Hard News

Korsleting Listrik, Pemicu Terbesar Kebakaran di Kutim

Korsleting Listrik, Pemicu Terbesar Terjadinya Kebakaran di Kutim
Salah satu penyebab kebakaran karena menumpuk peralatan listrik dalam satu terminal. (Istimewa)

Akurasi.id, Sangatta – Korsleting listrik masih menjadi penyebab utama kebakaran di Kutai Timur (Kutim). Instalasi listrik yang semrawut diduga menjadi salah satu penyebabnya. Hal itu merujuk data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kutim.

Dari catatan dinas tersebut, sejak Januari hingga Maret 2019, terjadi 15 kali kebakaran. Jika dirinci, sebanyak 8 kasus akibat korsleting listrik, 4 kasus kelalaian manusia, 3 kasus ledakan kompor, dan 1 kasus lahan. Penyebab kebakaran di Kutim tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Yakni sekira 60 persen kebakaran disebabkan korsleting listrik.

Kepala Seksi Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran Kutim, Kasmir mengurai sejumlah penyebab kebakaran di Kutim. Antara lain instalasi listrik yang serampangan, penggunaan kabel tidak sesuai standar, penumpukan peralatan listrik dalam satu terminal, tidak rutin melakukan pemeliharaan dan perawatan listrik, serta menyambung aliran listrik secara langsung di tiang listrik.

“Rumah-rumah warga ‘kan rata-rata rumah lama. Jadi kemungkinan kondisi kabelnya sudah tua atau kemungkinan kabel yang digunakan tidak sesuai standar yang telah ditetapkan yang biasa disebut SNI (Standar Nasional Indonesia),” jelasnya belum lama ini kepada Akurasi.id.

Korsleting Listrik, Pemicu Terbesar Terjadinya Kebakaran di Kutim
Kasmir. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Kata Kasmir, upaya memperkecil intensitas kebakaran di Kutim dapat dilakukan dengan kerja sama antara pemerintah dan masyarakat. “Penertiban akan efektif bila dilakukan secara terpadu dari semua pihak,” sarannya.

Warga Tak Tertib Aturan

Pejabat Pelaksana Keselamatan dan Kesehatan Kerja Lingkungan (K3L) Unit Layanan Pelanggan Perusahaan Listrik Nasional (PLN) ULP Sangatta, Unesia Drajadispa membenarkan hubungan singkat arus listrik sebagai pemicu terbesar kebakaran di Kutim. Tetapi dia tidak setuju jika kesalahan dialamatkan kepada PLN.

Unesia menilai, perilaku masyarakat menjadi penyebab kebaran di Kutim. “(Pelanggan) mengganjal MCB (miniature circuit breaker) yang sering anjlok dan perilaku tidak safety yang intinya tidak sesuai aturan,” jelasnya, Senin (11/3/19).

Menanggapi penyebab kebakaran yang menimpa warga di Sangatta Utara, Unesia menduga, kabel terbakar disebabkan tidak kuat menahan beban arus listrik.

“Kemungkinannya bisa macam-macam sih. Bisa jadi karena penggunaan kabel yang sudah tak laik. Intinya kurangnya kesadaran warga dalam penggunaan listrik yang aman,” terangnya.

Korsleting Listrik, Pemicu Terbesar Terjadinya Kebakaran di Kutim
Unesia Drajadispa. (Ella Ramlah/Akurasi.id)

Penggunaan kabel yang tak sesuai standar menjadi salah satu faktor seringnya kebakaran di Kutim. Pasalnya, kabel tersebut tidak dapat menahan beban arus listrik yang besar. Jika digunakan terus-menerus, kabel yang tidak tahan beban arus akan panas serta membuat lapisan karet yang menyelimutinya terbakar dan meleleh.

Kabel tak sesuai standar adalah kabel yang dibuat dengan kualitas rendah dan diproduksi dengan cara tidak memerhatikan aspek keselamatan dan keamanan. Bentuknya, bisa kabel tak bermerek alias abal-abal dan kabel bermerek tetapi palsu.

Selain itu, pihaknya menemukan penggunaan listrik secara semrawut di pemukiman padat penduduk. Sebagian warga menggunakan satu jaringan listrik untuk beberapa rumah.

“Ada rumah warga yang langsung nyambung listrik ke rumah warga lainnya. Apalagi yang barakan. Itu langsung kami tindak dengan memutus dan (mengenakan) denda,” tegasnya.

Perlu Penertiban Berkala

Wanita berhijab ini mengatakan, PLN melaksanakan pengawasan penggunaan dan penyambungan listrik di setiap rumah. Perusahaan negara itu belum melakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Bentuk pengawasan itu yakni PLN memantau jumlah penggunaan listrik di rumah-rumah warga.

“Biasanya, jika ada penggunaan listrik yang mencurigakan, baru kami awasi,” kata Unesia.

Program penertiban baru sebatas sosialisasi penggunaan dan penyaluran listrik yang benar. “Namun, sosialisasi ini kami laksanakan secara rutin. Supaya warga bisa lebih waspada terhadap bahaya kebakaran karena korsleting listrik,” tutupnya. (*)

Penulis: Ella Ramlah
Editor: Ufqil Mubin

5/5 (4 Reviews)
Tags

Artikel Terkait

Tinggalkan Komentar!

avatar
Back to top button
Close
Close