HeadlineIndepth

Jangan Panik! Virus Corona Tak Mudah Menular, Ini Cara Mencegahnya

Virus Corona
Meski belum menemukan obat, masyarakat diminta tidak panik dalam menghadapi virus corona yang sudah mulai masuk Indonesia. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Bontang –  Masyarakat Bontang tak perlu panik terhadap isu virus corona yang sedang berkembang saat ini. Utamanya lagi sudah mulai terdeteksi di Indonesia. Lantaran penyakit ini dapat dicegah apabila memahami pola penyebaran dan pencegahannya. Hal ini disampaikan oleh Dokter Spesialis Paru RSUD Taman Husada, Bontang, dr Dian Ariani Tarigan, Sp.P dalam konferensi pers bertema Kesiapsiagaan dan Kewaspadaan Covid –19.

baca juga: Breaking News: Satu Warga Bontang Dikabarkan Suspect Corona, RSUD dan KMU Angkat Bicara

Dijelaskannya, penyebaran corona virus yang saat ini sudah diberi nama covid-19 tersebut adalah melalui udara. Melalui dahak atau percikan dahak. Keluar bisa dengan berbagai cara. Saat berbicara, teriak, batuk, sampai dengan bernyanyi. Intinya keluarnya partikel saat mulut terbuka. Walaupun melalui udara namun tidak otomatis bisa langsung menularkan. Lantaran penularannya tidak bisa dengan jarak jauh melainkan jarak dekat. Hanya satu meter sampai dua meter.

“Jadi kalau ada orang yang jaraknya lebih dari dua meter dengan si penderita covid, tidak bisa tertular,” bebernya.

Salah satu cara bisa tertular apabila bersalaman. Setelah salaman dengan orang terjangkit covid, orang itu tidak cuci tangan lalu memegang anggota tubuhnya yang lain seperti mulut, mata, dan hidung. Di mana anggota tubuh tersebut menjadi jalan masuknya virus ke dalam tubuh.

Corona virus diketahui menyerang paru-paru, usus, dan saluran cerna. Karena virus ini bekerjanya tidak bisa sendiri harus bersama reseptor (penerima). Seperti gembok dan kunci. Misalkan virus corona itu ada sekitar kita. Tapi tidak ketemu gemboknya tidak akan dia jadi penyakit. Tapi kalau ketemu gemboknya. Gembok itu ada di tubuh kita. Biasanya di tubuh orang-orang yang rentan terhadap penyakit, daya tahan tubuhnya kurang, atau gaya hidup tak baik seperti merokok, vape, dan miras.

“Hal ini yang memungkinkan gembok bertemu kuncinya tadi,” jelasnya.

Gembok itu tempat biasanya paling banyak di saluran napas dan saluran cerna. Makanya gejala-gejala pada corona ini paling banyak sesak napas dan diare. Karena reseptornya berada di paru-paru, usus, dan saluran cerna.

“Nah, yang seharusnya menggunakan masker adalah orang-orang yang sakit bukan yang sehat. Masker untuk mencegah tersebarnya virus. Ada orang sehat pakai masker yaitu petugas kesehatan. Karena mereka melayani orang sakit,” bebernya lagi. Karena itu ia mengimbau masyarakat agar tidak perlu panik dengan sibuk memborong masker.

Pengobatan Belum Ditemukan

virus corona
Obat virus corona hingga saat ini masih terus dicari dan teliti para dokter di berbagai belahan dunia, utamanya di negara yang terjangkit virus tersebut. (Ilustrasi)

Sampai saat ini pengobatan covid-19 ini masih belum ditemukan. Jangan mempercayai berita-berita yang beredar. Lantaran banyak berita hoaks terkait pengobatan virus corona. Seperti misalnya memakan bawang putih atau yang lebih parah meminum obat haid, kiranti karena dianggap kandungan temulawak bisa mengobati.

Ia kembali menegaskan, untuk pencegahan yang utama bukan dengan menggunakan masker. Pencegahan adalah melalui Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Sering mencuci tangan dan membiasakan etika batuk.

“Kalau batuk jangan sembarangan. Batuk sembarangan apalagi jaraknya tidak lebih satu meter bisa menular kepada yang lain,” tegasnya.

Menyimpulkan Confirm Virus Corona Tidak Bisa Buru-buru

virus corona
Dr Dian Ariani Tarigan, Sp.P (3 dari kanan kerudung hitam) bersama narasumber lainnya berfoto bersama usai konferensi pers. (Yusva Alam/Akurasi.id)

Merespons isu corona yang sedang santer, upaya penanganan pun sudah dilakukan di Bontang. RSUD Taman Husada sebagai rumah sakit rujukan wajib menerima pasien. Apakah pasien itu masih curiga atau yang sudah confirm (terjangkit) corona virus. Tidak boleh tidak menerima.

