Indepth

Wajah Prostitusi Berbalut Aplikasi MiChat, Digandrungi ABG, Berpenghasilan Puluhan Juta

Wajah Prostitusi Berbalut Aplikasi MiChat, Digandrungi ABG, Berpenghasilan Puluhan Juta
Dua remaja perempuan yang masih berusia 16 tahun di diamankan petugas FKPM Pelita Samarinda lantaran terlibat kasus prostitusi berlabelkan aplikasi MiChat. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Bermodalkan aplikasi MiChat, Mawar dan Bunga, dua gadis belasan tahun itu meraup uang ratusan ribu hingga jutaan. Uang perangsang itu didapatkan kedua remaja belia itu setiap kali selesai mengikat janji kencan semalam bersama pria hidung belakang.

Akurasi.id, Samarinda – Dalam senyap, bisnis prostitusi berbalut aplikasi MiChat tumbuh begitu subur di Kota Samarinda. Dengan bermodalkan ponsel pintar, mereka yang ingin menjadi bunga latar, kini bisa melakukan transaksi tanpa harus memiliki prantara, germo atau muncikari awamnya orang sebut.

Panggung persundalan berbalut aplikasi MiChat, ibarat fenome gunung es. Tampak terlihat begitu kecil, namun sedianya menyimpan banyak praktik pelacuran. Seiring waktu berjalan, parktik prostitusi terselubung itu perlan tampak ke permukaan.

Di Kota Tepian -sebutan Samarinda- dalam beberapa pernama terakhir, bisnis esek-esek di dunia dering itu mulai terungkap. Yang membuat dada cukup berdegup kencang dan geleng kepala, di balik bisnis senyap lintas dunia maya itu banyak dijalankan para perempuan yang masih berusia belasan tahun.

Tidak sedikit di antara belia itu masih menyandang status anak di bawah umur. Belum lama ini misalnya, dua orang remaja perempuan yang sama-sama masih berusia 16 tahun, Mawar dan Bungga, diamankan petugas FKPM Pelita di sebuah tempat penginapan. Mereka dicurigai sedang hendak menunggu pria hidung belang usai bertransaksi di aplikasi MiChat.

Kepada petugas FKPM Pelita, Mawar tanpa sungkan mengakui, kalau dia memang sedang menunggu pria yang akan menyewa jasanya sebagai pendayang. Praktik menjajakan tubuh kepada pria hidung belang itu diakui perempuan berambut pirang itu telah cukup lama ditekuninya.

Untuk bisa mendapatkan jasa servis dari perempuan berbadan montok dengan kulit sawo matang itu, memang tidak murah. Untuk satu kali ajakan berkencan dan berhubungan layaknya suami istri, mawar mematok tarik tidak kurang dari Rp800 ribu hingga Rp1 juta. Itu di luar ongkos penginapan atau hotel.

Baca Juga  Kabur dari Rumah, Siswi Madrasah Terlibat Prostitusi Online untuk Biaya Hidup

“Biasanya, awalnya saya tawarkan Rp1 juta ke atas, tapi kadang mereka (laki-laki) menawar, dan jatuhnya ke harga kesepakatan di Rp800 ribu,” ucap Mawar berbagi cerita kepada wartawan Akurasi.id ditemui Sabtu (26/1/2021).

Berpenghasilan Puluhan Juta

Tanpa rasa sungkan, Mawar bertutur, dia terjun ke dunia protitusi online berawal dari pergaulannya teman sebayanya dan lingkungan yang terbilang bebas, hingga akhirnya memberanikan diri untuk menjajakan tubuh moleknya.

“Awalnya sering ikut-ikut teman, jalan kemana-mana, tidur di hotel, kebetulan saat itu teman saya juga ada yang BO (booking out), lantaran melihat teman bisa punya uang banyak dari situ saya mulai ikut juga,” kisahnya.

Selain itu, faktor lain yang membuat Mawar terjun ke lembah gelap itu, tak terlepas dari perseolan keluarganya. Seolah menjadi masalah klasik, Mawar berkata, kalau dirinya tumbuh dari lingkungan keluarga yang broken home. Di mana, kedua orang tuanya telah lama berpisah.

Baca Juga  Hotel dan Guest House Jadi Sarang Prostitusi Online, Satpol-PP Bisa Apa?

“Ibu saya kayanya tahu saya begini, kalau bapak saya sudah enggak ada, jadi mungkin karena kurang kasih sayang dan perhatian orang tua, jadilah saya begini,” terangnya.

Dari hasil menjajakan tubuhnya, Mawar mengaku dapat menghasilkan pundi-pundi uang di atas Rp50 juta rupiah perbulannya. Uang sebanyak itu didapatkannya dari melayani 3 hingga 5 pria setiap harinya.

“Saya enggak hitung kalau sebulan dapat berapa, yang jelas lebih dari Rp50 juta,” ucapnya.

Diakui Mawar, uang yang ia dapat biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain itu, Mawar merupakan tipikal perempuan yang gemar menggonta-ganti handphone, selalu dilakukan hampir setiap bulan.

“Uangnya ya buat sehari-hari, kebetulan saya suka ganti-ganti handphone, jadi hampir setiap bulan saya beli handphone. Yang terakhir saya kemarin beli handphone harga puluhan juta,” ujarnya.

Baca Juga  Kabur dari Rumah, Siswi Madrasah Terlibat Prostitusi Online untuk Biaya Hidup

Prostitusi Aplikasi MiChat Sudah Berlangsung 6 Bulan

Mawar pun bercerita keluh kesahnya selama 6 bulan menjadi penyedia prostitusi online. Ia berkata, dirinya sering kali mendapat pria yang nyeleneh, dengan permintaan yang aneh-aneh dan juga sering kali di PHP (pemberi harapan palsu) di aplikasi Michat.

