HeadlineIndepth

Ketika Listrik Jadi Barang Langka di Pedalaman Kutim, Ekonomi Mandek, Gelap Tiada Berkesudahan

Listrik Pedalaman Kutim
Setrum listrik seolah menjadi barang mahal dan mewah bagi sebagian desa di pedalaman Kutim. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Sangatta – Memiliki jaringan listrik 24 jam seolah menjadi mimpi yang teramat sulit diwujudkan masyarakat yang tinggal di daerah pedalaman Kabupaten Kutai Timur (Kutim). Lantaran, sejak dimekarkannya kabupaten itu pada 1999 silam, masih ditemukan adanya sejumlah desa yang hingga kini belum mendapatkan penerangan.

Baca juga: Ketika Kaltim Bergantung ke Tiongkok dan India, Ekonomi Kaltim jadi Rapuh, Gampang Anjlok

Menilik data PLN pada 2019 lalu, dari 141 desa yang tersebar di 18 kecamatan di Kutim, tercatat baru sekitar 72 desa yang mendapatkan pelayanan listrik dari PLN. Sedangkan 69 desa lainnya adalah non PLN, dapat berupa genset perorangan, suplai listrik perusahaan, atau listrik desa.

Masih banyaknya desa non PLN itu memang seolah benar adanya. Ketika media ini bertandang ke Desa Muara Pantun, Kecamatan Telen hingga ke Desa Rantau Sentosa di Kecamatan Busang, Senin (9/3/20) lalu, masih mendapati jika di daerah itu memang belum terlayani listrik.

Untuk sekadar menerangi gelapnya malam, masyarakat mengandalkan mesin genset pribadi. Dalam 2 tahun terakhir misalnya, sebagian dari warga Desa Muara Pantun mengharapkan setrum dari tenaga surya atau solar cell.

Pengurus Masjid An Anur, Desa Muara Pantun, Nasrun (54), yang ditemui media ini mengungkapkan, jika desa tempat dia tinggal memang sudah sejak lama tidak pernah mendapatkan setrum listrik, baik dari PLN, listrik desa, maupun bantuan dari perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah itu.

“Kalau di tempat kami, listrik (PLN) memang belum ada sama sekali. Sekarang ini, masyarakat hanya menggunakan mesin genset atau tenaga surya untuk memenuhi kebutuhan listrik setiap harinya,” kata dia.

Pada dasarnya, Nasrun mengakui, jaringan listrik telah mulai dibangun pemerintah pada 2018 lalu. Hanya saja hingga dengan di 2020 ini, kelanjutan atas pembangunan tersebut tidak pernah ada lagi.

Kala itu, sambung dia, Pemerintah Kutim pernah menjanjikan, setelah tiang dan jaringan listrik dibangun, maka paling lambat November 2019, Desa Muara Pantun sudah bisa teraliri listrik. Namun hingga awal 2020, janji itu tidak kunjung direalisasikan.

“Jaringan listrik memang sudah masuk. Tetapi meteran yang ke rumah-rumah warga belum ada yang dipasang. Kami sudah menunggu itu, tetapi belum juga direalisasikan sampai sekarang,” imbuhnya.

Untuk memenuhi kebutuhan listrik masjid misalnya, Nasrun menyampaikan, itu didapatkannya dari panel surya. Listrik dari tenaga surya itu pun sangat terbatas. Sekadar untuk memenuhi kebutuhan setrum setiap kali melaksanakan salat.

Sementara masyarakat lain yang telah beranak pinak di Desa Muara Pantun mengandalkan mesin genset untuk mendapatkan listrik. Demi menutupi biaya yang mahal, maka untuk satu genset berukuran cukup besar, dimanfaatkan sekitar 2 hingga 3 rumah tangga.

“Biasanya untuk beberapa rumah memang menumpang listrik di rumah warga yang punya genset. Dinyalakan pukul 18.00 Wita sampai pukul 23.55 Wita. Itu sudah paling lama. Kalau pagi ke sore listriknya mati,” tuturnya.

Ungkapan senada juga disampaikan Mus Muliadi. Lelaki paru baya yang telah lama menetap di Desa Muara Pantun itu mengatakan, ketiadaan layanan listrik di desanya menjadi persoalan pembangunan yang sudah sangat lama dikeluhkan masyarakat.

Selama 5 tahun terakhir, usulan demi usulan ke pemerintah agar memenuhi penerangan di Desa Muara Pantun dan daerah sekitarnya di Kecamatan Telen, telah berulang kali disampaikan. Hanya saja, hingga saat ini belum juga dapat diakomodir.

“Jaringan listrik dan mesin (genset) sudah ada. Tetapi hingga kini tidak kunjung difungsikan. Kami berharap listrik di desa kami dapat segera menyala. Karena kami ingin merasakan juga listrik yang layak seperti masyarakat lain,” ketusnya.

