Corak

Ketika Ibukota Pindah ke Kaltim; Bontang Dapat Apa?

ibukota
Diskusi tentang ibukota yaang akan pindah ke Kaltim bersama para narasumber di Onepresso Cafe, Jumat (17/1/20) malam lalu. (istimewa)

Akurasi.id, Bontang – Isu tenaga kerja lokal, potensi pariwisata, dan pengembangan infrastruktur menjadi topik hangat dalam diskusi yang digelar Borneo Muda. Diskusi yang dihadiri para narasumber kondang seperti Mantan Walikota Bontang dua periode Andi Sofyan Hasdam, Kepala Diskominfo Bontang Dasuki, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Bontang Muhammad Aswar, dan Sekretaris Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Bontang Junaidi.

baca juga: Usai Ditanami Pohon Pisang, Dinas PU Kutim Perbaiki Jalan Desa Mata Air dan Bukit Permata

Diskusi yang mengangkat tema ‘Peran Generasi Milenial dan Kesiapan Pemuda Bontang dalam Menghadapi Perpindahan Ibukota Baru’ ini dihadiri puluhan mahasiswa, aktivis, dan elemen pemuda di Bontang.

Diskusi berjalan mengalir. Andi Sofyan Hasdam yang menjadi narasumber pertama membuka diskusi dengan mencoba memprovokasi pikiran para peserta yang hadir.

“Saya rasa diskusi ini momen yang pas untuk mencoba memprovakasi pikiran kita. Dimana isu ibukota baru juga sangat seksi untuk diskusi,” kata suami dari Walikota Bontang Neni Moerniaeni itu.

Secara umum, pria yang juga menjabat sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kaltim ini menggambarkan, perpindahan ibukota negara Indonesia dari Jakarta ke Kaltim justru menguntungkan masyarakat Jakarta. Kondisi yang padat dengan bangunan dan keterbatasan ruang terbuka membuat Jakarta menjadi sesak.

“Itu yang saya bilang. Perpindahan ibukota yang diuntungkan masyarakat Jakarta. Karena memang selama ini persoalan seperti polusi udara, kemacetan dan lain-lain perlahan akan terurai karena ibukota akan pindah dan secara otomatis konsentrasi aktivitas juga berangsur terbagi,” jelasnya.

Sementara itu, Kadiskominfo Dasuki memiliki pandangan lain soal rencana pindahnya ibukota ke Kaltim. Bontang yang sebagai daerah penyanggah dipaksa harus siap menjemput momentum ini dengan kesiapan keterampilan.

Sebab, dengan dijadikannya Kaltim sebagai ibukota, maka Bontang akan menjadi jantung industri baru di Indonesia.

“Harus ada gebrakan program ke depan. Program yang bersifat sustanable. Saya melihat, kita butuh program peningkatan keterampilan yang bersifat jangka panjang dan harus ada keterlibatan perusahaan di Bontang. Sehingga, ketika aktivitas industri berlangsung di Bontang, kita sudah siap dan tidak menjadi penonton,” jelasnya.

Sektor wisata menjadi isu yang digaungkan Muhammad Aswar. Ketua HIPMI ini menilai, Bontang akan kebanjiran wisatawan tatkala ibukota sudah pindah di Kaltim.

“Paling simplenya adalah akan ada ribuan PNS dari Jakarta yang pindah ke Kaltim. Dan mereka butuh tempat wisata. Saya rasa, Bontang harus membenahi tempat wisata dan mengembangkannya. Karena ini jelas akan jadi potensi pendapatan bagi kota,” jelasnya.

Lain Aswar, lain juga Sekretaris KAHMI Bontang Junaidi. Dia berharap, para pemuda di Bontang bisa mengambil andil dalam hiruk pikuk wajah baru Kaltim ke depan sebagai ibukota.

MAHYUNADI

“Ini menjadi tantangan bagi generasi milienal di Bontang. Seberapa siap kita saat Bontang menjadi kota penyangga. Sebab, menurut riset, para anak muda secara umum masih bergantung pada orangtua. Ini yang harus kita kikis,” ujarnya.

Diskusi pun dilanjut dengan tanya jawab oleh para audiens. Presedium Borneo Muda Rina mengaku, seminar ini sengaja digelar karena memang selama dirinya konsen dengan isu perpindahan ibukota baru. Apalagi, Borneo Muda juga terlibat aktif mendorong adanya nama menteri dari Kaltim.

“Kami berharap, semua mengawal perpindahan ibukota negara baru bisa menguntungkan masyarakat Kaltim. Termasuk para pemuda di Bontang,” pungkasnya. (*)

Editor: Suci Surya Dewi

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close