DPRD Bontang

Komisi III DPRD Bontang Sidak, Jembatan dan Drainase di Gunung Telihan Jadi Sorotan

Komisi III DPRD Bontang Sidak
Wakil Ketua Komisi III DPRD Bontang Abdul Malik. (Jisa/Akurasi.id)

Akurasi.id, Bontang – Komisi III DPRD Bontang menggelar inspeksi mendadak (sidak) jembatan dan drainase yang berada di wilayah Kelurahan Gunung Telihan, Senin (22/6/20).

baca juga: Minta Warga Direlokasi, DPRD Bontang Menyoroti PT GPK 

Sidak dilaksanakan dalam rangka meninjau jembatan di Jalan Pontianak yang mengalami penurunan konstruksi. Selain itu, drainase di Jalan Asmawarman juga menjadi sorotan DPRD Bontang. Pasalnya jika terjadi hujan deras aliran air di lokasi tersebut diduga tidak lancar sehingga mengakibatkan banjir.

Wakil Ketua Komisi III DPRD Bontang Abdul Malik mengatakan  selama jalan di depan RSUD Taman Husada ditutup dan dialihkan, masyarakat lebih memilih jalan pintas yang berada di Jalan Pontianak untuk menuju jalan utama. Kendaraan yang lalu lalang lalang lebih banyak dari biasanya mengakibatkan kondisi jembatan rusak. Dikhawatirkan jembatan bisa ambruk sewaktu-waktu.

Abdul Malik menyebut diperkirakan anggaran untuk renovasi jembatan tersebut akan menelan biaya mencapai hingga Rp7 miliar.

“Perihal itulah yang membuat kami melakukan sidak. Untuk jembatan tersebut dari sisi perencanaan dan penganggaran sudah ada, malah sudah hampir masuk tahap lelang. Namun seiring perjalanan hal tersebut harus dilakukan penundaan karena rasionalisasi anggaran dikarenakan Covid-19 ini. Anggaran untuk jembatan tersebut kurang lebih Rp6 miliar hingga Rp7 miliar,” bebernya.

Kata dia, adanya portal sebelum memasuki jembatan tersebut awalnya inisiatif dari masyarakat. Namun beberapa kali dilakukan pemasangan kerap kali hilang sehingga pemerintah mengambil inisiatif untuk membuatkan portal yang terbuat dari kayu ulin.

“Adanya portal tersebut dikarenakan jembatan tersebut mengalami pergeseran penurunan konstruksi  dikarenakan seringnya truk bermuatan melalui jembatan tersebut mengingat usai jembatan yang sudah cukup tua. Jika tidak salah seingat saya jembatan itu merupakan CSR salah satu perusahaan swasta pada tahun 1992, jadi usia jembatan tersebut kurang lebih sekitar 28 tahun,” tuturnya.

Sedangkan sistem drainase di Jalan Asmawarman, ketika curah hujan turun dengan deras, aliran air dari Terminal Bus Bontang dan arah Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) turun ke Jalan Asmawarman sehingga menyebabkan genangan air dengan debit yang besar.

“Sehingga ketika terjadi hujan sudah pasti banjir hingga selutut orang dewasa. Hal tersebut dikarenakan drainasenya pada jalan tersebut kurang berfungsi dengan baik,” ujarnya

Abdul Malik menyebut, seharusnya ketika terjadi hujan drainase seharusnya diarahkan menuju ke arah jembatan sehingga jatuhnya air pembuangan langsung ke sungai. Namun aliran air dari arah PLTD tidak menuju ke sungai namun berkumpul di tengah jalan tersebut. Ditambah aliran pembuangan dari arah terminal.

“Drainasenya kurang bagus, belum lagi banyak pinggiran drainase yang dicor warga untuk membuat jembatan lintasan kendaraannya dari jalan ke rumah. Walaupun air mengalir pada drainase tersebut namun tidak bisa menampung debit air,” pungkasnya. (*)

Penulis: Jisa
Editor: Suci Surya Dewi

Tags

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close