Muliadi cukup berkeyakinan, ketika listrik telah masuk dan melayani masyarakat secara maksimal, apalagi hingga 24 jam, maka berbagai kegiatan ekonomi di Desa Muara Pantun akan tumbuh dengan sendirinya. Sehingga kehidupan masyarakat juga semakin membaik.

“Kalau listrik sudah melayani masyarakat, kami yakin kesejahteraan masyarakat di Telen akan meningkat. Ekonomi kami juga akan semakin membaik ke depannya,” ucap dia.

Rantau Sentosa hingga Long Bentuq Pun Alami Masalah Serupa

listrik pedalaman kutim
Untuk sekadar menerangi malam, masyarakat di pedalaman Kutim mengandalkan mesin genset atau tenaga surya. (Ilustrasi)

Krisis setrum listrik juga ikut dirasakan masyarakat Desa Rantau Sentosa dan Long Bentuq, Kecamatan Busang. Sebagai bagian desa terluar di Kabupaten Kutim, listrik memang seolah sudah menjadi barang yang cukup mahal untuk didapatkan masyarakat di wilayah itu.

Layaknya Desa Muara Pantun, ketiadaan listrik di Desa Rantau Sentosa, pun sudah berlangsung sejak lama. Hidup dalam gelapnya malam, bagi masyarakat Telen, sudah seperti hal yang biasa. Lewat berbagai kegiatan Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) di tingkat desa dan kecamatan, sedianya usulan pembangunan jaringan listrik nyaris tidak pernah luput setiap tahunnya.

Namun hingga kini, usulan itu diakui anggota BPD Desa Rantau Sentosa, Darwis, hanya jalan di tempat. Padahal setrum listrik sudah sangat dibutuhkan masyarakat. Sebab dengan ketiadaan listrik itu membuat banyak kegiatan masyarakat juga ikut mandek.

“Kami sudah cukup lama mengusulkan pembangunan jaringan listrik di desa kami. Tapi hingga saat ini belum direalisasikan. Kalau listrik sudah ada, maka itu akan sangat menekan biaya ekonomi masyarakat. Tidak adanya listrik membuat kami susah mengembangkan ekonomi,” imbuhnya.

Suarti, warga Desa Rantau Sentosa lainnya juga mengeluhkan hal yang sama. Pemanfaatan listrik dari mesin genset cukup menguras biaya. Sekadar menikmati listrik dari pukul 18.00 Wita hingga pukul 23.30 Wita setiap bulannya, dia dan warga lainnya harus mengeluarkan biaya Rp250 ribu hingga Rp350 ribu.

“Kalau listrik dari mesin genset ini sangat terbatas. Hanya menyala dari pukul 18.00 Wita. Terus jam 23.30 Wita sudah mati. Untuk kebutuhan sekitar 2 ampere (440 watt) kami harus bayar Rp235 ribu sampai Rp300 ribu,” ungkapnya.

Dengan biaya yang telah dikeluarkan itu, Suarti dan warga Rantau Sentosa lainnya, pun acap kali mendapati listrik desa yang mengalir ke rumah mereka terputus bila mesin genset desa sedang bermasalah. Karenanya, dia dan warga lain memang sudah dilatih untuk banyak bersabar dengan sulitnya setrum listrik.

“2018 lalu, kami sempat dijanjikan pemerintah, katanya saat itu, listrik di Rantau Sentosa dan sekitarnya sudah masuk. Sampai sekarang, tidak ada juga. Kami hanya dijanji-janjikan, tetapi tidak pernah direalisasikan,” ketus perempuan berjilbab tersebut.

iklan-mahyunadi-MAJU-KUTIM-JAYA

Cerita serupa juga diutarakan Frederik warga Desa Long Bentuq. Dia mengutarakan, listrik desa di tempatnya memang sudah ada. Hanya saja, sudah 11 bulan lamanya, masyarakat tidak pernah lagi mendapatkan setrum listrik. Hal itu menyusul rusaknya mesin genset desa yang jadi pembangkit listrik.

“Kami sangat memohon dan meminta (kepada Pemerintah Kutim) untuk dapat membantu memperbaiki pelayanan listrik di desa kami. Karena sudah selama 11 bulan terakhir, desa kami gelap, tidak dialiri listrik lagi,” pintanya.

Baik Nasrun, Mus Muliadi, Darwis, Suarti, dan Frederik, memiliki mimpi jika desa mereka mendapatkan layanan listrik sebagaimana masyarakat di Kecamatan Sangatta Utara, Bengalon, Muara Wahau, atau Sangkulirang yang telah terlayani listrik 24 jam.

Sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Kutai Timur, mereka pun berharap, adanya keadilan dan pemerataan pembangunan dari pemerintah, utamanya dalam pemenuhan layanan listrik. Karena keberadaan listrik akan sangat berpengaruh atas kemajuan pembangunan di daerah mereka. (*)

Penulis/Editor: Dirhanuddin


Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close