“Ya banyak juga yang awalnya mau pakai saya di aplikasi, pas saya tunggu enggak datang-datang, terus ada juga waktu di dalam kamar, mereka minta yang aneh-aneh,” tuturnya dengan wajah yang sedikit tersipuh malu.

Selain cerita yang nyeleneh, Mawar berujar, banyak juga pria yang telah memakai jasanya, mengajaknya untuk menikah, namun dia hanya menanggapi dengan santai. Lantaran ia tahu pria yang menggunakan servisnya hanya menar jala janji-janji manis, modus belaka.

“Ya kalau ada yang ajakin nikah, paling saya jawab chat-nya “hmmmmm” aja,” tuturnya dengan senyum tipis menyungging di wajahnya.

Dari banyaknya pria yang pernah bertransaksi dengannya, ia menerangkan ada juga oknum aparat yang memakai jasanya. “Kemarin ada anggota pakai seragam lengkap datang ngajak, ya saya enggak mau mandang dia siap, asalkan di bayar ya saya layani,” ucapnya.

Baca Juga  Hotel dan Guest House Jadi Sarang Prostitusi Online, Satpol-PP Bisa Apa?

Cerita lainnya, Mawar mengaku bahwa orang tuanya termasuk orang berada. Ia bercerita bahwa orang tuanya sempat menjadi calon anggota legislatif (caleg) dari salah satu partai besar saat pemilihan legislatif (pileg) beberapa tahun lalu. “Iya ibu saya pernah jadi caleg tapi waktu itu gagal,” ungkapnya.

Mawar mengaku saat ini nyaman dengan pekerjaannya. Ditanya apakah akan berhenti dari bisnis persundalan itu, Mawar hanya menjawab untuk saat ini belum ada kepikiran untuk ke arah situ. Dia merasa masih menikmati apa yang ia lakukan saat ini.

“Kalau sekarang belum ada niat berhenti, tapi enggak tahu ya ke depan, soalnya dibilang cape ya saya akui cape juga kerja seperti ini,” pungkas dia menutup kisahnya kepada wartawan media ini.

Digandrungi ABG dan Mudah Mendapatkan Uang

Bisnis prostitusi berbalut aplikasi MiChat di Kota Tepian, tidak hanya menyeret Mawar. Remaja lain yang juga masih berusia belasan tahun dan ikut dalam bisnis persundalan online itu, yakni Bunga. Diusianya yang masih begitu beliau, 16 tahun, dia telah menjajakan dirinya kepada para pria pemburu kupu-kupu malam.

“Awalnya saya dulu kabur dari rumah, dan ikut teman yang tinggal di penginapan, sesampainya di penginapan, ternyata teman saya itu cewek BO di MiChat, karena saat itu saya tidak ada uang, saya akhirnya ikut-ikutan,” ucap Bunga membuka obrolan dengan wartawan media ini malam itu.

Baca Juga  Hotel dan Guest House Jadi Sarang Prostitusi Online, Satpol-PP Bisa Apa?

Bunga yang masih duduk di bangku sekolah itu, mengaku baru beberapa bulan ikut menjajahkan dirinya kepada pria hidung belang. Berbeda dengan mawar, Bunga berkata, hanya sesekali melayani para pria yang ingin menikmati tubuhnya.

“Enggak banyak, sehari kadang cuma sekali, yang penting saya megang uang saja,” ucapnya.

Dalam menjalankan praktik prostitusi online di MiChat, Bunga terbilang cukup tertutup. Dia bahkan semaksimal mungkin mencoba menutupi rapat-rapat setiap apa yang dia lakukan. Namun demikian, setiap di rumah, dia merasa tidak begitu nyaman. Kerang berselih paham dengan orang tua atau saudara yang lain.

“Kalau saya keluar rumah, biasanya saya sering dicari sama keluarga. Cuman saya merasa nyaman aja bisa hidup bebas di luar, makanya saya tidak ingin pulang ke rumah. Lebih enak bebas dari pada di rumah,” demikian kisah Bunga dengan nada dingin mengakhiri pembicaraan dengan media ini.

Di lain sisi, banyaknya anak di bawah umur yang menjajakan diri sebagai bunga malam atau pelaku prostitusi, dikatakan Dosen Psikologi Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda Lisda Sofia  Sofia, karena beberapa faktor. Umumnya karena persoalan ekonomi, keluarga, dan pergaulan.

“Biasanya anak itu berani menjadi pekerjaan komersial lantaran faktor ekonomi, merasa sangat mudah mendapatkan uang akhirnya mereka pun nekat menjadi pelaku prostitusi,” kata Sofia.

Baca Juga  Kabur dari Rumah, Siswi Madrasah Terlibat Prostitusi Online untuk Biaya Hidup

Perhatian orang tua dalam menuntun anak mereka sangat diharapkan. Diakui dia, saat ini banyak para orang tua yang masih memberikan kebebasan kepada anak, hingga tidak dapat mengontrol pergaulan sang anak. Peran dari pemerintah juga dirasa penting untuk dapat mengatasi human trafficing yang kian meraja rela.

“Tindakan nyata harus lah dari para orang tua, dalam mendidik dan memantau pergaulan sang anak, ditambah lagi peran pemerintah yang dapat memberikan kebijakan agar prostitusi anak di bawah umur tidak lagi terjadi,” tandasnya. (*)

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan
Editor: Dirhanuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Artikel Terkait

Back to top button
Enable Notifications    OK No thanks