HeadlinePolitikRiwayat

Jalan Hidup Juan Jenau, Anak Kampung dari Pedalaman Naha Aruq, Mahulu (1)

juan jenau
(Kanan) Wakil Bupati Mahulu Y Juan Jenau saat memantau kegiatan berladang masyarakat di daerah tersebut. (Dok Pribadi Y Juan Jenau)

Akurasi.id, Samarinda – Lahir dari keluarga yang serba memiliki keterbatasan. Dengan kedua orang tua yang hanya berlatar sebagai seorang petani. Tidak membuat Y Juan Jenau kecil berhenti bermimpi bahwa kelak dia bisa menjadi orang yang terpelajar dan sukses.

Menit berbilang jam. Hari berganti bulan. Juan Jenau terus menitik langkah. Jalan setapak demi jalan setapak di Desa Naha Aruq, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), terus dia susuri. Terik mentari tatkala siang memayungi langit. Guyuran air di waktu hujan membasahi bumi. Tak sedikit pun menyurutkan semangat Juan Jenau kecil untuk terus melangkah demi satu tujuan, mengenyam pendidikan.

Baca Juga: Bawa Koalisi PDIP-PKB, Juan Jenau Optimis Hadapi Pilkada Mahulu 2020

60 tahun sudah berlalu, kini nama Juan Jenau telah berevolusi sebagai sebuah jenawa yang populer dan juga dihormati di tanah Mahulu. Pria kelahiran 20 Desember 1959 itu, tak lain adalah wakil bupati Mahulu. Nama Juan Jenau juga amanat lekat dengan Mahulu, karena dia adalah salah satu pionir di balik lahirnya daerah itu pada 2014 lalu sebagai sebuah kabupaten.

Juan Jenau bercerita, sebelum berada pada titik saat ini, perjalanan hidupnya terbilang cukup berliuk-liuk dan syarat akan perjuangan. Lahir sebagai anak kampung, masa-masa kecil JJ –sapaan karibnya- terbilang cukup sulit. Sebagai anak petani, kehidupan JJ kecil jauh dari ketercukupan.

Lahir sebagai anak ke-5 dari 13 bersaudara, JJ memang tidak pernah berhenti bersyukur kepada Tuhan. Sebab, putra dari pasangan Jenau Aran dan mendiang Hipui Anyeq itu, menjadi satu-satunya orang yang mengenyam pendidikan dari belasan saudaranya.

“Semua saudara saya sebenarnya 13. Makanya, keluarga saya termasuk pendukung keluarga besar,” celetuknya sembari melepas tawa.

juan jenau

Perjuangan Mendapatkan Pendidikan

Setelah menamatkan sekolah dasar (SD) di Long Pahangai pada 1973, JJ kemudian melanjutkan SMP di salah satu sekolah swasta di daerah itu. Nasib JJ kala itu sempat terkatung-katung. Lantaran SMP tempat dia menempat keilmuan, belakangan statusnya tidak jelas. Kala itu, para guru yang mengajar di sekolah itu hanya para pegawai kecamatan dan guru SD sukarela.

“Saat itu, saya sudah tamat SMP, tetapi tidak dapat ijazah. Kemudian saya masuk SMPK Tering. Cuman disuruh mengulang ke kelas 2. Jadi saya SMP 5 tahun di dua sekolah berbeda. Bukan karena tidak pintar, tetapi karena situasi dan kondisi saat itu. Saya tamat SMP pada 1977,” tuturnya.

Selepas masa SMP, nasib pendidikan JJ pun sempat terkatung-katung. Bak berada di persimpangan jalan. Antara harus melanjutkan pendidikan ke jenjang SMA atau tidak. Karena JJ sadar bagaimana ekonomi keluarganya yang serba pas-pasan. Namun karena keinginan yang begitu kuat melanjutkan pendidikan, JJ lantas meyakinkan orang tuanya untuk sekolah ke Samarinda.

Pada masa-masa awal menginjakkan kaki di Kota Tepian –sebutan Samarinda-, JJ langsung berinisiasi mencari kerja. Dengan segala keterbatasan dan bermodal kemauan, JJ melanjutkan SMA sembari menjadi buru pengangkut serbuk gergaji yang hanya diupah tidak seberapa. Namun semua harus dia lakukan agar tidak membebani kedua orang tuanya.

