Catatan

Katolik dan Pancasila

Katolik dan Pancasila
Stepanus Lugan (Istimewa)

Ditulis oleh: Stepanus Lugan

3 Juni 2019

Pancasila merupakan dasar negara Republik Indonesia. Ini pasti sudah diketahui oleh setiap warga negara Indonesia. Pancasila bukanlah sebuah kumpulan ide atau gagasan yang diciptakan oleh para pendiri bangsa ini. Pancasila adalah nilai-nilai hidup yang telah dijiwai dan dihidupi oleh bangsa Indonesia dari abad ke abad. Bahkan sebelum Indonesia resmi terbentuk.

Pidato Soekarno tentang Pancasila di depan Sidang PBB pada 1960, menyebutkan, “Berbicara tentang Pancasila di hadapan tuan-tuan, saya mengemukakan intisari dari peradaban kami selama dua ribut tahun.” Dari pernyataan ini jelas bahwa Pancasila adalah sebuah kristalisasi atau pengendapan nilai-nilai hidup bangsa Indonesia yang sudah teruji dalam perkembangan dan pergolakan zaman.

Pancasila sudah teruji pula menjadi cara hidup (way og life) setiap rakyat Indonesia yang berasal dari berbagai suku, bahasa, dan agama. Nilai-nilai yang tertuang dalam lima sila dasar itu berlaku secara universal. Maka Pancasila bukanlah nilai eksklusif untuk bangsa Indonesia saja. Melainkan juga untuk bangsa-bangsa di dunia.

Jika nilai-nilai Pancasila bersifat universal, pertanyaannya adalah mungkinkah nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila juga terkandung dalam ajaran Gereja Katolik?

Mengasihi Tuhan dan Sesama

Sila pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila ini ditempatkan di bagian pertama oleh para pendiri bangsa ini. Tentu saja penempatan itu bukan tanpa maksud. Menjadi pertama berarti menjadi dasar sekaligus titik tolak untuk empat sila lainnya.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa religius. Bahkan sebelum agama-agama lainnya hadir di Indonesia. Nenek moyang bangsa Indonesia percaya akan Dia yang Ilahi. Yang menciptakan dan mengatur dunia ini. Keyakinan inilah yang membuat agama-agama lain mudah masuk, diterima, dan dianut. Percaya kepada Tuhan Yang Esa semacam darah daging bangsa Indonesia. Ini berarti, mengakui dan percaya kepada Tuhan bukan soal mengetahui secara teoritis atau intelektual. Tetapi melakukan perintah-Nya dengan mengasihi Tuhan.

Kemudian, kamanusiaan di mata Allah dapat dibaca dalam Imamat 19:13-18. Inti perikop kitab Imamat memperlakukan sesama manusia secara beradab (ayat 13, 14), secara lebih adil (ayat 15, 16), dan terakhir adalah kesimpulan dari apa yang dikatakan yakni kasihilah sesama manusia (ayat 17, 18). Bertindak jujur dan adil terhadap sesama merupakan bentuk mengasihi sesama sekaligus sebagai pengamalan sila kedua. Jelas bahwa mengasihi sesama berkaitan dengan sikap dan perbuatan kita terhadap orang lain.

Persatuan Indonesia

Sila ketiga adalah rumusan yang sangat singkat yakni Persatuan Indonesia. Hingga saat ini, bangsa Indonesia sedang berjuang mewujudkan amanat sila ini. Karena seperti yang sering kali kita lihat, terjadi konflik vertikal antara pejabat dengan rakyat, atau konflik horizontal antarwarga sendiri yang sejatinya mewarnai perjalanan bangsa ini menuju persatuan Indonesia.

Berangkat dari mimpi sebuah persatuan bangsa, maka perikop dari nubuat Nabi Yesaya 11:1-10, paling tidak bisa mewakili refleksi kita tentang persatuan Indonesia. Bacaan tersebut berbicara tentang mimpi zaman mesianik. Mimpi sebuah kerajaan damai. Dalam kerajaan damai, unsur-unsur persatuan dan keharmonisan menjadi prasyarat sebuah bangsa. Kendatipun nubuat tersebut diperuntukkan bagi bangsa Israel. Tetapi makna dan pesannya juga relevan untuk bangsa Indonesia.