“RSUD akan selalu waspada dan mengambil tindakan pada setiap pasien yang dirujuk,” ungkap Dian.

Tapi dia mengimbau kepada rumah sakit swasta apalagi yang memiliki ruang isolasi. Agar juga ikut melakukan pencegahan awal dengan memanfaatkan ruang isolasi tersebut. Sehingga merujuk ke RSUD hanya pasien yang memiliki kasus dengan tingkat kecurigaan tinggi terhadap virus corona.

“Saat ini kan tidak. Karena kekhawatiran yang tinggi seolah-olah tidak mau memanfaatkan ruang isolasi. Langsung saja merujuk ke RSUD. Kalau kecurigaan tidak tinggi bisa ditangani dulu di rumah sakit bersangkutan,” jelasnya.

Untuk mendiagnosis suatu penyakit corona virus ini tidak bisa langsung menyimpulkan confirm atau tidak. Biasanya dari pemantauan dulu, pengawasan, baru dinyatakan confirm.

“Biasanya teman-teman (wartawan) atau masyarakat apabila mendengar kata-kata suspect biasa sudah heboh dulu. Pasti langsung menganggap virus corona,” ujarnya.

Dijelaskannya, bahwa istilah suspect dipakai organisasi kesehatan dunia WHO. Namun istilah di dunia medis Indonesia adalah pengawasan. “WHO menyebut suspect, kami menyebutnya pengawasan,” imbuhnya.

Dalam menetapkan seorang pasien itu confirm virus corona tidak bisa buru-buru. Perlu pemeriksaan-pemeriksaan lain seperti laboratorium, rontgen, dan sebagainya. “Tidak bisa hari ini masuk, hari ini juga ditanya hasilnya,” tegas dia.

Penyakit Lama, Lebih Rendah Tingkat Kematian

virus corona
Menjaga pola hidup bersih dengan rajin mencuci tangan dan muka adalah salah satu cara mencegah penyebaran virus corona. (Ilustrasi)

Dirinya menambahkan sedikit informasi terkait virus corona. Dia menyebutkan, virus corona merupakan penyakit lama. Dulu terkenal dengan penyakit mers, sars, ataupun ebola. Ketiga penyakit ini penyebabnya pun sama, yaitu virus corona. Namun untuk virus corona yang sekarang disebutnya covid-19. Kalau dulu namanya novel corona virus. Novel artinya baru, bukan nama virus. Namun karena baru ditemukan namanya novel. Setelah sebulan ditemukan dinamakan covid-19.

“Virus corona penyakitnya lebih ringan dibandingkan MERS, SARS atau Ebola. Karena tingkat kematiannya lebih rendah,” ungkapnya.

Berdasarkan penelusuran Akurasi.id dari berbagai sumber, menyatakan hal yang sama. Tingkat kematian covid-19 lebih rendah dibandingkan virus yang lain.  Seperti yang banyak diberitakan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying menyebutkan, virus corona atau 2019-nCoV tidak separah virus mematikan yang pernah mewabah sebelumnya, seperti Ebola, SARS, dan MERS.

“Meskipun 2019-nCoV telah menginfeksi banyak orang, angka kematian yang hanya 2,1 persen di China jauh berada di bawah penyakit menular seperti Ebola, Sars, dan Mers,” kata diplomat perempuan itu seperti dilansir Antara, Selasa (5/2/2020) malam.

Kemudian, menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kebanyakan pasien hanya memiliki gejala ringan, dan angka kematian tampaknya antara 2 persen dan 5 persen. Sebagai perbandingan, flu musiman memiliki tingkat kematian rata-rata sekitar 0,1 persen tetapi sangat menular dan hingga 400 ribu orang meninggal setiap tahun.

Jenis virus corona lain, seperti Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) dan Middle East Respiratory Syndrome (MERS), memiliki angka kematian yang jauh lebih tinggi daripada Covid-19. Selain itu, jumlah kasus infeksi virus corona terus meningkat hingga mencapai hampir 91 ribu di seluruh dunia.

iklan-mahyunadi-MAJU-KUTIM-JAYA

Meski demikian, jumlah pasien yang berhasil sembuh dari covid-19 juga meningkat lebih cepat dan kini telah mencapai lebih dari 48 ribu orang. Berdasarkan data worldometers.com, jumlah kasus yang berhasil sembuh dari virus itu di seluruh dunia jauh lebih tinggi dari kasus yang masih aktif yakni 39.663 orang.

Sementara total kematian akibat covid-19 telah mencapai 3.125 orang. Tingkat kematian dibandingkan seluruh kasus mencapai 3,4 persen. Angka ini lebih rendah dibandingkan tingkat kematian akibat SARS dan MERS. (*)

Penulis:YusvaAlam
Editor: Dirhanuddin



Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close