HeadlineKesehatan

Jarang Diketahui, Kehamilan di Luar Kandungan dan Bahaya yang Senantiasa Mengintai Ibu Hamil

Saat ini, masih sedikit perempuan atau ibu hamil yang mengetahui bahaya dari kehamilan di luar kandungan. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Samarinda – Kehamilan ternyata tidak selamanya membawa kabar baik bagi seorang pasangan yang telah menikah. Dalam beberapa kasus ternyata ditemukan adanya kasus kehamilan ektopik terganggu. Kehamilan yang lebih dikenal sebagai kehamilan di luar rahim itu, jika tidak ditangani secara baik dan benar, maka dapat berakibat fatal berupa kematian.

Dosen Keperawatan Stikes Wiyata Husada Samarinda Desy Ayu Wardani menerangkan, ada cukup banyak penyebab kasus kehamilan ektopik. Beberapa di antaranya dipengaruhi faktor hormon, infeksi yang berasal dari ibu hamil dan juga suami.

“Ada kondisi di mana terjadi infeksi di daerah kemaluan yang membuat janin tidak tumbuh di rahim, tetapi di daerah lainnya,” kata dia kepada Akurasi.id selepas menjadi narasumber pada acara Global Health Center (GHC) Kaltim, Sabtu (5/10/19) lalu.

Ketika ditemukan kasus kehamilan di luar kandungan, maka janin harus diambil. Sebab ketika janin mengalami perkembangan, maka dikhawatirkan akan pecah. Apabila itu sampai terjadi, maka dapat mengakibatkan pendarahan dan rasa nyeri yang begitu luar. Pada kondisi tertentu, seorang perempuan yang memiliki fisik lemah dapat berakibat fatal, meninggal.

“Ketika janin berkembang, maka pada akhirnya janin itu akan tetap pecah. Karena dia berkembang di luar rahim. Sementara saluran rahim itu sendiri sangat kecil,” tuturnya.

Yang mesti diwaspadai bagi ibu hamil, ketika janin di luar rahim pecah, maka dapat mengakibatkan sepsis atau infeksi pada seluruh tubuh sebagai akibat adanya mikroorganisme atau racunnya dalam jaringan atau aliran darah. Risiko tertingginya dapat berupa kematian. Sehingga penting bagi seorang perempuan memeriksakan kehamilan pada masa-masa awal kehamilan.

“Kehamilan di luar kandungan sudah dapat dideteksi pada masa awal kehamilan, antara 6-10 minggu pertama. Makanya penting melakukan USG (ultrasonografi medis) untuk mengetahui apakah janin tumbuh di dalam rahim atau di luar,” cakapnya.

Dapat Dipengaruhi Perilaku Seks Bebas

Melakukan USG pada masa-masa awal kehamilan penting dilakukan untuk mencegah adanya risiko pendarahan hingga kematian. (Ilustrasi)

Potensi kasus kehamilan di luar janin terbilang cukup besar. Merujuk data kesehatan nasional, sebanyak 2 dari 100 ibu hamil di Indonesia mengalami kehamilan di luar kandungan. Hal serupa juga berpeluang terjadi terhadap ibu-ibu hamil di Kaltim.

“Data pastinya untuk Kaltim memang belum saya pegang. Tetapi potensi itu cukup terbuka di Kaltim,” sebut Desy Ayu Wardani.

Gaya hidup dan pola makan dari para perempuan Indonesia maupun Kaltim bisa dibilang cukup riskan menyebabkan terjadinya kehamilan di luar kandungan. Selain itu, perilaku dari setiap perempuan atau lelaki yang gemar melakukan gonta ganti pasangan seks juga sangat memegaruhi hal itu. Karena tidak jarang, ada perempuan sebelum hamil sering melakukan hubungan seks bebas. Tetapi ada juga yang setelah hamil masih melakukan hubungan seks bebas.

“Hindari adanya seks bebas. Karena itu salah satu yang dapat menyebabkan infeksi pada daerah rahim,” serunya.

Temuan kasus kehamilan di luar rahim kebanyakan ditemukan setelah pasien dirujuk ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD). Sebab, untuk kasus dengan risiko tinggi, pasien akan mendapatkan rujukan. Selain itu, temuan kasus ini tidak hanya di perkotaan, tetapi juga di daerah pelosok.

“Baik yang di desa atau perkotaan, sama-sama memiliki risiko,” katanya.

Perbedaan Pendarahan, Keguguran, dan Kehamilan Ektopik

Desy Ayu Wardani menuturkan, kehamilan ektopik atau kehamilan di luar kandungan berbeda dengan abortus maupun keguguran yang pada umumnya dialami perempuan hamil. Menurutnya, kehamilan ektopik, memiliki ciri-ciri rasa nyeri berkepanjangan dan cenderung lebih sakit.

Seperti halnya abortus maupun keguguran, biasanya setelah terjadinya pendarahan, rasa nyeri pada ibu hamil tidak akan berlangsung lama. Sedangkan kehamilan ektopik, belum keluar darah, rasa nyeri sudah terasa begitu sakit di daerah bagian atas kemaluan.

“Pendarahannya tidak seperti orang keguguran. Pendarahannya bisa hanya berupa flek. Tetapi rasa nyerinya yang begitu hebat yang perlu dicurigai. Kalau obortus, hanya saat keluar darah. Kalau kehamilan ektopik, nyerinya bisa sampai berminggu-minggu,” urainya. (*)

Penulis: Muhammad Aris
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (3 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close