Kesenjangan sosial selalu muncul dari waktu ke waktu. Kondisi ini bisa dibandingkan dengan manusia dan berbagai binatang dalam kerajaan damai di nubuat Yesaya: serigala, domba, lembu, singa, beruang, kambing, dan anak kecil. Secara alamiah, sebenarnya mereka bisa saling memakan sehingga timbul kekacauan. Demikian pula di Indonesia. Perbedaan dalam segala aspek kehidupan, jika tidak dikontrol, bisa melahirkan kekacauan.

Hikmat Kepemimpinan

Sila keempat berbicara tentang kepemimpinan. Kepemimpinan ideal menurut sila keempat adalah kepemimpinan yang didasarkan pada hikmat kebijaksanaan dan kepemimpinan yang mengedepankan musyawarah ketika mengambil keputusan. Dengan dua pondasi tersebut yaitu hikmat dan musyawarah, akan lebih terjamin terciptanya kepemimpinan yang melahirkan kebaikan bagi seluruh masyarakat.

Kasih kepada Tuhan dan sesama adalah perintah yang utama dan tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum tersebut. Maka hal ini juga berlaku sebagai dasar kepemimpinan. Dengan melihat supremasi kasih yang mengatasi segalanya. Demikian pentingnya posisi kasih, St. Agustinus mengatakan jika seseorang memiliki kasih, maka orang tersebut dapat berbuat apa pun. Hal ini disebabkan kasih yang dibicarakan St. Agustinus adalah kasih yang supernatural (Ilahi). Menempatkan kasih kepada Tuhan lebih dari segalanya. Kasih seperti inilah yang menjadi dasar spiritualitas dari setiap pemimpin secara khusus pemimpin Kristiani.

Keadilan Sosial

Keadilan versi Allah adalah keadilan berdasarkan kebaikan, belas
kasih atau kerahiman. Tanpa dijelaskan lebih lanjut, prinsip keadilan sosial sebenarnya sudah diketahui oleh banyak orang. Sekalipun rumusannya berbeda, tetapi intinya tetap sama. Keadilan sosial mengungkapkan kesadaran dan cita-cita para pendiri Republik Indonesia bahwa bangsa yang hidup di Nusantara ini hanya dapat sejahtera bila di sana tegak keadilan sosial. Keadilan yang menyangkut kepentingan publik.

Sebagai umat beriman, refleksi Gereja Katolik selalu memperjuangkan “prinsip subsidiaritas”, yang mengamanatkan perlunya menghormati hak-hak masyarakat kecil dan tertindas sebagai ajaran sosial gereja. Prinsip ini juga menjunjung tinggi penghargaan pada martabat manusia. Artinya dari segi kebijakan dan peraturan yang berlaku di masyarakat harus sejalan dengan prinsip kebaikan bersama. Gereja Katolik selalu berupaya semakin terbuka pada perkembangan dunia dan memandang keadilan sebagai bagian penting dari kehidupan orang beriman (Justicia in Mundo, 1971).

Setiap orang memiliki kesetaraan martabat dan hak asasi di hadapan Allah. Hak asasi manusia adalah hak-hak yang telah dipunyai seseorang sejak ia dalam kandungan. Gereja dewasa ini memandang hak asasi manusia merupakan spirit yang ditawarkan abad modern dalam hal pengakuannya atas nilai universal martabat manusia sebagai citra Allah Yang Mulia.

Pengamalan dan Pengawalan Pancasila

Mengarahkan agama sebagai unsur peramal dan pengawal Pancasila yang efektif dalam rangka menciptakan kedamaian dan kebahagiaan bangsa Indonesia secara material dan spiritual dalam wujud tanggung jawab anak bangsa. Prosesnya, memelihara dan melaksanakan falsafah Pancasila dengan jalan membina, memelihara dan melayani rakyat Indonesia agar menjadi bangsa yang beragama.

Kiranya sudah cukup menjadi keyakinan bersama, berdasarkan pengalaman sejarah kemerdekaan Indonesia, Pancasila bukan hanya sekadar nilai filosofis atau pandangan hidup, tetapi terbukti sebagai pemersatu bangsa yang kokoh, yang sudah teruji ketangguhannya menghadapi segala gelombang pergolakan di Tanah Air. Jika kita telaah lebih dalam lagi, Pancasila benar-benar mencermikan aspirasi bangsa Indonesia dalam keseluruhannya.

