Hard NewsHeadline

Ketika Banjir Merubah Samarinda Jadi Laut Dadakan di Tengah Pandemi Covid-19, Aktivitas Lumpuh Total

Banjir Samarinda
Hujan yang mengguyur Samarinda dari Jumat malam telah membuat daerah tersebut seolah laut dadakan. (Muhammad Budi Kurniawan/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Hujan yang mengguyur Kota Samarinda selama 10 jam lebih lamanya atau sejak pukul 00.15 Wita hingga pukul 10.00 Wita, Jumat (22/5/20), telah merubah sebagian wajah daerah tersebut menjadi laut dadakan. Lantaran banjir menahun yang tidak kunjung mendapatkan solusi itu setidaknya melumpuh 20 titik di Samarinda dengan kedalaman yang cukup parah.

Baca juga :Babak Baru, Kejati Tetapkan Satu Tersangka Terkait Proyek Pembebasan Lahan Sirkuit di Kutim, Rugikan Negara Rp25 Miliar

Tak hanya banjir, dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Samarinda, hujan deras disertai angin kencang juga telah mengakibatkan terjadinya tanah longsor di 5 titik di wilayah tersebut. Di mana, kebanaykan longsor yang terjadi merupakan kawasan pemukiman yang berada di pinggir dan di atas tebing.

Kepala Bidang (Kabid) Kedaruratan BPBD Samarinda, Ifran menjelaskan, banjir yang terjadi di 20 titik tersebut merupakan lokasi yang kerap menjadikan langganan genangan air ketika intensitas hujan tinggi.

Ke-20 titik yang terpantau genangan banjir itu, yakni Jalan Gerilya, Damannuri, Sukor Rejo, Lempake Jaya, Gunung Kapur II, Mugirejo, Cipto Mangunkusumo, DI Panjaitan (Alaya), Panjaitan (Kebun Raya), dan Tanah Datar, Citanduwi Tanah Merah.

Kemudian di sepanjang Jalan Wahid Hasim II Simpang 4 & Pos Pol, AW Syahrani (IndoGrosir), Sentosa Dalam, Pampang, Simpang Pasir Kecamatan Palaran, Pramuka, Teluk Kahol, Rapak Dalam, Pramuka Simpang Perjuangan, daerah Kampung Baru, Palaran, KH Harun Nafsi, Kenangan 2 dan terahkir Remaja.

“Dari pantauan tim kami, daerah Gunung Kapur merupakan genangan banjir yang cukup parah, hingga malam ini,” ucap Ifran saat di wawancari Akuradi.id, Jumat (22/5/20).

Lantaran banyaknya titik genang banjir, membuat tim BPBD terkendala menuju akses atau titik banjir. “Saat menijau lokasi banjir tim kami terkendala akses lokasi yang tak dapat dilalui lantaran banjir, sehingga kami harus menunggu genangan surut,” katanya.

Ketinggian air, lanjut Ifran, bervariasi mulai dari kisaran 30 hingga 100 sentimeter. Hingga berita ini diturunkan, Ifran mengaku kalau debit air perlahan berangsur surut.

“Saat ini tim kami sudah menurunkan perahu di lokasi banjir yang cukup parah yaitu Gunung Kapur. Ada puluhan anggota juga sudah kami turunkan untuk membantu warga yang ingin melintas. Untuk berjaga-jaga kami juga sudah menyiapkan 5 perahu, jadi jika ada yang membutuhkan kami siap bergerak,” jelasnya.

Tim BPBD Samarinda juga sudah melakukan peninjauan di lokasi longsor. Sejauh ini dipastikan tidak ada korban jiwa. “Kejadian tanah longsor ini terjadi di daerah Palaran, Loa Janan, Lempake dan Tanah Merah. Paling parah di kawasan Tanah Merah,” pungkasnya. (*)

Penulis: Muhammad Budi Kurniawan
Editor: Dirhanuddin

Tags

Leave a Reply

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close