HeadlinePolitik

Icip Perahu Jalur Independen, Sarwono Siap Hangatkan Pilwali Samarinda

Icip Perahu Jalur Independen, Sarwono Siap Hangatkan Pilwali Samarinda
Sarwono siap ramaikan perebutan kursi wali kota Samarinda melalu jalur independen. (Yusuf Arafah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Berbagai nama muncul demi menjadi suksesor Syaharie Jaang di Balaikota, sebutan Pemkot Samarinda. Perhelatan pemilihan kepala daerah (pilkada) bakal bergulir 2020 mendatang kian semarak dihiasi wajah baru. Sebut Saja Apri Gunawan dan Parawansa Assoniwora. Wajah lawas yang tak asing di Kota Tepian pun tak ingin ketinggalan. Semisal, Meiliana, Ridwan Tassa, hingga Sarwono.

Untuk nama terakhir, memastikan diri untuk unjuk gigi dalam perhelatan pesta demokrasi lima tahunan itu. Hal ini disampaikan Sarwono dalam konferensi pers di salah satu rumah makan di bilangan Abdul Wahab Syahranie, Samarinda, Rabu (13/8/19).

Komunikasi ke Gubernur dan wakilnya, Isran Noor dan Hadi Mulyadi sudah dilalui dan dia mengklaim sudah mengantongi dukungan moril dari dua petinggi Gajah Mada itu, sebutan Pemprov Kaltim. Dari itu, prestisenya pun membumbung tinggi dengan memilih jalur independen. “Saya ingin membuka ruang bagi publik untuk berpartisipasi. Bisa wali kota atau wakil wali kota,” tuturnya.

Jelang pendaftaran calon independen yang bakal dibuka medio Oktober-November 2019 ini, Sarwono bakal maksimal bekerja untuk mendapat dukungan publik. Opsi ini bisa memuluskan langkahnya, mengingat tahapannya lebih awal dibanding calon yang diusung partai politik.

Namun, tak menutup kemungkinan jalur partai politik pun bakal dicicipinya. Apalagi, komunikasi politiknya dengan beberapa partai masih intens ditempuhnya. Kendati begitu, dia tak berharap banyak untuk jalur ini karena parpol pasti berupaya mengusung kader terbaiknya.

Selain itu, pengusungan calon lewat jalur partai tak semudah kanal independen, cukup dengan dukungan masyarakat. Sementara, mekanisme partai masih tersentral ke pusat dan perlu komunikasi yang njelimet.

“Coba dulu lewat jalur independen. Kalau nanti ada jalur lain, itu sah-sah saja,” katanya.

Memang, saban pemilu, belum ada calon independen yang mampu menumbangkan perwakilan partai dan Sarwono mengaku tak gentar untuk urusan ini. “Tidak ada salahnya kita buat sejarah. Toh, hal ini juga pernah terjadi di daerah lain,” katanya optimis.

Dia menyebut, relawan akan mendeklarasikan pencalonannya di Pilwali Samarinda Rabu (14/8/2019). Setelah melakukan deklarasi, timnya akan mengumpulkan kartu tanda penduduk (KTP) sebagai bukti dukungan dan syarat pencalonannya. “Ribuan orang ingin mendeklarasikan dan siap mendukung saya. Baik sebagai wali kota atau wakil walikota. Banyak yang sudah menyatakan diri untuk mendukung. Saya terharu,” bebernya.

Dia mengaku, dukungan itu tak tersentral di satu tempat saja. Dukungan akan digalangnya merata di 10 kecamatan se-Samarinda.“ Semuanya akan kita upayakan untuk mencari dukungan,” tegasnya.

Relawan akan dibentuk disetiap tingkatan untuk mengumpulkan dukungan hingga aspirasi masyarakat Kota Tepian. Tentunya, tanpa transaksi apapun dalam menghimpun dukungan.

Soal target, dia ingin sebanyak-banyaknya. “Jangan ada satu gang pun yang tidak kita masuki. Mereka mendukung kita ataupun tidak, kita datangi. Kita ingin membuka ruang komunikasi dengan warga,” sebutnya.

Icip Perahu Jalur Independen, Sarwono Siap Hangatkan Pilwali Samarinda

Masalah Kota dan Program yang Diusung

Penanganan banjir dan kompleksitas infrastruktur kota di tengah pesatnya pembangunan kini jadi fokus kerjanya jika terpilih kelak. Membenahi banjir misalnya, dengan luasan wilayah Samarinda dan dikelilingi Kutai Kertanegara membuat banjir perlu ditelisik penyebabnya sehingga intensitas air bah mampu direduksi. Apalagi, lokasi rawan banjir se-Samarinda punya masalah tersendiri.

Sebaran penduduk pun mesti jadi perhatian karena hal ini bisa jadi masalah di kemudian hari. Kehadiran Bandara APT Pranoto tentu memantik pesatnya pertumbuhan penduduk. “Jalur menuju bandara itu statusnya perkebunan. Ke depan harus ada lompatan untuk mengubah beberapa area tanpa mengurangi 30 persen ruang terbuka hijau,” imbuhnya.

Begitu pun dengan pembangunan jalan alternatif ke bandara tak kunjung diselesaikan hingga drainase tak luput dari pandangan Sarwono. Sekian banyak gelontoran uang daerah tak jua menyelesaikan masalah klasik ini.

Masyarakat perlu dilibatkan untuk menyelesaikan masalah seperti ini, kata dia, pemerintah dapat membuat kebijakan untuk melibatkan setiap orang yang memiliki rumah yang berdekatan dengan drainase agar mengelola, merawat, dan membersihkan drainase tersebut. “Seorang pemimpin harus mampu melibatkan seluruh masyarakat yang dipimpinnya tanpa mengabaikan tugasnya sebagai pemimpin untuk mengayomi masyarakat,” jelasnya.

Dalam hematnya, masalah Samarinda terbilang banyak dan belum bisa terbenahi seluruhnya. Dari pedestrian yang kehilangan fungsi, pengelolaan parkir, dan minimnya pertumbuhan lapangan kerja. “Pemerintah masih minim menciptakan terobosan. Kondisi ini tidak bisa dikerjakan Wali Kota dan Wakilnya. Publik seluas-luasnya harus diberi ruang,” ucapnya.

tak hanya publik, koordinasi pemkot dan pemerintahan di atasnya harus terintegrasi agar terobosan untuk membangun Samarinda bisa terwujud. “Untuk membangun Samarinda, tidak bisa berdiri sendiri. Harus berkoordinasi baik dan mendapat dukungan dari gubernur dan wakil gubernur,” katanya.

Urusan kocek daerah, tubuh anggaran Samarinda didominasi dana perimbangan (dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus). Masih ada celah untuk memperoleh suntikan dana yang tak bersumber dari perimbangan. Hal ini, sebut dia, yang belum dimaksimalkan pemkot. “Ada porsi dari pusat yang belum kita terima sepenuhnya. Padahal ini ibu kota provinsi,” tukasnya. (*)

Penulis: Ufqil Mubin
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (4 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close