CorakHeadlineIsu Terkini

Ketika Hetifah dan Syarifatul Bicara Pembangunan Kaltim, Lepaskan Tambang Majukan Pariwisata

Pariwisata
Wakil Ketua DPRD Berau Syarifatul dan Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian. (Dirhanuddin/Akurasi.id)

Akurasi.id, Samarinda – Tambang layaknya pisau bermata dua bagi masyarakat Kaltim. Di satu sisi menjadi pendongkrak ekonomi. Di sisi lainnya merusak ekosistem alam. Namun dalam beberapa tahun terakhir, keberadaan pertambangan juga sudah mulai diresahkan. Utamanya di sektor pertambangan batu bara.

Harga jual yang terus mengalami kontraksi, menurunnya permintaan ekspor dari beberapa negara lain seperti Tiongkok dan India, hingga peralihan teknologi yang tidak lagi bertumpu pada batu bara, menjadi sejumlah alasan pengusaha, pemerintah, dan masyarakat mulai khawatir mengandalkan sektor itu sebagai penopang utama ekonomi.

Baca Juga: Mentawir, Surga Kecil di Pesisir PPU, Lokasi IKN yang Kaya Akan Hasil Laut (2-Habis)

Seiring dengan persoalan tersebut yang bermunculan, kesadaran mendongkrak sektor lain sebagai penyangga ekonomi Kaltim pun banyak disuarakan. Salah satu sektor unggulan yang dinilai perlu didorong yakni sektor pariwisata. Karena potensi pariwisata laut, alam, dan kebudayaan cukup besar di Tanah Benua Etam -sebutan Kaltim.

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian adalah salah satu sosok yang begitu getol menyuarakan itu. Menurut dia, jika merujuk data nasional, sumbangsih devisa terbesar kedua setelah pertambangan. Pengembangan ekonomi kreatif termasuk di dalamnya.

“Saya cukup percaya, tulang punggung perekonomian kita ke depannya bukan pada SDA (sumber daya alam) tidak terbarukan, tetapi pada pelestarian lingkungan,” kata Hetifah, Jumat (15/11/19) di Jakarta.

Politikus partai Golkar ini berkeyakinan kuat, jika ekonomi yang berbasis pada pertambangan tidak akan lagi menjadi primadona ke depannya. Selain karena memang mengusung konsep yang tidak ramah lingkungan, sektor pertambangan batu bara maupun perkebunan juga sudah mulai ditinggalkan negara-negara maju lainnya.

Pemerintah Kaltim dinilai perlu dari sekarang mendorong peningkatan sektor pariwisata di setiap kabupaten/kota. Apalagi dari pemerintah pusat juga sedang giat-giatnya mendorong peningkatan investasi di sektor tersebut. Dari sekarang, pemerintah mesti mendata setiap potensi wisata dan menyiapkan infrastruktur pendukungnya.

“Pada 2020 mendatang, rencananya akan ada tiga event nasional yang mau dilaksanakan di Kaltim. Itu dapat menjadi peluang menarik wisatawan berkunjung dan melihat potensi pariwisata yang ada di Kaltim,” tuturnya.

Pada tahun ini sendiri, ada beberapa festival nasional yang sudah pernah digelar di Benua Etam. Antara lain, Festival Maratua Jazz dan Dive Fiesta 2019 di Berau dan Festival Erau di Kutai Kartanegara (Kukar). Ke depannya, seperti Festival Hudoq di Mahakam Ulu (Mahulu) dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Kaltim.

“Memperbanyak event itu adalah salah satu cara yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan. Pemerintah pusat sudah memiliki komitmen itu. Tinggal bagaimana pemerintah daerah menangkap peluang itu,” katanya.

SDM hingga Infrastruktur Perlu Dibenahi Segera!