“Namanya anak perantauan dan pengin sekolah, kalau enggak rajin dan semangat, ditambah tidak punya biaya, maka saya mau enggak mau tinggal di asrama. Catatannya, nilai harus bagus. Jadi saya belajar yang giat. Dari kelas 1 ke kelas 3 SMA Katolik, saya selalu juara,” ujarnya.

Setelah melewati sederet perjuangan panjang, JJ akhirnya mampu menamatkan SMA pada 1980. Kala itu, suami dari Martina Luaq ini, sempat limbung. Lantaran keinginannya melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi terbentur dengan ketiadaan biaya.

Pada waktu itu, JJ sudah sempat berpikir untuk pulang ke kampungnya di Naha Aruq, Long Pahangai. Hanya satu hal yang terlintas di kepala orang tua dari Roselina Ping Juan ini, dia ingin mengabdikan diri sebagai seorang pastor. Hanya saja, saat mengikuti proses itu, dia ternyata gagal.

Namun kegagalan itu seolah menjadi jalan lain bagi JJ. Setelah dia gagal menjadi seorang pastor, pihak gereja membuka memberikan beasiswa kepada para pelajar berprestasi. Walau saat itu pilihan akademiknya hanya menjadi seorang guru. Tanpa pikir panjang dan seolah melihat kembali peluang menggapai mimpi, JJ lalu mengikuti proses seleksi.

Alhasil, JJ lolos dan diberangkatkan ke Yogyakarta pada 1981. Dia masuk di Perguruan Tinggi Sanata Dharma. Di kampus itu, JJ mengambil jurusan sastra inggris. Akhir 1985, ayah dari Teodorus Gun Juan ini, menamatkan sarjana. Tanpa pikir panjang, dia kemudian kembali ke Kota Samarinda. Selain karena kewajiban mengabdikan diri kepada lembaga pendidikan dari pemberi beasiswa kala itu.

“Karena saya diberikan beasiswa oleh gereja, oleh Yayasan Katolik, saya diminta mengajar di kota, tetapi saya enggak mau. Pada 1985 itu, saya masih cukup muda. Tapi saya pikir untuk pulang kampung saja, saya ditugaskan di pedalaman. Saya mengajar di SMPK Tering,” ucapnya.

Setelah mengajar sebagai guru bahasa inggris pada 1986 hingga 1999, JJ dipercaya menjadi kepala STM Santo Yosep Tering. Jiwa dan bakap kepemimpinannya yang luar biasa, membuat JJ duduk cukup lama pada jabatan tersebut dari 1986 hingga akhir 2000.

juan jenau

Dari Pendidikan ke Politik

Pada 1997, satu langkah besar diambil Juan Jenau. Setelah hampir 11 tahun bergelut sebagai seorang tenaga pendidik, JJ memutar haluan kerja dari dunia pendidikan ke medan politik. Pada era pergantian orde baru (Orba) ke reformasi itu, JJ memutuskan ikut berpolitik lewat perahu Partai PDI Perjuangan.

Ketika itu, JJ tidak sendiri. Kawan sejawat seperti Fransiskus Xaverius Yapan yang belakangan menjadi bupati Kutai Barat (Kubar) dan Syaharie Jaang (wali kota Samarinda), JJ sama-sama berjuang dan merintis PDI Perjuangan di Kabupaten Kutai (sekarang sebagai Kabupaten Kutai Kartanegara).

Pilihan dan keputusan JJ turun ke medan politik memang tidak salah. Terbukti, pada 1999, dia dan Fransiskus Xaverius Yapan lolos menjadi anggota DPRD Kutai. Sedangkan Syaharie Jaang memilih ke Samarinda dan terpilih sebagai wakil wali kota pada 2000. Kala itu, dapat menjadi anggota DPRD adalah sebuah kebanggaan. Terlebih lagi, JJ dan Yapan sama-sama anak kampung sebagai perwakilan daerah hulu.

“Saya masuk politik bukan karena saya tidak senang jadi guru, tetapi saya melihat, kalau saya menjadi guru saja, maka skop yang bisa saya perjuangkan sangat kecil. Saya melihat politik sebagai wadah yang lebih besar untuk berjuang,” imbuhnya. (*)

Penulis/Editor: Dirhanuddin

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close