Sudah jelas dan yakin bahwa Pancasila adalah kepribadiaan bangsa Indonesia menurut kodratnya, yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai salah satu silanya. Di samping empat sila lain yang juga paralel dengan agama apa pun. Maka dari kacamata agama tidak ada alasan tidak menerima Pancasila. Demikian alasan mengapa agama perlu kita arahkan untuk menjadi unsur pengamal dan pengawal Pancasila.

Bangsa Indonesia menghendaki keselarasan hubungan antarmanusia dengan Tuhannya, antarmanusia serta lingkungan alam sekitarnya, keserasian hubungan antarbangsa-bangsa, dan keselarasan antarcita-cita hidup di dunia dan mengejar kebahagiaan akhirat. Karena kehidupan manusia dan masyarakat yang serba selaras adalah tujuan akhir pembangunan nasional: masyarakat maju, adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Sejarah telah membuktikan bahwa Pancasila mampu menyatukan bangsa Indonesia yang begitu beragam dari segi budaya, agama, suku, dan adat-istiadat. Maka dari itu, agama dan negara perlu menghindari upaya “meng-agama-kan Pancasila atau mem-pancasila-kan agama” serta mengharapkan agar kekuasaan digunakan untuk kepentingan umum dan menegakkan keadilan dalam masyarakat.

Dari segi keyakinan keagamaan, pengamalan Pancasila pertama-pertama harus dihindari persoalan-persoalan semu yang dapat timbul dengan pendekatan yang keliru seolah-seolah permasalahannya ialah pilihan antara meng-agama-kan Pacasila atau mem-pancasila-kan agama. Sedangkan masalah sebenarnya ialah agar para warga negara yang menganut agama-agama yang berlainan bersama-sama bertanggung jawab memberikan dasar-dasar etis yang kuat dalam pengamalan Pancasila dalam suasana kemerdekaan yang bertanggung jawab, kerukunan, keadilan serta persamaan hak dan kewajiban bagi tiap-tiap warga negara dalam semua bidang termasuk bidang keagamaan.

Meskipun Pancasila menjadi pemersatu bangsa, kenyataannya pengamalan dan penghayatan Pancasila dalam kehidupan ketatanegaraan maupun dalam kehidupan sehari-hari telah menghadapi tantangan-tantangan dan hambatan-hambatan dengan adanya penyelewengan atau penyimpangan.

Berhubungan dengan penyimpangan-penyimpangan dalam mengamalkan Pancasila, maka perlu diusahakan pemurnian pelaksanaan Pancasila dan UUD 1945 dengan cara menumbuhkan kesatuan tafsir mengenai Pancasila dan UUD 1945, dan menanamkan kesetiaan terhadap Pancasila dan UUD kepada seluruh masyarakat. Kemudian aparat mengambil tindakan tegas  dan konsekuen terhadap setiap warga negara yang nyata-nyata telah menyeleweng dari Pancasila dan UUD 45.

Pembangunan bukan saja menghasilkan kemakmuran. Tetapi juga harus menjamin keadilan sosial. Bukan saja berisi bidang-bidang lahiriah. Tetapi juga seimbang dengan bidang kejiwaan rohaniah. Pancasila dengan sila Ketuhanan Yang Maha Esa mencerminkan sifat masyarakat yang percaya kehidupan lain setelah kehidupan di dunia. Inilah yang mendorong bangsa ini mengejar nilai-nilai luhur yang akan membuka jalan bagi kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Sekilas: Stepanus Lugan adalah mahasiswa program S1 Prodi Pendidikan dan Pengajaran Agama Katolik Sekolah Tinggi Kateketik Pastoral Katolik Bina Insan Keuskupan Agung Samarinda.

Sumber Rujukan:

Djamal D., Pokok-Pokok Bahasan Pancasila, Bandung, Penerbit: Remadja Karya, 1986.

Riyanto, A dkk (Editor) Kearifan Lokal – Pancasila, Butir-Butir Filsafat Keindonesiaan Yogyakarta: Kanisius, 2015

Lembaga Alkitab Indonesia. Alkitab Deuterokanonika, Jakarta: LAI, 2006.

Sukarno. Tuhan Hanya Esa, Itulah Keyakinanku. Jakarta: Departemen Agama, 1965.

Wawan Tunggul Alam (ed.), Bung Karno. Menggali Pancasila, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2001

Dokumen Konsili Vatikan II, diterjemahkan oleh R. Hardawirayana SJ, Jakarta: Obor, 2013.

5/5 (1 Review)

Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close