HeadlineHukum

Kronologis di Balik Kasus Siswi SMA di Sangatta yang Dihamili Kakak Kandungnya

Seorang siswi di SMA di Sangatta hamil 5 bulan setelah disetubuhi kakak kandungnya. (Ilustrasi)

Akurasi.id, Sangatta – Kasus hubungan seksual sedarah atau inses yang dilakukan kakak beradik di Desa Singa Gembara, Sangatta Utara, Kutai Timur (Kutim), mulai terungkap ke permukaan. Dari hasil penyelidikan yang dilakukan Polres Kutim, terungkap bahwa hubungan seksual menyimpang yang dilakukan Melati (19) dan Sukono (23) -nama samaran- sudah berlangsung dari setahun lalu.

Baca Juga : Seorang Pelajar di Sangatta Diduga Hamil dari Hasil Hubungan Sedarah

Kasat Reskrim Polres Kutim AKP Ferry Putra Samodra menerangkan, sebelum hubungan sedarah antara Melati dan kakaknya Sukono terjadi akhir tahun lalu, diketahui jika Melati sempat mendapatkan perundungan atau diolok-olok oleh teman sesama sekolahnya.

“Melati ini sekolah di Sangatta. Pas lagi pulang, dia sering di-bully sama (pelajar) yang lain. Kemudian setiap pulang sekolah, akhirnya dirayu-rayu lagi sama kakaknya (Sukono) ini (untuk berhubungan badan). Itu awal muasalnya,” ungkap dia kepada Akurasi.id, Senin (7/10/19).

Belakangan diketahui, Melati memiliki sembilan saudara. Sukono adalah kakak pertama dari Melati. Selama ini, antara orangtua Melati dan anak-anaknya yang lain tinggal terpisah rumah, namun bersebelahan.

Untuk meluluhkan perasaan Melati, Sukono mengancam si adik tidak akan membiayai sekolahnya jika tidak mau melayaninya berhubungan badan. Sebab selama ini, semua biaya sekolah dan kehidupan Melati diketahui dibiayai Sukono.

“Pelaku bilang kepada korban, kalau korban enggak mau (melayani berhubungan seks), maka pelaku mengancam tidak akan membiayai sekolahnya,” beber dia.

Kepada petugas kepolisian, kedua kakak beradik itu mengaku telah melakukan hubungan badan layaknya suami istri itu, sejak akhir 2018 lalu. Dalam rentan waktu 11 bulan terakhir, sudah tidak terhitung Sukono menyetubuhi Melati.

“Kakaknya (pelaku) ini sudah menyetubuhi korban berkali-kali, sampai korban hamil 5 bulan. Terakhir (mereka berhubungan badan) sekitar bulan (September) lalu,” terangnya.

Pada awalnya, Melati sempat menolak permintaan si kakak untuk berhubungan badan. Namun tekanan yang dia terima, membuatnya terpaksa melayani nafsu birahi si kakak.

“Awalnya hanya dirayu-rayu, tetapi lama-kelamaan mungkin (Melati juga pada akhirnya) suka,” sebut perwira balok tiga ini.

Persetubuhan pertama kali terjadi di rumah keduanya tinggal. Begitupun dengan persetubuhan lainnya, semua dilakukan di tempat yang sama. Perilaku seks menyimpang dilakukan kakak beradik itu pada saat kerabat keluarga yang lain sedang tidak berada di rumah.

“Pelaku ini memang belum menikah. Masih bujangan. Setiap harinya, pelaku ini bekerja sebagai seorang buruh sawit,” jelasnya.

Saat ini, kasus hubungan seksual menyimpang itu telah diproses pihak kepolisian. Pelaku juga telah ditahan dan sedang menjalani proses pemeriksaan lebih lanjut dari pihak penyidik.

“Pelaku sudah kami tahan dua hari setelah laporan itu masuk ke kami pada Kamis lalu, (3/10/19). Saat ini, berkas perkaranya sedang kami lengkapi,” sebutnya.

Tutupi Kehamilan dengan Mengaku Sakit Kista

Terungkapnya kasus seksual sedarah ini berawal dari kecurigaan ibu RT dan pihak sekolah terhadap kondisi Melati yang ganjil. Sejak sebulan terakhir, selain karena sudah jarang keluar rumah, setiap ke sekolah Melati selalu terlihat mual-mual.

Perilaku Melati yang kerap mual di sekolah juga sampai ke telinga ibu RT di tempat Melati tinggal. Mendapati laporan itu, ibu RT kemudian berinisiasi menanyakan kepada Melati. Namun saat itu, Melati memilih menutupi kehamilannya. Dia hanya mengaku sakit kista.

“Orangtuanya (Melati) juga enggak tahu pada awalnya. Mereka hanya berpikiran, ‘masa anak kandung sama-sama kumpul melakukan perbuatan aneh-anehkan. (Berhubungan seks) enggak mungkin,” ujar AKP Ferry menirukan perkataan orangtua Melati.

Belakangan, orangtua Melati mengetahui kalau anaknya memang sedang berbadan dua, bukan kista sebagaimana yang dia katakan. Kehamilan itu pun diketahui setelah ibu RT memeriksakan kondisi kesehatan Melati ke salah satu rumah sakit, terutama setelah Melati mengaku hanya mengidap penyakit kista.

“Awalnya anak (Melati) ini mual-mual, kemudian dicek baru ketahuan kalau dia hamil. Ketika ditanya, awalnya enggak mengaku,” katanya.

Melati baru mengakui dirinya hamil setelah kasus tersebut dilaporkan ke Polres Kutim. Setelah ditanyakan berulang kali oleh penyidik, Melati akhirnya mengakui kalau dia memang hamil dan bapak dari anak yang dikandungnya tidak lain adalah si kakak, Sukono.

“Pengakuan dari kakaknya (Sukono) juga sama, mirip-mirip dengan yang dikatakan korban (awalnya dia merayu-rayu Melati dan mengancam tidak menyekolahkannya). Selain karena kakaknya ini juga merasa nafsu dengan si adik,” terangnya.

Korban Bakal Mendapatkan Pendampingan Psikologis

Ibarat pepatah, nasi sudah terlanjur jadi bubur. Saat ini, remaja perempuan yang masih duduk di bangku kelas III SMA sudah berbadan dua. Sebagai upaya pendampingan, Melati akan mendapatkan penanganan psikologis dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DPPA) Kutim.

“Untuk sementara ini, korban masih bersama kedua orangtuanya. Tapi nanti akan diberikan pendampingan dari dinas terkait untuk memulihkan psikis dan kelanjutan masa depan korban,” kata AKP Ferry.

Sementara itu, Sukono kini terancam dijerat Pasal 81 dan Pasal 82, Undang-Undang (UU) nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak, dengan ancaman pidana penjara 15 tahun. (*)

Penulis: Ramlah dan Muhammad Aris
Editor: Yusuf Arafah

5/5 (4 Reviews)

Tags

Tinggalkan Komentar!

avatar

Artikel Terkait

Back to top button
Close
Close