CorakHeadline

Kisah Masniar Donggo, Pengrajin Batik yang Menyulam Artefak Telapak Tangan Karst Sebagai Motiv Batik Khas Kutim

Masniar Donggo ketika menunjukkan hasil karya batik di galeri miliknya. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Akurasi.id, Sangatta – Batik merupakan salah satu budaya khas Indonesia yang wajib dilestarikan. Hal ini menggugah Masniar Donggo, pemilik Sanggar Batik Galuh Kartini di Sangatta untuk mengembangkan karya seni batik tulis. Dia pun berinovasi memadukan batik klasik dengan sentuhan motif modern.

Usaha batik yang dilakoni Masniar –sapaannya—diakuinya sedikit demi sedikit mengalami perkembangan. Ibu tiga anak ini mengaku bersyukur meski kondisi ekonomi saat ini diterpa badai defisit. Namun perlahan tapi pasti, perempuan paruh baya ini yakin bisnis batiknya akan membaik dengan keuletannya. Ini yang menginspirasinya untuk terus melanjutkan usahanya tersebut.

Pada 2010 silam, perusahaan Kaltim Prima Coal (KPC) dan Pemerintah Kutim mulai menggalakkan kembali kerajinan batik sebagai kesenian khas Kutim. Masniar pun mendapatkan pelatihan dan pendampingan usaha membatik.

Lambat laun, pada 2011 Masniar pun fokus mengembangkan batik agar dilirik pasar dagang. Saat itu, tercetuslah ide untuk menggabungkan motif batik klasik dengan nuansa modern. Dia berinovasi sendiri dan terlibat proses mendesain batik motif kontemporer dan pewarnaan. Sementara untuk proses mencanting dikerjakan 2 karyawannya bahkan dia terkadang turun tangan.

“Alhamdulillah untuk motif saya mendapatkan penghargaan sebagai pencipta produk Batik Telapak Tangan Kutim. Telapak tangan ini simbol dari Karst Mangkalihat,” jelas Masniar saat ditemui Akurasi.id di sanggar batik miliknya, Rabu (2/10/19).

Demi menghidupkan kembali kesenian membatik, Masniar pun rajin mengikuti berbagai ajang pameran. Baik lokal di Sangatta maupun provinsi bahkan tingkat nasional. Menurut dia, dengan mengikuti pameran, selain dapat menambah relasi juga kesempatan mencari referensi dari kesenian batik daerah lain.

Berdayakan Kayu Ulin Sebagai Pewarna

Masniar saat melakukan proses mencap motif Akaroros di kain. (Ella Ramlah/Akurasi,id)

Masniar pun menjelaskan, warna batik khas Kutim adalah soga (cokelat). Warna ini didapat dari pohon ulin. Dia menjelaskan sejumlah tahap harus dilalui terlebih dulu agar bisa menggunakan pewarna ulin dalam sehelai kain batik.

Langkah pertama, ulin dipotong sesuai kebutuhan sebelum direbus. Untuk satu kain batik dibutuhkan 1 kilogram kayu ulin. Ulin tersebut nantinya direbus dengan 5 liter air. Usai direbus, debit air yang digunakan berkurang menjadi 2 liter saja.

“Untuk bahan tambahan pewarna, dibutuhkan sejumlah bahan lain untuk memperkuat cairan yang akan digunakan untuk membatik. Misalnya seperti kapur dan tunjung,” jelasnya.

Secara umum, perlengkapan untuk membatik dengan bahan ulin ini serupa dengan pengerjaan membatik yang menggunakan campuran bahan kimia. Misalnya, dibutuhkan kain mori yang terbuat dari sutra, katun, atau campuran kain polyester. Perlengkapan lain adalah pensil untuk membuat molani (sketsa, desain) batik, canting, gawang (tempat sampiran kain ketika membatik), lilin cair, panci kecil (untuk tempat lilin) dan kompor kecil (untuk memanaskan lilin).

Masniar menguraikan, tingkat kerumitan membatik dengan bahan ulin ini juga terletak pada batik yang dikerjakan. Artinya, semakin rumit proses bahan membatik yang digunakan, maka semakin lama pula waktu yang dibutuhkan untuk menuntaskan sebuah kain batik. Prinsip ini juga senada dengan model yang digunakan.

Di Sanggar Batik miliknya, batik tulis menjadi pilihan untuk menjaga nilai-nilai kearifan dan keaslian batik. Maka tak heran, harga selembar kain batik tulis yang menggunakan bahan ulin ini harganya lumayan fantastis.

Diakui Masniar, corak batik yang dihasilkan batik tulis tak seapik batik cap (printing) lantaran dikerjakan dengan tangan. Corak dan warna batik tulis pada 2 sisi kain terlihat jelas meskipun corak yang satu dengan yang lain kerap tidak sama.

Batik jenis ini juga memiliki wangi yang khas karena proses pembatikan menggunakan lilin khusus. Makanya harga batik tulis relatif mahal karena pengerjaan selembar kain batik bisa memakan waktu lebih dari sepekan.
“Harganya pasti lebih mahal, karena proses pembuatannya saja sudah rumit pakai ulin,” katanya.

Masniar tak menampik bisnis batik tulis memiliki pasar khusus. Ini yang menjadi salah satu kesulitan menjalani bisnisnya. Pasalnya, harga yang ditawarkan juga khusus. Tak hanya itu, proses pembuatan yang memerlukan waktu lebih lama dibanding batik cap menjadi salah satu kendala. Namun, hal itu tak membuatnya patah semangat.

“Keistimewaan batik tulis memang di situ. Proses yang rumit dan panjang,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (5 Reviews)

Tags

1
Tinggalkan Komentar!

avatar
1 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
1 Comment authors
Irma Yunita Recent comment authors
newest oldest most voted
Irma Yunita
Guest
Irma Yunita

💕💕💕

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close