Pariwisata
Air terjun bidadari adalah salah satu lokasi destinasi yang berada di Desa Teluk Sumbang, Berau. (Humas Pemprov Kaltim)

Sebelum mengembangkan sayap lebih jauh. Ada banyak hal yang mesti dibenahi terlebih dahulu. Infrastruktur dan sumber daya manusia (SDM) adalah dua di antaranya. Karena tantangan pengembangan pariwisata di Kaltim terletak pada kedua hal itu.

“Memang masih ada banyak hal yang mesti dibenahi bersama antara pemerintah pusat dan daerah untuk mengembangkan pariwisata di Kaltim,” ujar Hetifah.

Dari sisi infrastruktur, pemerintah harus menyiapkan fasilitas perhotelan berstandar nasional maupun internasional, menyiapkan transportasi pendukung, baik dari sisi darat maupun udara. Begitu juga untuk keamanannya. Itu penting untuk memberikan rasa aman kepada para wisatawan.

“Pariwisata yang ada saat ini harus dikemas agar lebih menarik lagi. SDM-nya harus disiapkan. Pelayanan harus mengikuti perkembangan teknologi,” sarannya.

Jika pemerintah daerah dan pusat saling bersinergi, Hetifah meyakini pariwisata Kaltim bakal berkembang pesat. Selain itu, lapangan kerja akan terbuka lebar dengan tumbuhnya sektor pariwisata. Hampir semua sektor akan ikut tumbuh dengan adanya pariwisata.

“Pariwisata sangat penting untuk kita siapkan. Bila perlu, kampus-kampus di Kaltim harus menyiapkan jurusan pariwisata. Ke depan, pengembangan pariwisata tidak boleh hanya konvensional. Tetapi harus berbasis teknologi, harus serba cepat,” katanya.

Kaltim Sebagai IKN Baru Jadi Peluang Melobi Anggaran

Pariwisata
Keindahan laut Biduk-Biduk adalah salah satu daya tarik tersendiri yang dimiliki Berau. (Humas Pemprov Kaltim)

Peluang lain yang mesti dimanfaatkan menurut Hetifah untuk mendongkrak pariwisata di Kaltim, dengan membawa nama IKN. Kata dia, rencana pembangunan IKN di Kaltim dapat dilihat sebagai peluang melobi pemerintah agar lebih memberikan anggaran khusus. Utamanya di sektor pariwisata.

“Sekarang tinggal bagaimana pemerintah daerah mau melobi pusat untuk menyampaikan program pembangunan di daerah mereka. Misalnya mengusulkan dana pembangunan pariwisata dan kebudayaan,” katanya.

Alumni Teknik Planologi, Institut Teknologi Bandung ini berujar, pada dasarnya ada banyak peluang pendanaan di APBN yang bisa ditarik pemerintah daerah untuk membangun daerah. Tinggal bagaimana pemerintah daerah mau proaktif menjemput itu. Salah satunya dengan membangun koordinasi dengan wakil rakyat Kaltim di Senayan -sebutan DPR RI.

“Semuanya tinggal dikomunikasikan saja. Karena ada banyak anggaran di luar yang menjadi bantuan wajib pusat ke daerah. Kaltim sebagai IKN baru, saya yakin usulan dari daerah pasti akan disambut baik,” tuturnya.

Hetifah cukup menyayangkan masih minimnya perhatian pemerintah daerah terhadap pengembangan pariwisata. Contohnya saja, alokasi anggaran pengembangan pariwisata di Provinsi Kaltim setiap tahunnya hanya berkisar diangka Rp 5 miliar. Sedangkan APBD Kaltim mencapai Rp 11-13 triliun.

“Informasi yang saya dapat, anggaran pariwisata Kaltim cuman Rp 5 miliar per tahunnya. Harusnya pariwisata mendapatkan dana yang lebih besar,” katanya.

“Kalau mau berjuang ke pusat, saya kira bisa lebih dari itu. Tinggal bagaimana menyiapkan bahan presentasi dan perencanaan pariwisata Kaltim yang mau disampaikan ke pusat,” tegas perempuan lulusan School of Politig and International Studies,Flimders, University, Adelaide Australia.

