Hard News

Beda Agama dan Tak Direstui Orang Tua Jadi Faktor Mahasiswi Asal Bontang Aborsi Janinnya

Beda Agama dan Tak Direstui Orang Tua Jadi Faktor Mahasiswi Asal Bontang Aborsi Janinnya
Pacar pelaku berinisial CR saat diwawancarai awak media usai diperiksa atas kasus aborsi yang dilakukan pacarnya NA mahasiswa asal Bontang. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Beda Agama dan Tak Direstui Orang Tua Jadi Faktor Mahasiswi Asal Bontang Aborsi Janinnya. Ayah biologis dari bayi tersebut atau pacar pelaku, berdalih, tidak tahu jika pelaku melakukan aborsi. Karena sebelum kejadian, pelaku telah memutuskan asmara dengannya.

Akurasi.id, Samarinda – Kasus penemuan janin tak bernyawa yang menggegerkan warga Samarinda pada Rabu kemarin (22/9/2021) mulai terungkap. Diketahui alasan NA, mahasiswi yang jadi ibu dari janin tega menggugurkan bayi dalam kandungannya sendiri, akibat tak mendapatkan restu dari orangtuanya lantaran memiliki perbedaan agama dengan ayah biologis janinnya tersebut.

Kepada awak media ini, Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu, Iptu Fahrudi mengatakan, NA tega melakukan aborsi akibat malu memiliki anak di luar nikah. Ditambah dengan alasan lain, yaitu orang tua NA tak mengizinkan NA berhubungan dengan pria beda agama. Atas alasan itu, mahasiswi asal Bontang aborsi janinnya.

“Pelaku malu punya anak di luar nikah, dan tidak mendapatkan restu orang tua karena hubungan beda agama dengan ayah biologis bayi,” jelas Iptu Fahrudi saat ditemui di ruangannya, Kamis (23/9/2021).

NA nekat melakukan aborsi dengan mengonsumsi obat-obatan yang didapatkannya dari internet. Obat-obat itu yang kemudian digunakan NA untuk memaksa janin yang sudah berusia 8 bulan keluar lebih cepat. “Jadi pada Senin (20/9/2021), sesudah melakukan aborsi sendiri di indekos, pelaku pergi ke rumah sakit karena mengalami pendarahan,” terangnya.

Lanjut Fahrudi, kasus aborsi ini terungkap, di awali adanya laporan dari pihak rumah sakit, yang mencurigai NA telah melakukan aborsi. Hingga pada Rabu sore (22/9/2021) polisi datang ke indikos NA dan menemukan janin bayi yang sudah tak bernyawa.

“Dari laporan pihak rumah sakit itulah awalnya diketahui pelaku ini telah melakukan aborsi, dan pada Rabu (22/9/2021), kami temukan janin di pot bunga di dalam kamar indekos 202,” bebernya.

Selain itu, dari kasus ini pihak polisi telah menetapkan NA sebagai tersangka, dan telah di tahan di Makopolresta Samarinda. Sedangkan ayah biologis dari bayi malang tersebut saat ini tengah menjalani pemeriksaan. “Ada 5 saksi, yang sudah kami mintai keterangan, termasuk orang tua pelaku. Pemilik indekos dan ayah dari janin bayi,” ujarnya.

Pacar Korban Tak Tahu Kalau Pelaku Melakukan Aborsi

Media ini pun sempat mewawancarai CR yang merupakan ayah biologis dari bayi malang tersebut.  Kepada perwata, CR mengaku tak mengetahui kejadian aborsi yang dilakukan NA. “Enggak tahu dia (NA) melakukan itu, sebelumnya saya juga sudah berniat bertanggung jawab, mendatangi keluarga NA, tapi dari NA menolak niat baik saya,” ucap CR.

CR dan NA sendiri diketahui telah menjalani hubungan sejak bulan September 2020 lalu. CR diketahui merupakan sopir ekspedisi di Samarinda. Sedangkan BA merupakan mahasiswa di salah satu universitas di Samarinda dan berasal dari Kota Bontang. CR mengaku telah berhubungan badan 6 kali. “Kenalnya di medsos, dan setiap berhubungan dilakukan di indekis NA,” kata CR.

Saat CR mengetahui NA mengandung bayinya, dengan sepihak NA pun memutus hubungan asmaranya dengan CR. Dengan dalih NA telah memiliki pacar baru. “Dia blok WhatsApp saya, dan kata-katain saya jelek kaya monyet dan miskin, dari situ saya sudah lepas komunikasi,” imbuhnya.

Kini NA pun harus bertanggung jawab atas perbuatannya yang telah menghilangkan nyawa bayi hasil hubungan gelapnya bersama CR. Atas perbuatannya NA dijerat Pasal 77 Junto Pasal 342 KHUP dengan ancaman 10 tahun penjara. (*)

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan
Editor: Redaksi Akurasi.id

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks