HeadlineIndepth

Ketika Kaltim Bergantung ke Tiongkok dan India, Ekonomi Kaltim jadi Rapuh, Gampang Anjlok

Ekonomi Kaltim
Sektor pertambangan batu bara masih menjadi penopang utama bagi ekonomi Kaltim hingga saat ini. (Istimewa)

Akurasi.id, Samarinda – Pertumbuhan ekonomi Kaltim dalam beberapa tahun terakhir dapat dikatakan sedang dalam performa terbaiknya. Hal itu seiring dengan membaiknya harga jual batu bara di pasar Internasional. Di sisi lain, permintaan terhadap produksi batu bara Kaltim dari negara lain juga terbilang cukup stabil.

Baca Juga: Anggaran Serat, Puluhan Proyek Multi Years di Kutim Ikut Macet

Akan tetapi hal itu tidak lantas membuat ekonomi Kaltim akan baik-baik saja. Ibarat iklim yang selalu berganti. Setiap waktu dapat berubah. Hal serupa pun berlaku bagi ekonomi Kaltim. Pertumbuhan ekonomi yang bertopang pada sektor pertambangan dinilai sangat rawan.

Contohnya saja, ketika harga jual batu bara mengalami turbulensi pada 2015-2016, pertumbuhan ekonomi Kaltim mendadak terjun bebas. Akibatnya, hampir semua perusahaan pertambangan ramai-ramai memiliki jalan mem-PHK dan merumahkan puluhan hingga ratusan karyawannya.

Hal serupa juga dikhawatirkan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Kaltim, Tutuk SH Cahyono. Menurut dia, memang tidak ada yang salah dengan menjadikan sektor pertambangan sebagai penopang ekonomi. Hanya saja, dia mengaris bawahi, tumbuh baiknya industri pertambangan batu bara sangat bergantung dari stabilitas ekonomi dunia.

Artinya, kapan saja harga jual batu bara bisa turun drastis. Karena sulit diprediksi, Tutuk sapaan karibnya, menyarankan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltim untuk mulai menggali secara serius sektor ekonomi lain di luar pertambangan batu bara maupun minyak dan gas (migas).

“Pertumbuhan ekonomi Kaltim tahun ini memang sudah bagus. Ekonomi nasional juga stabil. Kalau pun ada turun, hanya kecil. Tetapi pertumbuhan ekonomi Kaltim perlu jadi perhatian,” ucap dia mengingatkan Pemprov Kaltim untuk terus menggali sektor ekonomi lain di luar pertambangan saat bertemu awak media di salah satu rumah makan di Samarinda, Jumat (7/2/20) siang.

Tutuk menyebutkan, bercermin dari pertumbuhan ekonomi Kaltim dalam beberapa tahun terakhir, ada dua hal yang biasanya terjadi. Pertama, ekonomi Kaltim dapat tumbuh dengan begitu pesat. Kedua, pertumbuhan ekonomi Kaltim bisa sangat rendah sekali.

“Ada kontraksi ekonomi. Makanya, pemerintah harus mencari sektor ekonomi lain yang dapat terproses dengan baik,” usulnya.

Mengantisipasi adanya turbulensi ekonomi, Tutuk menyarankan, agar Pemerintah Kaltim menarik investasi tidak hanya pada sektor pertambangan batu bara maupun pada perkebunan kepala sawit. Investasi yang mesti ditarik masuk ke Benua Etam –sebutan Kaltim- menurut dia yakni yang mau membuat industri hilirisasi.

“Harus cari investasi yang memiliki nilai produk atau ekonomi tinggi, yang lebih stabil. Supaya tidak terjadi lagi kontraksi ekonomi seperti yang terjadi pada 2015 lalu,” katanya.

Merujuk data BI Kaltim pada triwulan IV 2019, perekonomian Kaltim tercatat tumbuh 2,67 persen. Lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 6,31 persen. Hal tersebut didorong oleh perlambatan kinerja sektor pertambangan yang secara langsung menurunkan nilai ekspor Kaltim.

Ada beberapa komponen yang mempengaruhinya. Antara lain, berdasarkan lapangan usaha, ada tambang menyumbang pertumbuhan 2,82 persen atau memiliki andil 1,34 persen, industri menyumbang pertumbuhan 0,09 persen atau memiliki andil 0,02 persen, kemudian konstruksi menyumbang pertumbuhan 0,88 persen atau memiliki andil 0,07 persen.

Kemudian ada juga pertanian yang menyumbang pertumbuhan 2,21 persen atau memiliki andil 0,15 persen, dan perdagangan menyumbang pertumbuhan 7,12 persen atau memiliki andil 0,38 persen. Sedangkan dari sisi pengeluarannya, ekspor luar negeri (LN) menyumbang 10,75 persen atau memiliki andil 5,14 persen.

Selain itu, pembentukan modal tetap bruto (PMBT) menyumbang pertumbuhan 5,22 persen atau memiliki andil 1,40 persen, kemudian konsumsi rumah tangga (RT) menyumbang pertumbuhan 2,09 persen atau memiliki andil 0,38 persen, dan terakhir konsumsi pemerintah menyumbang pertumbuhan 13,69 persen atau memiliki andil 0,76 persen.

“Porsi pertambangan memang masih sangat dominan sekali untuk ekonomi Kaltim. Untuk konsumsi rumah tangga sedikit relatif turun. Berbeda dengan nasional, cenderung lebih stabil. Kaltim ini relatif kecil, jadi enggak terlalu berpengaruh terhadap ekonomi,” jelasnya.

Tujuan Ekspor Didominasi India dan Tiongkok

Pangsa pasar bagi kegiatan ekspor batu bara maupun crude palm oil (CPO) atau minyak sawit mentah Kaltim masih sangat bergantung kepada negara Tiongkok dan India. Masih tingginya permintaan terhadap batu bara dari Kaltim, dikarenakan di kedua negara itu masih cukup masif mengembangkan kelistrikan berbasis tenaga uap.

Tutuk pun tidak menepis hal itu. Menurut dia, Tiongkok dan India adalah dua negara penyumbang terbesar yang mendorong pertumbuhan ekonomi Kaltim dalam beberapa tahun terakhir, utamanya dari sisi kegiatan ekspor. Baik itu batu bara maupun CPO.

Ekonomi Kaltim

Namun di balik semua ketergantungan itu, Tutuk mengingatkan agar Pemprov Kaltim juga ekstra waspada. Sebab, kedua negara itu juga perlahan-lahan mulai beralih ke energi terbarukan. Artinya, secara perlahan tapi pasti, India dan Tiongkok bakal terus mengurangi permintaan batu bara dari Indonesia, termasuk Kaltim.

“Walau saat ini permintaan batu bara masih cukup stabil, tapi baik Tiongkok dan India, memang sedang mendorong energi terbarukan. Ketika ketidakstabilan permintaan mulai terjadi, maka itu akan mendorong ketidakstabilan bagi ekonomi Kaltim juga,” jelasnya.

Dari sisi produksi baru bara, diakui Tutuk, untuk produksi yang bersumber dari Perjanjian Karya Pertambangan Batu Bara (PKP2B) dalam beberapa terakhir cenderung menunjukkan tren penurunan. Sebaliknya, untuk produksi dari izin usaha pertambangan (IUP) menunjukkan tren peningkatan.

“Sekarang, peningkatan ekspor batu bara lebih didorong karena adanya peningkatan produksi batu bara dari IUP. Kalau untuk PKP2B cenderung turun,” sebutnya.

Sengketa Malaysia dan India Dorong Ekspor CPO Kaltim

Di balik konflik diplomatik antara Malaysia dan India soal Kasmir berimbas pada meningkatnya permintaan CPO dari Indonesia, tidak terkecuali dari Kaltim. Pasalnya, dalam konflik itu, India memutuskan membatasi permintaan CPO dari Malaysia.

Hal itu juga diakui Tutuk. Kepada awak media, pria berbadan tambun tersebut menyebutkan, permintaan ekspor CPO Kaltim saat ini mengalami peningkatan. Hal itu seiring adanya permintaan dari India yang selama ini menjadi pangsa pasar terbesar CPO Kaltim setelah negara Tiongkok.

iklan-mahyunadi-MAJU-KUTIM-JAYA

“Saat ini, pasarnya India lumayan bagus. Terutama setelah adanya ketegangan antara Malaysia dan India,” ujarnya.

Kendati demikian, Tutuk tetap meminta Pemprov Kaltim tidak terlena. Sebab menurut dia, stabilitas ekonomi kapan saja bisa berubah. Karena India maupun Tiongkok kapan saja bisa menurunkan permintaan ekspor CPO dari Kaltim. Apalagi saat ini tengah muncul sentimen kerusakan lingkungan dari sejumlah negara di Eropa sebagai dampak perkebunan kelapa sawit.

“Sangat penting saat ini mendorong hilirisasi industri pertambangan maupun CPO. Harus diupayakan adanya hilirisasi ke produk lain. Supaya ketergantungan akan tambang bisa dikurangi pelan-pelan,” sarannya.

Selain mendorong hilirisasi industri, sektor yang cukup potensial untuk dikembangkan di mata Tutuk yakni pariwisata. Dia berpendapat, Kaltim memiliki potensi yang luar biasa untuk sektor pariwisata. Baik itu dari sisi kebudayaan maupun wisata alam dan pantai. Tinggal bagaimana menyiapkan infrastrukturnya.

“Kalau menurut saya, pariwisata adalah sektor yang cukup bagus dan menjanjikan bagi Kaltim jika memang mau dikembangkan secara serius. Kalau batu bara dan CPO inikan, sangat bergantung dari stabilitas pasar internasional,” ucapnya. (*)

Penulis/Editor: Dirhanuddin

Tags

Artikel Terkait

Lihat Juga
Close
Back to top button
Close
Close