Berau Harapkan Dukungan Pembangunan Infrastruktur

Pariwisata
Infrastruktur jalan yang tidak memadai menjadi salah satu tantangan bagi pengembangan infrastruktur di Kaltim.(Saiful Anwar/Kaltim Post)

Wakil Ketua DPRD Berau Syarifatul Sya’diah mengakui, untuk mengembangkan pariwisata di tempatnya memang tidak mudah. Masih ada banyak sarana dan prasarana yang mesti dibangun dan dibenahi. Antara lain infrastruktur jalan, transportasi, fasilitas perhotelan, hingga SDM.

Perempuan kelahiran 3 Juli 1968 ini mencontohkan, infrastruktur jalan menuju Kecamatan Talisayan saat ini kondisinya cukup rusak. Padahal jalan itu menjadi salah satu akses penting menuju lokasi tersebut.

Di Talisayan sendiri diketahui terdapat banyak lokasi destinasi wisata. Misalnya wisata pantai mangrove dan wisata air panas. Pemerintah Berau maupun Kaltim diharapkan bisa bersinergi membenahi infrastruktur jalan tersebut.

“Saat ini pariwisata di Berau memang sedang dalam tahap dibangun terus. Cuman kami berharap, ada upaya lain untuk melakukan akselerasi pembangunan itu,” kata politikus Partai Golkar ini.

Untuk membangun akses menuju Talisayan, kata ibu tiga anak ini, setidak-tidaknya dibutuhkan alokasi anggaran sekitar Rp 350 miliar. Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah dan DPRD Berau baru mampu mengalokasikan Rp 150 miliar. Dan itu dianggarkan bertahap masing-masing Rp 50 miliar per tahunnya.

“Kalau jalan menuju Talisayan memang mau bagus, maka dibutuhkan dana sekitar Rp 350 miliar,” sebut  perempuan yang digadang-gadang sebagai calon Bupati Berau 2020 tersebut.

“Kami tentunya sangat berharap ada bantuan dari pemerintah provinsi. Biar akses jalan menuju Talisayan cepat diperbaiki,” tambahnya.

Dari sisi event sendiri, Syarifatul mengakui, hampir di setiap kesempatan dirinya mendorong Pemerintah Berau agar memperbanyak event berskala besar, baik itu event kebudayaan maupun pariwisata. Harapannya akan semakin menarik minat orang berkunjung ke Berau.

Seperti event-event kecil, secara personal sebagai wakil rakyat, Sari sapaan karibnya mengakui juga, kerap melaksanakannya di sejumlah tempat yang jadi lokasi destinasi wisata di Bumi Batiwakkal -sebutan Berau.

Hanya saja ia merasa, jika hanya itu saja, maka masih belum maksimal menarik orang untuk datang berlibur dan menikmati keindahan alam serta laut yang dimiliki Berau.

“Menjadikan Berau sebagai salah satu zona wisata di Indonesia harus terus digalakkan. Kita pengin, pariwisata Berau menjadi sumber ekonomi kerakyatan. Kita mau mengubah Berau selayaknya Bali dan daerah maju lainnya,” ujar dia.

Perempuan yang karib dengan hijabnya ini cukup sependapat dengan Hetifah, jika pemerintah Berau atau Kaltim perlu menyiapkan SDM yang profesional yang akan melayani para wisatawan yang berkunjung ke Bumi Batiwakkal. Baik sebagai tour get (pramuwisata), karyawan hotel maupun yang bakal bekerja di sektor lainnya dalam pengembangan pariwisata Berau.

“SDM harus kita siapkan lebih cepat. Harus kita latih. Semuanya harus smart. Kenapa banyak orang ke Bali, karena ada rasa aman. Saya terus mendorong dilaksanakannya event-event besar. Biar kita menampilkan kekayaan dan ciri khas Berau,” pungkasnya. (*)

Penulis: Dirhanuddin

Tags
Show More

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close