan umum (pemilu) 2019 akan menjadi momentum bersejarah bagi Selfianti (17). Pasalnya, untuk pertama kalinya dia akan menggunakan hak pilihnya di kontestasi demokrasi yang memadukan pemilihan legislatif (pileg) dan pemilihan presiden (pilpres) ini.

Pelajar di salah satu sekolah menengah atas (SMA) di Sangatta Selatan, Kutai Timur (Kutim) itu, sudah mempersiapkan diri menghadapi pemilu 17 April mendatang. Seperti perekamanan data diri untuk pembuatan KTP elektronik dan melaporkan data dirinya di kelurahan agar dimasukkan dalam Daftar Pemilih Tetap Tambahan (DPTb).

Ketua KPU Kutim, Fahmi Idris mengatakan, kesadaran berpartisipasi di pemilu 2019, seperti yang ditunjukan Selfianti, diharapkan dapat diikuti para milenial di Kutim. Sebab pemilu merupakan sarana konstitusional memilih pemimpin bangsa dan wakil rakyat untuk lima tahun ke depan.

“Setiap suara milenial pada pemilu akan menentukan terpilihnya pemimpin bangsa dan wakil rakyat terbaik. (Mereka yang terpilih) diharapkan dapat mengantarkan bangsa Indonesia menuju bangsa yang maju dan masyarakat yang adil, makmur, dan sejahtera,” harap Fahmi.

Jika ada milenial yang tidak mau mencoblos dan memilih golput pada pemilu 2019, sejatinya tidak berhak disebut sebagai generasi penerus bangsa yang kelak menerima tongkat estafet kepimpinan bangsa.

Pada masa penjajahan, para pemuda yang kini populer dengan istilah milenial, rela mengorbankan jiwa dan raganya merebut kemerdekaan. “Seharusnya para milenial mau berkorban untuk kelangsungan pembangunan bangsa dengan cara berpartisipasi di pemilu,” ajaknya.

Generasi Milenial Diajak Sukseskan Pemilu
Ilustrasi pemilih pemula (Net)

Tak Cukup Sosialisasi dari KPU

Menurut Fahmi, berbagai upaya mendorong partisipasi generasi muda di pemilu 2019 sudah dilakukan KPU. Salah satunya, penyelenggara pemilu melakukan sosialisasi di kampus.

Sosialisasi pemilu kepada milenial perlu diperkuat oleh seluruh pengurus dan kader partai politik, calon legislatif (caleg), tim pemenangan pasangan calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres).

Selain itu, media massa diharapkan memberikan pencerahan kepada masyarakat mengenai pentingnya setiap warga negara yang sudah berhak memilih untuk berbondong-bondong ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) guna menyalurkan hak pilihnya pada pesta demokrasi lima tahunan tersebut.

Menjadi Pemilih Cerdas

Para milenial di Kutim mesti menjadi pemilih cerdas. Agar pemilu dapat menghasilkan pemimpin bangsa dan wakil rakyat yang berkualitas.

Pemilih cerdas hanya mencoblos semata-mata karena suara hati nurani. Bukan disebabkan iming-iming uang dan barang.

Semua pemilih dituntut kelayakan kompetensi dan rekam jejak calon. Bukan memilih karena pertimbangan etnis, kelompok, dan golongan.

Bupati Kutim, Ismunandar mengatakan, syarat menjadi pemilih cerdas harus mencermati visi, misi, dan program calon.

Selain itu, pemilih harus menelusuri rekam jejak calon. Orang yang baik biasanya memiliki rekam jejak yang baik. Begitu pula sebaliknya. Rekam jejak tidak dapat disembunyikan.

“Kita harus menggunakan hati dan perasaan kita,” ujar Ismu saat membuka sosialisasi pemilu kepada generasi milenial di Gedung BPU Sangatta Selatan.

Tak Terpengaruh Hoaks dan Ujaran Kebencian

Ismu mengajak masyarakat belajar dan berperan dalam demokrasi dengan menyelenggarakan pemilu damai, aman, dan tenteram. Masyarakat diminta belajar menerima perbedaan. Sebagai wujud implementasi demokrasi di Indonesia.

“Belajar berbeda pilihan tetapi satu dalam kebersamaan. Kebersamaan (adalah) bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia,” ujarnya.

Dia juga mengajak generasi milenial menjadi barisan terdepan memerangi hoaks dan ujaran kebencian. Kedua ancaman pemilu itu akan mengakibatkan setiap orang tidak rasional menentukan pilihan.

Akibat lainnya, bisa memicu permusuhan dan konflik. “Cara yang dapat diambil para milenial untuk memerangi hoaks dan ujaran kebencian menjelang pemilu adalah tidak menyebarkan informasi yang diduga sebagai hoaks dan ujaran kebencian melalui media sosial,” sarannya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (2 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close