Hard News

Mahasiswi Bontang Pelaku Aborsi Ditetapkan Tersangka dan Terancam 10 Tahun Penjara

Mahasiswi Bontang Pelaku Aborsi Ditetapkan Tersangka dan Terancam 10 Tahun Penjara
Kanit Reskrim Polsek Samarinda Ulu, Iptu Fahrudi ketika memberikan keterangan atas perkembangan penyelidikan kasus aborsi. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Mahasiswi Bontang pelaku aborsi ditetapkan tersangka dan terancam 10 tahun penjara. Nasib mahasiswi Bontang pelaku aborsi ini bagai jatuh tertimpa tangan. Dia kehilangan janinnya, nasib sebagai mahasiswi pun terancam putus, dan kini terancam penjara.

Akurasi.id, Samarinda – Keputusan NA (25) seorang calon ibu muda yang nekat melakukan aborsi atas janinnya di sebuah indekos di Jalan Wolter Monginsidi, Gang 2, Kecamatan Samarinda Ulu, Rabu (22/9/2021) lalu, tampaknya akan benar-benar berbuah penyesalan yang mendalam.

Selain harus kehilangan janin dalam kandungannya hingga berbuah pendarahan. Keputusan nekat pelaku yang diketahui masih duduk di bangku perkuliahan salah satu universitas di Samarinda itu, bakal berakhir dengan dirinya harus mendekam di balik jeruji besi.

Sanksi atas tindakan pelaku yang telah ditetapkan sebagai tersangka pun, terbilang tidak main-main. Mahasiswi asal Kota Bontang itu, kini berpelung hidup di balik kamar hotel prodeo selama 10 tahun lamanya. Janin hilang, kuliah pun putus. Dinginnya lantai penjara pun di depan mata.

Dalam perkara itu, Unit Reskrim Polsek Samarinda Ulu menetapkan NA sebagai pelaku tunggal yang telah berstatus tersangka. Penetapan tersangka tersebut resmi diberikan setelah pihak kepolisian melakukan pemeriksaan terhadap lima saksi. Mulai dari ibu tersangka, pacar tersangka, ketua RT, pemilik indekos, dan salah satu tetangga indekos tersangka.

CR alias YR (26) selaku mantan kekasih dan orang tua biologis dari janin tersangka NA, ketika diperiksa pihak Polsek Samarinda Ulu, Kamis (23/9/2021), tidak menampik jika janin yang digugurkan paksa tersangka merupakan buah hubungannya dengan NA.

Kepada penyidik, YR memaparkan secara gamblang bagaimana kisah cintanya bisa bertaut dengan tersangka. Keduanya pertama kali berkenalan lewat media sosial (medsos). Dari perkenalan dan komunikasi yang intensif itu, keduanya pun tukar kontak WhatsApp.

“Setelah berkenalan lewat media chatting, kami kemudian bertemu. Si dia (NA) memberikan kontak WhatsApp-nya ke saya,” kata YR ketika diwawancarai awak media.

Setelah lama menjalin hubungan, tiba-tiba tersangka memblokir nomor telepon YR dengan alasan bahwa si tersangka sudah memiliki pasangan baru. “Saya sempat marah kenapa nomor saya di blokir. Kemudian saya tanya balik ternyata alasannya dia sudah punya pasangan baru,” jelasnya.

YR sendiri mengaku sudah mengetahui jika NA sudah berbadan dua. Mendapati hal itu, YR pernah mengutarakan keinginannya untuk bertanggung jawab atas kehamilan pacarnya tersebut. Bahkan dia sempat ingin mendatangi orang tua NA di Kota Bontang. Hanya saja, itikad baik itu ternyata ditolak oleh keluarga dari sang pacar.

“Saya sudah sampaikan kepada keluarga di sana. Tapi saat saya mau bertanggung jawab, malah ditolak keluarga NA, malah saya dimaki dan dihina. Setelah itu saya di blokir dan sudah tidak pernah berkomunikasi lagi (dengan NA),” paparnya.

Pelaku Sudah Ditetapkan Sebagai Tersangka Tunggal

Kapolsek Samarinda Ulu Kompol Zainal Arifin melalui Kanit Reskrim, Iptu Fahrudi menjabarkan, jika pelaku NA sudah ditetapkan menjadi tersangka atas kasus dugaan aborsi. Selain itu, dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa janin tersebut berusia sekitar 8 bulan dan berjenis kelamin perempuan. Janin diperkirakan meninggal, Senin (20/9/2021) lalu.

“Untuk si pelaku (NA) saat ini sudah kami tetapkan menjadi tersangka. Janin ini yang harusnya keluar di 9 bulan, namun di 8 bulan dipaksa keluar dengan menggunakan obat-obatan yang ditemukan di lokasi kejadian,” ungkapnya.

Selain merasa malu mengandung bayi di luar hubungan pernikahan, sambung Iptu Fahrudi, tindakan nekat itu dia lakukan lantaran hubungannya dengan mantan pacarnya tak mendapatkan restu orang tua untuk menjalin hubungan dengan pria berbeda agama.

“Jadi si tersangka ini malu karena hamil di luar nikah, makanya tersangka nekat melakukan aborsi. Dia (NA) ngakunya juga karena tidak mendapatkan restu orang tua. Karena hubungannya beda agama dengan ayah biologis si bayi,” terangnya.

Kasus aborsi ini kemudian terungkap diawali adanya laporan dari pihak rumah sakit, yang mencurigai NA telah melakukan aborsi. Hingga pada Rabu sore (22/9/2021), polisi datang ke indekos NA dan menemukan janin bayi yang sudah membusuk dalam pot bunga.

Selain menetapkan sebagai tersangka, NA juga telah ditahan di Mapolresta Samarinda. Sedangkan, ayah biologis dari janin bayi malang tersebut saat ini tengah menjalani pemeriksaan sebagai saksi.

Guna mempertanggungjawabkan perbuatannya di meja hukum, kini NA harus mendekam dijeruji besi. Dia diancam Pasal 77A ayat 1 Undang-Undang 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak juncto Pasal 342 KUHP dengan hukuman 10 tahun penjara. (*)

Penulis/Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks