HeadlineRiwayat

Keterbatasan Ekonomi Tak Jadi Penghalang Raking Melenggang ke Kursi Legislatif

Mengulik Sisi Lain Wakil Rakyat Kota Taman

Akurasi.id, Bontang – Nama lengkapnya Raking. Pria yang lahir di Bone pada tanggal 1 Februari 1976 merupakan salah satu dari 13 wajah baru yang menjadi anggota DPRD Bontang periode 2019-2024. Menjadi wakil rakyat tak membuatnya tinggi hati. Justru di sinilah ia berhasil membuktikan pada ayahnya yang dahulu menentang untuk melanjutkan pendidikan. Hal ini membuat ia terkenang masa mengarungi kerasnya hidup di masa kecil.

Raking kecil berjalan menapaki lumpur bercampur tanah liat dengan beralaskan sandal jepit. Dengan langkah perlahan tapi pasti, ia berhati-hati melangkahkan kakinya agar seragam merah putihnya tak kena percikan lumpur yang dipijaknya. Jarak tempuh yang mesti ia lalui dari rumah menuju SDN 008 Marangkayu masih sekitar 1,5 kilometer lagi.

Dengan kondisi ekonomi orang tua yang pas-pasan, Raking tidak pernah memiliki sepatu baru. Ia hanya menatap iri sebayanya saat berlarian di halaman sekolah menggunakan sepatu. Seragam lusuh yang ia pakai pun hasil belas kasih orang lain. Hingga suatu hari, Raking menerima pemberian sepatu bekas milik teman sekelasnya. Meski kondisinya sedikit cacat, laki-laki berkulit sawo matang ini merasa bersyukur.

Sejak kecil, Raking tinggal bersama kedua orang tua dan kelima saudaranya di Marangkayu tepatnya di Semangko, sebuah kecamatan yang terletak di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara. Ayahnya hanyalah petani kecil. Hasil bercocok tanam lebih sering dikonsumsi untuk keluarga ketimbang dijual.

Raking tertawa tatkala mengingat masa kecilnya yang penuh kenangan. Dia berkata, jika ingin menikmati makan enak, ia selalu menjadi pembaca barzanji bersama ustaz jika ada warga kampung memiliki acara. Usai barzanji, Raking mengaku senang menyantap makanan yang jarang ia nikmati. Seperti gulai kambing, opor ayam kampung, dan menu khas lainnya.

“Jadi dulu motivasi saya belajar barzanji karena pengin makan enak,” ucapnya sambil tertawa.

Sebagai anak sulung, Raking memiliki tanggung jawab ikut menopang keluarga. Dia mengumpulkan receh demi receh untuk biaya keperluan sekolah. Berangkat sekolah Raking membawa jualan krupuk singkong dan kue buroncong, khas Sulawesi selatan. Bahkan, untuk mencari penghasilan tambahan, sesekali Raking mencuci mobil pick up milik pamannya yang penuh lumpur. Di sana, pick up menjadi kendaraan pengganti angkot yang digunakan warga hilir mudik menuju Bontang.

“Kalau enggak salah dulu saya dapat bayaran Rp 500 sekali cuci. Zaman dulu itu sudah cukup banyak,” katanya.

Usai lulus SD, Raking melanjutkan sekolah di MTs DDI Rapaklama Marangkayu. Kemudian Raking berencana melanjutkan sekolah di MA DDI Marangkayu. Saat itu, ayah Raking sempat menentang dirinya untuk melanjutkan sekolah. Pasalnya, sang ayah beranggapan meski sekolah setinggi apapun, Raking nantinya hanya menjadi petani seperti dirinya. “Tapi saya tetap bersikukuh untuk sekolah. Akhirnya orang tua setuju,” tuturnya.

Selama hampir 3 tahun sekolah, menjelang ujian dan kelulusan rupanya pihak sekolah mengalami masalah sehingga tidak dapat melanjutkan belajar mengajarnya yang membuat Raking harus mencari sekolah untuk melanjutkan pendidikan. “Sedih sebenarnya. Tapi mau bagaimana lagi. Kemudian saya ke Bontang, belajar di PKBM Hidayah sambil bekerja,” akunya.

