HukumIndepth

Kasus Alphad, dari Kerja Sama Menggiurkan, Berujung Rugi Rp 15 miliar

Kasus Alphad, dari Kerja Sama Menggiurkan, Berujung Rugi Rp 15 miliar

Akurasi.id – Dugaan penipuan/penggelapan yang menjerat Alphad Syarif, Ketua DPRD Samarinda nonaktif terpilin awur-awuran. Sengketa tanah di Pengadilan Negeri (PN) Samarinda menjadi muasal laporan Adam Malik (korban) ke Bareskrim Polri itu. Tapi kedua pihak ini tak berkaitan langsung dengan pihak yang bersengketa di meja hijau.

Benang kusut yang menyeruak sejak September lalu perlahan terurai ketika kasus ini terbuka untuk umum. Tepat ketika korban bersaksi, Senin (3/12) dan Alphad duduk sebagai terdakwa di PN Samarinda.

Dari pengakuannya, pelapor mengaku menerima tawaran kerja sama untuk mendanai operasional persidangan sengketa lahan milik Maskuni, rekan Alphad medio 2013 silam. Jika Maskuni memenangi gugatan atas lahan seluas 11.250 meter persegi di Jalan Wahid Hasyim, Sempaja Utara, Samarinda  itu, ada bagi hasil penjualan dari lahan yang siap dilego seharga Rp 40 miliar itu.

Di meja hijau, Maskuni bertarung memperebutkan legalitas tanah itu dengan tiga orang. Mereka ahli waris almarhun Lukman Hafidz (Mirwati, Reva Rachman Dany Hafiedz, M Zahedi, M Daury), Wahab, dan H.Ichwanuttaqwa.

“Pembeli sudah ada tinggal pastikan legalitas karena masih bersidang di PN. Saya dijanjikan dapat bagi hasil 40 persen, sekitar Rp 18 miliar,” aku Adam Malik di persidangan, senin itu.

Kocek yang digelontorkan untuk operasional persidangan hanya Rp 4 miliar. Mendengar nominal itu, dengan keuntungan empat kali lipat, dia tergiur dan menyetujui mengucurkan duit. Untuk proses sengketa dia pun tak perlu terlibat. Semua dihandel Alphad dan Maskuni.

Alokasi dana mulai bergulir sejak 10 September 2013 – 24 April 2014. Dia mencatat setiap kali dia menyetorkan dana – tunai atau transfer – ke Alphad untuk membiayai persidangan. Totalnya jauh dari kesepakatan awal, membengkak jadi Rp 15,2 miliar.

Kasus Alphad, dari Kerja Sama Menggiurkan, Berujung Rugi Rp 15 miliar

Semua dana itu bukan miliknya sendiri. Adam meminjam uang dari tiga orang lain, yakni Suharso, Andri, dan Risdon Garingging. Bahkan menggadai surat tanah miliknya ke bank. “Dana pribadi hanya Rp 6 miliar. Sisanya punya tiga orang ini,” sebutnya.

Sengketa lahan pun nyatanya tak sesuai ekspektasi. Maskuni tumbang melawan tiga orang yang juga memiliki legalitas atas tanah tersebut.Tak terima dia pun meminta Alphad mengembalikan uang yang sudah diberikan.

Tapi, Alphad selalu mengelak. “Apalagi tiga teman saya itu menagih terus. Bahkan membawa masalah ini ke polisi,” sambungnya.

Uang itu, klaim dia, tak pernah dinikmatinya dan melaporkan perkara ini ke kepolisian jadi opsi yang dipilihnya agar desakan rekannya itu tak menjerumuskannya ke meja hijau. Laporan itu diambil agar Alphad segera mengembalikan uang tersebut. “Jika sudah dikembalikan rencananya langsung cabut laporan,” akunya.

Tapi guyub baru datang ketika Alphad telah ditahan Bareskrim Polri. Surat pernyataan pencabutan diajukannya sebelum perkara ketua DPRD Samarinda nonaktif itu masuk ke meja Kejari Samarinda.

Ada Damai di Sana-Sini

 

Maskuni sama sekali tak mengetahui jika dana yang digunakan untuk sengketa lahan itu bersumber dari Adam Malik. Dia mengira dana itu bersumber dari Alphad sendiri. “Baru tahu itu ketika kasasi yang menyatakan kami kalah terbit,” ucap Adris Patolamo Sakudu, penasihat hukum Maskuni dalam sengketa lahan tersebut bersaksi di PN Samarinda.

Pokrol senior di Samarinda itu bersaksi lantaran kliennya, Maskuni telah mangkat awal 2017 lalu. Dia dan kliennya itu pun bergerak cepat dan membuat pernyataan bermaterai akan menanggung semua kerugian yang diderita Adam Malik pada 5 Agustus 2016, empat bulan selepas kasasi yang menyatakan mereka kalah.

Maskuni pun mengambil opsi berdamai dengan ketiga pihak yang digugatnya sebelumnya. Kesepakatan terpilin mengikutsertakan Adam Malik untuk masalah tanah tersebut.  Semua pihak bersepakat, ada pembagian hasil penjualan untuk pihak yang bermufakat itu.

Warkah tanah diperbarui dan mengganti nama Adam sebagai pemilik lahan tak lama berselang. “Hanya SPPT (surat pernyataan penguasaan tanah). Untuk menjual harus kesepakatan semua pihak,” kata Adam Malik dalam sidang.

Alphad terlanjur ditetapkan sebagai tersangka, tapi uang yang sudah diberikan itu tak juga kembali dan guyub keduanya baru klimaks Oktober 2018, setelah perkara Alphad dilimpahkan Bareskrim Polri ke Kejagung RI. “Surat pencabutan laporan dan perdamaian saya dan Alphad sudah juga saya serahkan ke kedua institusi itu,” tutup Adam diujung persidangan. (*)

Penulis: Abi Arya dan Ufqil Mubin

Editor: Yusuf Arafah

0/5 (0 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close