Tahun 1995, Raking merantau ke Bontang. Ia tinggal di Guntung, menumpang di rumah tantenya. Pertama kalinya berkerja sebagai tenaga kerja bongkar muat (TKBM) dengan cara memikul pupuk dengan bobot 50 kilogram per karungnya. Upah yang diterima saat itu Rp 70 ribu per dua pekan.

Selain itu Raking pernah bekerja di lapangan golf sebagai tukang cangkul selama 3 bulan. Dia juga pernah bekerja sebagai karyawan di PT Truba Jurong Enginering selama setahun. Pengalaman kerja itulah membuatnya memiliki usaha di bidang jasa konstruksi. Hal yang dikerjakan meliputi pengerjaan parit, rumah, hingga pernah ikut mengerjakan proyek pembangunan jembatan Mahakam di Samarinda. Pendapatannya mulai Rp 5 juta hingga Rp 10 juta.

“Ada untung ruginya. Ruginya kalau pekerjaan molor, harusnya selesai 3 hari, tapi jadi seminggu. Rugi bayar upah pekerja hariannya,” terangnya.

Fokus di Bidang Pendidikan, Kesejahteraan, dan ketanagakerjaan

Mengawali politik 5 tahun lalu, Raking pernah mencalonkan diri sebagai caleg DPRD 2014 dari Partai Amanat Nasional (PAN). Saat itu dirinya diajak tokoh masyarakat untuk maju. Memperoleh 1200 suara, rupanya nasib baik belum berpihak kepadanya.

Tahun ini, Raking kembali terjun ke dunia politik dengan menerima pinangan dari Partai Berkarya. Sebelumnya, ia sudah sering mendapat tawaran dari partai lain untuk bergabung. Namun saat itu dia belum meminta restu dari sang istri, Nur Hamidah.

Di bidang pendidikan, Raking ingin mengusulkan penghapusan dikotomi antara sekolah negeri dan swasta. Melainkan memberikan pelayanan dan perlakuan yang sama. Pemikiran cemerlang ini memang sangat dimungkinkan karena Raking sejak dulu menjadi pemerhati pendidikan baik di Kota Bontang maupun Provinsi Kalimantan Timur melalui Dewan Pendidikan.

“Saya berharap pemerintah terus bersinergi dalam bidang pendidikan,” harapnya.

Melihat kondisi sekolah swasta di Bontang yang mulai berkurang peminatnya, Raking berujar bahwa sistem manajemen di sekolah perlu diubah. Menurutnya, pendidikan di sekolah bisa maju dengan adanya manajemennya yang baik.

“Harapan ke depan, nanti pemerintah bisa memberi training atau pelatihan manajemen ke sekolah-sekolah, bukan hanya sekolah milik pemerintah saja tetapi juga kepada sekolah yang dikelolah oleh masyarakat” katanya.

Untuk bidang kesejahteraan masyarakat, Usai dilantik pada 15 Agustus lalu, Raking langsung turun ke lapangan melihat kondisi masyarakat. Dia berkunjung dan melihat kondisi di Pelabuhan Tanjung Laut Indah dan Pasar Sementara Rawa Indah. Katanya, di pasar banyak pedagang yang menunggu proses pembangunan gedung pasar yang baru. Harapannya pembangunan pasar Rawa Indah bisa dioperasikan secepatnya.

Sejak menjadi anggota DPRD, Raking pun kebanjiran undangan, seperti undangan pernikahan dan akikah. Dia juga turun melayat jika ada warga yang meninggal dunia. Dia berharap lebih dekat dengan masyarakat ke depannya. “Saya juga berharap pemkot dan DPRD bisa bersinergi untuk mendengar dan merealisasikan keluhan masyarakat,” pungkasnya. (*)

Penulis: Suci Surya Dewi
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (4 Reviews)
Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close